Kolom M.U. Ginting: JUJUR

0
141

M.U. Ginting 2“Sekarang ini era keterbukaan sangat sulit menutupi hal-hal yang misalnya yang enggak baik,” kata Jokowi. Tak susah dipahami yang dimaksudkan dengan ’yang enggak baik’ itu;  ialah seperti diam-diam tanpa sepengetahuan kepala negara bikin perundingan dengan Freeport, soal perpanjangan kontrak atau saham, yang tanpa disengaja akhirnya terbuka juga di hadapan publik. Menteri atau pejabat bersangkutan tentu merasakan ’tembakan’ kata-kata tajam kang Joko ini. 

Bagus sekali Jokowi mengangkat persoalan keterbukaan dengan tujuan dan sasaran tertentu, mengingatkan menteri-menterinya untuk lebih baik semua: ”Segera berubah ke arah pemerintahan yang terbuka, open government”.

Pastilah semakin banyak menteri/ pejabat yang semakin berhati-hati soal menyembunyikan kegelapannya karena tak diduga-duga bisa jadi terbuka. Atau dengan perkataan lain, Bapak-bapak ini semakin pessimis bikin kegelapan dan semakin takut bahaya keterbukaan. Tingkatannya masih di sini saja saya rasa, karena meninggalkan sepenuhnya kegelapan bagi sebagian pejabat/ menteri Jokowi jujurbelumlah mungkin. Pengaruh lama Neolib duit, duit, duit (korupsi) masih besar dan aktivitas pembaharuan pengaruh/ godaan ini masih akan terus dilancarkan oleh Neolib/ Neocons dalam era baru Abad 21.

Kita masih akan melihat taktik/ strategi baru Neolib Abad 21, karena halangan besar sudah ada yaitu KETERBUKAAN tadi, yang memungkinkan keterlibatan publik dalam semua soal besar kemanusiaan; antara lain tentu saja persoalan Neolib global ini. Mengalihkan isu seperti Peristiwa 1065 dan dengan taktik Fear Factor dengan terror model ISIS juga semakin dimengerti oleh publik negeri ini berkat keterbukaan informasi dunia.

“Hanya dengan pemerintah terbuka kita mampu mendorong partisipasi masyarakat terlibat dari proses pengambilan kebijakan publik, hingga membuka pengawasan oleh masyarakat. Pemerintah terbuka di semua tingkatan membangun legitimasi, kepercayaan publik,” tutup Jokowi.




Indonesia di bawah pimpinan Jokowi telah berada di depan dalam soal keterbukaan dan begitu juga dalam soal demokrasi. Semakin meningkat kwalitas bangsa ini dalam perkembangan dua soal penting itu, keterbukaan dan demokrasi, semakin sulit bagi Neolib (duit, duit, duit, SDA) menerapkan taktik baru PENGALIHAN ISU untuk menaklukkan Indonesia demi akses ke SDAnya.

Belakangan ini, Neolib Freeport sudah mencoba berbagai PENGALIHAN ISU, tetapi hingga saat ini semuanya masih berakibat terbalik, malah menguntungkan bagi pencerahan publik. Tetapi, kewaspadaan masih harus terus ditingkatkan karena kapan saja bisa dibikin pengalihan isu yang baru atau fear faktor yang baru. Bersamaan dengan kewaspadaan ini, kegiatan KETERBUKAAN harus digalakkan sehingga seperti kata Jokowi bisa ”membuka pengawasan oleh masyarakat” dalam wawancara di Istana Negara [Selasa 15/12] sebagaimana dilansir oleh merdeka.com.




Leave a Reply