Kolom M.U. Ginting: MENGATAKAN KEBENARAN!

0
141

M.U. Ginting 2“Di Jerman banyak orang cerdas, seperti Karl Marx, Mozart, Bethoven, dan filsuf-filsuf lain, kok bisa sebuah bangsa yang cerdas logis dan religius dikalahkan oleh seorang bernama Hittler. Bangsa kita juga begitu, banyak yang budinya halus, ngerti filsafat Jawa, religius tapi tidak berani menyatakan kebenaran dan akhirnya orang yang berkuasa adalah orang yang brengsek, mau jadi pejabat hanya untuk memperkaya diri,” kara Rizal.

Menko ini sangat tepat menggambarkan situasi!

Berbudi halus, religius tapi tak berani menyatakan kebenaran. Perjuangan antara dua pepatah hidup bangsa ini. Antara  ’padi yang berisi selalu runduk’ dengan ’tong kosong nyaring bunyinya’ atau juga ’diam emas, bicara perak’. Dulu tak ragu sama sekali kita akan memilih yang pertama, artinya ’padi yang berisi’ atau ’emas’.

Renungkan lagilah pepatah-pepatah di atas itu, betapa menyolok sekarang akibatnya yang negatif, betapa besar bahayanya kalau dipraktekkan pilihan itu sekarang tanpa menghubungkannya dengan perubahan jaman. Artinya, dengan situasi konkret sekarang di hadapan kita sebagai orang Indonesia menghadapi kenyataan-kenyataan kebenaran 3pahit kelakuan para pejabat negara dan elit politik bangsa ini. Pilihlah ’padi yang berisi’ tanpa berani ngomong menyatakan kebenaran, atau pilihlah ’emas’ itu tanpa berani ngomong mengatakan kebenaran, sangat berbahaya!

MENGATAKAN KEBENARAN, itulah kuncinya sekarang. Mengatakan kebenaran dan membelejeti kebusukan dan tak pernah letih membongkar dan memerangi kegelapan. Rizal Ramli memberikan contoh Hitler di Jerman, dan kita juga ada contoh diktator yang sama.

Kalau pemimpin tak berani ngomongkan dan menyatakan kebenaran: “Akhirnya orang yang berkuasa adalah orang yang brengsek, mau jadi pejabat hanya untuk memperkaya diri.”

Bagi semua kita berlaku: Katakanlah apa yang harus dikatakan. Artinya, menyatakan kebenaran. Tulislah apa yang harus ditulis, dan jika hanya diam tak akan ada perubahan. 

Lebih berbahaya lagi ialah kalau pemimpin yang baik/ halus selalu diam saja, penguasa orang brengsek akan tampil otomatis, dan bisa memperbesar jaringan kekuasaannya sehingga semakin parah saja situasinya bagi pemimpin ’emas’ atau ‘padi berisi’ itu. Ini terjadi dalam era Hitler atau Soeharto. Tidak harus begitu lagi sekarang. 








Leave a Reply