Mengapa Golput di Medan Setinggi Itu? (80%)

1
184

Oleh: Maja Barus (Medan)

 

Maja BarusPersoalan Golput di perkotaan dengan di pedesaan sangat berbeda. Kalau kita lihat di pedesaan, persentase Golput itu sangatlah rendah dibandingkan di perkotaan.

Tingginya tingkat Golput tidak bisa langsung kita simpulkan sebagai tanda rendahnya kepedulian masyarakat terhadap Pilkada. Golput tidak hanya masalah memudarnya kepercayaan terhadap penguasa, tetapi juga terkait dengan sistem pelaksanaan Pemilu.

KPU harus memiliki terobosan baru untuk membuat sistem yang lebih memudahkan semua pemilih.

KPU juga harus mempermudah pemilih yang merantau atau sedang berhalangan dan membuat terobosan baru dalam bidang teknologi sebagai bentuk pengawasan dalam pemilihan agar pemilih yakin dengan hak suaranya tidak untuk dipermainkan (Unek-unek para perantau).




1 COMMENT

  1. Alasan lain dari berbagai interviu di Medan mengapa golput dalam pilkada kali ini ialah katanya karena setelah milih, yang dipilih lantas tak lama kemudian masuk penjara, dan malah yang disalahkan yang milih pula. Salah pilih katanya. Pemilih kan tidak tahu apakah setelah dipilih akan korupsi dan masuk penjara.

    Di Sumut memang sudah jadi kebiasaan masuk penjara setelah terpilih, begitu gubernurnya dan banyak bupati/walikotanya, juga DPRDnya.

    Menjengkelkan memang jadi orang serius memilih di Sumut, selama Sumut masih jadi daerah terkorup di Indonesia/dunia.

    Dari segi lain “KPU juga harus mempermudah pemilih yang merantau atau sedang berhalangan dan membuat terobosan baru”. Satu waktu dimasa depan walaupun masih jauh, trobosan baru ini misalnya dengan pemilihan online, terutama bagi yang berhalangan datang.

    Tetapi pesta demokrasi memilih bersama di TPS saya rasa perlu tetap dipakai dan disemarakkan, dan karenanya juga perlu dibikin jadi hari libur. TPS sebagai tempat bertemu selain dengan calon juga sesama pemilih dalam rangka memeriahkan pemilihan sebagai pesta demokrasi dan pesta keterbukaan bagi publik, bukan sebagai pesta money politik lagi seperti masa lalu-lalu.

    Kalau ada keterbukaan tanpa money politik, tak soal kalau pemilih berbeda dalam mengikuti partai-partai politik yang berlainan. Perbedaan jadi lebih klar dan sebagai dasar utama bagi publik bikin prinsip ‘mengakui dan menghargai’ perbedaan yang ada dalam pikiran dan sikap politik masing-masing.

    Pemilihan adalah gambaran nyata berbagai perbedaan yang ada itu, begitu juga terlihat dari hasilnya. Semua memilih ‘bebas dan rahasia’, tingkatnya masih begitu. Artinya lain dengan keterbukaan di DPR dimana tiap mulut/pembicara sudah diketahui siapa atau dari partai mana. Apakah satu waktu akan begitu juga di TPS (‘bebas dan rahasia’ sudah hilang), masih ada waktu kita untuk melihat perkembangannya.

    Perubahan ke arah itu pasti berangsur akan terjadi, dan pemilihan akan jadi sumber kegembiraan bagi publik dan rakyat pada umumnya (berlainan dengan di DPR bukan pesta), selain meningkatkan kesedaran dan pengetahuan yang lebih luas soal demokrasi secara umum dan demokrasi etnis/daerah/kultur yang menjurus ke penggalian kekuatan tersembunyi dalam KEARIFAN LOKAL tiap daerah kultur di Indonesia dan dunia, dalam menyelesaikan tiap persoalan rumit sosial/kemanusiaan yang menimpa penduduk tiap daerah.

    MUG.

Leave a Reply