Kolom M.U. Ginting: KPK Kesayangan DPR

1
171

M.U. Ginting 2Kalau lembaga ini (KPK) sudah jadi ’kesayangan’ DPR dan dibenahi oleh DPR, memang pasti suram, karena DPR masih dianggap sarang ’maling dan penyamun’. Walaupun kepala ’malingnya’ sudah mundur, maling-maling masih berkeliaran di sana. Walaupun Marzuki Alie pernah bilang kalau ’DPR bukan sarang maling’, tetapi berapa orang yang percaya, masih banyak yang menganggap DPR adalah Dewan Penipu Rakyat.

Selama ini, KPK sudah berjalan bagus. Banyak maling ditangkap atau dipenjarakan. Kalau selanjutnya bisa lebih suram, berarti kegelapan semakin merajalela. Para pemimpin yang baik tak cukup hanya baik saja, karena orang baik hanya bisa menjaga dirinya dan memenuhi kebutuhannya. Pemimpin yang baik kalau masih ada, harus ada keberanian untuk ngomongkan kebenaran artinya tak boleh takut menyatakan kebenaran.




Selama keberanian maling-maling itu tak diimbangi dengan keberanian pemimpin yang baik dan berani menyatakan kebenaran, maling tetap menang. Pemimpin yang baik jangan jadi penakut atau coward (pengecut) karena God hates cowards. And the cowards that the Lord is referring to are the men and women who know the truth but refuse to speak it,” kata seorang pendeta Kristen terkenal (Franklin Graham). Menyatakan kebenaran selalu jadi kunci solusi persoalan berat terutama persoalan maling ini. 

Tagan Ginting
Sebuah cuplikan dari kisah DETEKTIF TAGAN GINTING, sebuah buku cerita bergambar dari pelukis Belanda Marjolijn Groustra. Tokoh Tagan Ginting didapatnya dalam perjalanannya ke Dataran Tinggi Karo beberapa tahun lalu. Kisahnya ini pernah dimuat bersambung di Tabloid SORA SIRULO dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Juara R. Ginting) dan kini terlah diterbitkan dalam bahasa Inggris di Amerika.

Kalau KPK terpaksa akan bisa menjalani masa suram karena sudah ditetapkan pengurusnya dengan inisiatif DPR sebagai lembaga terkorup Indonesia. Kesuraman mutlak terjadi kalau UU KPK direvisi sehingga KPK akan berubah jadi badan informasi dan pencegahan korupsi. Artinya, bukan lagi pemberantas korupsi, terutama kalau taringnya (penyadapan) dihilangkan, KPK mandul.

”Dewan Perwakilan Rakyat dan Kepolisian RI dianggap masyarakat sebagai lembaga terkorup berdasarkan survei lembaga kajian nonprofit Populi Center,” (CNN Inddonesia 31/1).  

Satu-satunya yang masih menjadi harapan ialah KETERBUKAAN. Perluasan dan perkembangan cepat proses keterbukaan yang sering bikin kejutan di luar dugaan semua orang seperti kasus Setnov. Siapa sangka kalau pengalihan isu perpanjangan kontrak Freeport ke kasus Setnov malah bisa jadi pencerahan luar biasa bagi publik.

Dari kejadian Setnov ini banyak mata menjadi melek,” kata Daud S. Sitepu (Papua).




Betul dan mantap sekali. Karena itu, dari kesuraman nanti bisa juga malah memancarkan sinar cerah . . . dan lebih cerah lagi, mudah-mudahan. Kontradiksi sebagai tenaga penggerak perubahan dan perkembangan, pasti berlaku juga di sini seperti berlaku di kasus Setnov.

Tetapi seperti yang sudah terjadi selama ini dan terutama belakangan ini, keterlibatan publik harus selalu ditingkatkan dalam memerangi dan membelejeti kegelapan yang dibikin maling-maling itu. Karena Indonesia adalah nomor 1 dalam soal perkembangan keterbukaan, maka kita punya harapan. 

Ayo semua aktif angkat bicara! Jadikan keterbukaan sebagai kontrol publik. Jika hanya diam tak akan ada perubahan!




1 COMMENT

  1. Duit, duit, duit, sumber duit . . . filsafat hidup neolib/neocons juga terlihat telah menjangkit jadi filsafat hidup sebagian pejabat/pemimpin Indonesia seperti ketua DPR Setnov + semua koruptor besar. Menjangkitnya filsafat ini di Indonesia bisa dipahami memang, karena setengah abad neolib menguasai serta menpengaruhi penduduk negeri ini, dan karena itu pula selama itu duit, duit . . . adalah pegangan hidup utama bagi sebagian kaum lapisan atas dan juga menjangkitnya ke lapisan bawah tak terhindarkan.

    Demi duit ini, Neolib/neocons dari dulu sampai sekarang selalu pakai taktik gelap PENGALIHAN ISU dan adu-domba, di Indonesia maupun seluruh dunia. Bedanya dengan pejuang neolib yang terdiri dari orang-orang Indonesia sendiri ialah tak pakai taktik PENGALIHAN ISU, seperti ketua DPR Setnov. Dia langsung saja tanpa mengalihkan isunya, seperti menemui langsung dir Freeport atau kirim ‘tagihan’ langsung ke Pertamina.

    Harus diingat bahwa taktik PENGALIHAN ISU punya beberapa syarat penting:

    1. biaya tinggi (bom canggih, senjata canggih, kudeta canggih, spionase canggih, adu-domba canggih).

    2. kepandaian psikologi tinggi, seperti pengalihan isu 1965 berlangsung setengah abad baru sekarang diketahui. Ini yang namanya pengetahuan psikologi tinggi, ratusan juta orang tak menyedari atau tak mengetahui keberadaan pengalihan isu, hanya yang punya proyek yang memahami dan menguasai betul. Begitu juga pada mulanya dalam proyek terrorisme seperti ISIS.

