Kolom Joni H. Tarigan: Belajar Pintar Merasa

0
138

joni hendra tariganHari ini saya benar-benar belajar  “pintar merasa daripada merasa pintar”.  Pelajaran ini membuat saya langsung memberi langkah pertama untuk memperlakukan orang lain yang sedang berargumen sedang dalam keadaan tertekan dan mungkin panik. Sehingga, sesopan-sopannya saya berucap dan bertindak kemungkinanan akan dianggap tidak sopan dan menyinggung perasaannya.

Itu posisi saya jika mendengar orang lain sedang mengutarakan sesuatu. Di lain pihak, jika saya memang menjadi orang yang sedang tertekan dan mungkin panik, saya akan mengingat ini juga, yakni: “Dia itu orang baik dan santun, jangan sampai kepanikan saya menjadikan ini menjadi buruk.”

Saya memang kalah untuk hal ini karena dianggap tidak sopan, tetapi dia juga membuat saya menang. Memenangkan perasaannya yang sangat marah.  Awalnya ia dengan emosinya menyampaikan: “Dari dulu kamu sok pinter, menggurui. Saya tidak mau lagi ngomong sama kamu”.

Saya terdiam, bukan tidak berani beradu keras berteriak. Akan tetapi saya tersentak karena  ternyata saya dianggap sok pintar, sok menggurui, dan tidak sopan. Saya mawarselama ini memang senang sekali berbagi apa yang sudah saya pelajari dan pahami, dan ketika saya dikoreksi saya juga dengan senang hati menerima perbaikannya. Tentu saya terkejut, karena niat saya baik (menurut saya) ternyata tidak baik bagi orang lain.

Dalam hidup tentu saja selalu ada perbedaan pendapat. Jika saja niat saya baik tentu saya tidak akan menghentikan perbuatan baik itu. Yang perlu saya lakukan adalah terus melakukan kebaikan, dan merubah sikap saya berbagi kebaikan itu. Sehingga saya tidak akan pernah menuntut orang lain berubah terhadap saya, akan tetapi sayalah yang berubah, sehingga kemudian orang lain melihat perubahan itu dan merubah pandangannya terhadap saya.




Saya sangat menikmati perjalanan hidup ini yang memang sangat dinamis. Beradaptasi adalah pilihan bijak terhadap dinamisnya kehidupan ini. Saya menyadari dendam dan mebalas dendam adalah kerugian besar bagi hidup saya. Saya berusaha memperlakukan orang lain itu seperti mawar. Mawar tentu berduri, akan tetapi di bagian lain dari duri itu akan ada kuntum bunga yang sangat indah dan wangi.

Pribadi setiap manusia itu juga seperti itu, setiap orang anda hadapi suatu saat akan mengecewakan anda, akan tetapi orang itu juga pasti memiliki kebaikan. Keputusan ada pada diri kita sendiri, mau melihat mawar itu dari sisi durinya saja, atau mensyukuri duri itu ternyata ada bunganya.




Leave a Reply