Kolom Joni H. Tarigan: SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, DI TELAPAK KAKI BAPAK ADA APA?

0
306

joni hendra tariganUngkapan surga di bawah telapak kaki ibu tentunya kebanyakan orang sudah tidak asing lagi. Kebanyakan orang juga menyadari bahwa di telapak kaki itu bukanlah arti sesungguhnya. Ada makna yang mendalam yang kita pahami yang merasa dilahirkan oleh seorang ibu.

Saya sendiri memahami bahwa ungkapan itu hendak mengatakan, sejatinya seorang ibu itu akan mencurahkan seluruh kehidupannya untuk anaknya, untuk kehidupan yang lebih baik. Seorang ibu tentu akan mengharapkan masa depan yang terbaik untuk anak-anaknya. Seorang ibu sejatinya menjalankan istilah Latin  “ORA ET LABORA” yang diartikan sebagai “BERDOALAH dan BEKERJALAH”.

Kasih sayang ibu itu bukanlah keindahan untaian kata, tetapi kasib ibu itu memang menentukan masa depan seorang anak manusia. Terlahirnya seorang bayi ke dunia ini tentunya tidak bisa tidak melibatkan peran seroang bapak (ayah). Sehingga, kembali ke topik surga, jika ibu bisa memberikan surga kepada anaknya, lantas apa yang bisa diberikan oleh bapaknya?

surga 6

Saya, dalam waktu luang saya, mencoba merenungkan apa yang bisa saya berikan untuk kehidupan ini, kepada orang lain. Orang lain yang terdekat saya adalah istri dan anak saya.  Saya adalah seorang yang harus bekerja (pekerja) dan dalam waktu yang bersamaan saya juga adalah seorang bapak, seorang suami, seorang anak. Ketika saya berkeluarga dan memiliki keturunan, tentu saja saya tidak bisa memilih, menjadi ayah, suami, anak atau pekerja. Semua itu satu paket.

Bulan Desember 2015 sedang berjalan, artinya tidak lama lagi tahun 2015 harus segera berakhir. Sudah 3 tahun saya menjadi suami, sudah 2 tahun 4 bulan saya menjadi bapak, sudah 30 tahun saya menjadi anak, dan sudah 6 tahun saya bekerja di perusahaa energi swasta. Saya memang tidak bisa memilih salah satunya saja, semuanya selalu saya usahakan untuk terus memperbaiki setiap posisi saya.

Sebagai seorang suami dan seorang bapak, tentu saja, sebagai bagian dari masyarakat patrilinial, saya berusaha keras untuk bisa menghidupi keluarga saya. Menghidupi tentu saja tidak hanya masalah ekonomi atau nafkah.  Jika surga tadi di bawah telapak kaki ibu, maka tangga menuju ke surga itu haruslah dibangun oleh seorang bapak.

Untuk terus bertumbuh seorang bapak itu harus juga mencurahkan kasih sayangnya surga 2untuk anaknya. Seorang bapak harus memberi bekal kepada anaknya agar mampu melewati tangga kehidupan ini. Betapapun badai menerpa saat anak menjalani hidupnya sampai ia menjadi dewasa, akan ditentukan seberapa kuat otot kehidupan yang diberikan oleh sang ayah.  Maka, tidakkah kekuatan otot hidup itu merupakan bagian penting untuk generasi penerus kita?

Bagi saya pribadi, saya sangat menyadari bahwa kekuatan anak saya mengarungi kehidupan ini tergantung dari bagaimana saya menanamkan agar si anak berfikir logis dan kritis. Saya tentu akan merasa sangat berdosa dan bersalah, jika anak saya tidak saya didik untuk berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.  Memberikan segala apa yang seorang anak inginkan begitu saja, sejatinya bukanlah cara untuk menunjukkan kasih sayang kita. Saya ingin anak saya akan mampu melintasi badai kehidupan ini, dan tentu itu butuh karakter yang berjuang.

Mendekati akhir 2015, pekerjaan saya semakin padat. Saya pun selalu berjuang dan menevaluasi kinerja saya. Dalam waktu yang bersamaan saya juga menevaluasi diri saya sebagai bapak dan suami, juga sebagai anak dan menantu.  Sebagai seorang ayah, tentu saya bukan lelaki sejati jika saya terpuji profesianal dalam pekerjaan saya, akan tetapi anak saya kehilangan makna kehidupan ini karena terkubur oleh surga 3halusinasi GADGET. Saya juga bukanlah seorang pria idaman, jika hasil kerja selalu saya poles, akan tetapi istri yang sudah memutuskan hidup mendampingi saya merasa lebih bahagia arisan di sosial media. Cinta dan kasih itu butuh perjuangan untuk mewujudkannya.

Banyak teman begitu terpuji  di tempat kerja, saya tentu mengiginkan hal yang sama, akan tetapi saya tidak mau kehilangan waktu memberi makna kehidupan sebenarnya kepada anak saya. Kadang saya berfikir, “jangan-jangan maju tidaknya NKRI ini salah satunya adalah seorang ayah yang sangat profesional dalam karirnya, akan tetapi gagal menjadi seorang ayah untuk anak-anaknya, dan gagal menjadi pelindung bagi istrinya”.

Hidup memang membutuhkan uang, akan tetapi keindahan hidup ini tidak akan terbeli dengan gelimpangan harta. Jika saja 50% keluarga Indonesia itu merasa bahagia, tentu akan sangat mudah mengendalikan NKRI ini. Ah …. NKRI yang luas, membicarakanmu tentu tidak ada tepinya, tetapi kuyakinkan padamu NEGERI anak yang kusayangi akan menuntunmu menuju NKRI  lepas landas.

Bagi kita para bapak-bapak yang mencintai negeri ini, percuma anda berteriak nasionalime, jika anak anda tidak merasa anda adalah seorang bapak yang diidolakan. Percuma kita bersorak ‘Keadilan Sosial’, jika di rumah saja kita tidak adil. Percuma kita berteriak “perikemanusiaan” jika terhadap ibu dari anak-anak kita selalu menahan rasa sakit hati karena kita melindungi hak dan kewajibannya.

Mari bangun negeri ini, dengan mencintai keluarga kita lebih dahulu. DI BAWAH TELAPAK KAKI AYAH, ADA TANGGA MENUJU TELAPAK KAKI IBU (SURGA).

Leave a Reply