Kolom M.U. Ginting: MENGAPA GOLPUT?

0
114

M.U. Ginting 2Menurut Maja Barus, Golput tidak hanya masalah memudarnya kepercayaan terhadap penguasa, tetapi juga terkait dengan sistem pelaksanaan Pemilu. Alasan lain dari berbagai interview di Medan mengapa banyak Golput dalam Pilkada kali ini di Medan ialah, katanya, setelah memilih yang dipilih lantas tak lama kemudian masuk penjara, dan malah yang disalahkan yang memilih pula. Salah pilih katanya.

Pemilih kan tidak tahu apakah setelah dipilih akan korupsi dan masuk penjara.

Di Sumut memang sudah jadi kebiasaan masuk penjara setelah terpilih, begitu gubernurnya dan banyak bupati/ walikotanya, juga DPRDnya. Menjengkelkan memang jadi orang serius memilih di Sumut, selama Sumut masih jadi daerah terkorup di Indonesia/ dunia.

Dari segi lain, “KPU juga harus mempermudah pemilih yang merantau atau sedang berhalangan dan membuat terobosan baru”. Satu waktu di masa depan walaupun masih jauh, terobosan baru ini misalnya dengan pemilihan online, terutama bagi yang berhalangan datang.

Tetapi, pesta demokrasi memilih bersama di TPS saya rasa perlu tetap dipakai dan disemarakkan, dan karenanya juga perlu dibikin jadi hari libur. TPS sebagai tempat bertemu selain dengan calon juga sesama pemilih dalam rangka memeriahkan golput 2pemilihan sebagai pesta demokrasi dan pesta keterbukaan bagi publik, bukan sebagai pesta money politic lagi seperti masa-masa lalu. Jangan lagi dibikin sebagai pesta berbagai kegelapan.

Kalau ada keterbukaan tanpa money politic, tak soal kalau pemilih berbeda dalam mengikuti partai-partai politik yang berlainan. Perbedaan jadi lebih klar dan sebagai dasar utama bagi publik membikin prinsip ‘mengakui dan menghargai’ perbedaan yang ada dalam pikiran dan sikap politik masing-masing, dan dinyatakan dalam pemilihan.

Pemilihan adalah gambaran nyata dari berbagai perbedaan yang ada. Begitu juga terlihat nantinya dari hasilnya. Semua memilih ‘bebas dan rahasia’, tingkatnya masih begitu. Artinya, lain dengan keterbukaan di DPR dimana tiap mulut/ pembicara sudah diketahui siapa atau dari partai mana. Apakah satu waktu akan begitu juga di TPS (‘bebas dan rahasia’ sudah hilang), masih ada waktu kita untuk melihat perkembangannya. 




Perubahan ke arah itu pasti berangsur akan terjadi. Pemilihan akan jadi sumber kegembiraan bagi publik dan rakyat pada umumnya (berlainan dengan di DPR bukan pesta kegembiraan). Selain meningkatkan kesedaran dan pengetahuan yang lebih luas soal demokrasi secara umum dan demokrasi etnis/ daerah/ kultur yang menjurus ke penggalian kekuatan tersembunyi dalam KEARIFAN LOKAL tiap daerah kultur di Indonesia dan dunia, dalam menyelesaikan tiap persoalan rumit sosial/ kemanusiaan yang menimpa penduduk tiap daerah.




Leave a Reply