    3. kepandaian analisa kontradiksi yang sangat luar biasa hebatnya sehingga hasilnya bisa berlaku sangat lama yang juga tak lepas dari pengetahuan psikologi tinggi itu, disini seperti analisa kontradiksi antara kiri dan kanan di Indonesia 1965. Di era modern antara sunni dan shia muslim di timur tengah (proyek ISIS). Terakhir di Indonesia antara berbagai kekuatan yang asyik ngincer duit/saham Freeport, seperti dalam kasus Setnov tercatat Setya Novanto, Sudirman Said, Luhut P, dan M Riza. Tetapi usaha ini gagal dan malah punya efek positif bagi publik negeri ini. Mengapa bisa gagal ialah karena kita sudah berada dalam era keterbukaan seperti dikatakan presiden Jokowi.

    Proyek ISIS untuk mencuri minyak dan menguasai sumber minyak dua negara, selain psikologi tinggi juga dibutuhkan pengetahuan tinggi dalam analisa kontradiksi (berbagai pertentangan tajam dalam mayarakat atau antar negara seperti antara Sunni dan Shia atau Arab dan zionis Israel. Psikologi tinggi dalam rekrut anak-anak muda yang masih naif dan rekrut lapisan kriminal dengan taktik jitu, seperti diberi senjata modern, diberikan kekuasaan untuk bebas melakukan pengadilan/pembunuhan atas orang ’kafir’ dan kristen dan gaji/duit banyak. Siapa orang kriminal yang tak tertarik sama cara ini.

    Terrorism merupakan kenderaan terbaik bagi orang-orang kriminal, atau DR Stanton E Samenow dalam artikelnya “Terrorism as a vehicle for the Criminal Personality” bilang bahwa “Twenty-first century terrorists were not, as is often depicted, responsible productive citizens before they somehow got ‘radicalized’. They were criminals who came to embrace causes that they could use as vehicles in their search for excitement, power, and conquest.”. Karena itu tidak perlu heran kalau ISIS bikin perbuatan-perbuatan yang tak berperikemanusiaan.

    Usaha (proyek ISIS) ini mulanya tentu juga pakai biaya tinggi, tetapi program dan rencana proyek ini sudah dipastikan berhasil, karena kekuatan penjaga sumber minyak (Syiria dan Irak) dan kekuatan yang disiapkan oleh proyek ISIS untuk melummpuhkannya sudah dihitung dengan teliti, kekuatan penjaga minyak itu dimusnahkan dengan gampang saja. Karena itu semua biaya besar yang mulanya dikeluarkan dalam pembentukan ISIS, bisa diganti kembali dengan cepat, setelah menguasai SDA sumber minyak Syiria dan Irak, dimana sekarang duit mengalir seperti sungai tiap menit, antara lain mengalir lewat Turki, penyebat pesawat Putin ditembak karena membom dan menghalangi transport minyak ke Turki.

    Dalam perbandingan, Proyek Setnov sangat miskin dalam 3 soal penting diatas (biaya, pengetahuan psikologi, analisa ilmiah), jika dilihat dari kelengkapan proyek neolib secara umum atau neolib Freeport khususnya. Setnov hampir tak pakai biaya dan juga tak pakai taktik pengalihan isu, tetapi langsung saja minta saham atau duit seperti diatas tertulis.

    Yang bisa jadi pemberi harapan bagi rakyat dunia maupun rakyat Indonesia sekarang ialah berubahnya dunia ke era KETERBUKAAN, sehingga semakin susah bahkan bagi neolib itu sendiri untuk bikin pengalihan isu. Situasi sekarang tak sama dengan situasi abad lalu atau setengah abad lalu.”Sekarang ini era keterbukaan sangat sulit menutupi hal-hal yang misalnya yang enggak baik, ya enggak bisa lah, eranya sudah era keterbukaan seperti ini,” kata Jokowi di Istana Negara, Selasa (15/12, merdeka.com).

    Sekarang dalam era keterbukaan kelihatan sangat lebih susah bikin yang gelap atau ’yang enggak baik’ (Jokowi), seperti pengalihan isu perpanjangan Freeport dialihkan ke kasus Setnov. Pengalihan isu ini malah bikin mata melek bagi banyak orang. Keadaan begini masih belum mungkin pada masa abad lalu apalagi tahun-tahun 60-an. Selain itu Indonesia sekarang telah menjadi negara terdepan dalam soal keterbukaan ini, karena telah bikin banyak orang (publik) jadi melek dan ikut aktif dalam semua aksi mengontrol kerja pejabat dan wakil-wakil rakyat yang mulia dikalangan pencoleng uang negara seperti terlihat dalam kasus Setnov.

    Dulu banyak pencoleng tetapi tetap saja terhormat, sekarang dibelejeti dan mereka tak dipandang terhormat lagi. Itulah hebatnya negeri ini jadi nr 1 dalam soal keterbukaan dan demokrasi dan kontrol publik. ’Kasus Setnov bikin mata melek’ kata DSS, betul sekali memang, semakin banyak saja orang melek. Semakin maju proses keterbukaan, semakin bikin melek banyak orang.

    Kebobrokan Indonesia dibintangi oleh pejabat/pemimpin yang punya 3 sifat penting yaitu, jahat, kuat dan berani. Bisa dikatakan bahwa 3 sifat inilah yang bikin mundur RI atau telah bikin jadi negeri nr 3(4) terkorup didunia sejak jatuhnya Soekarno. Harus juga dimengerti atau direnungkan kembali bahwa 3 sifat dasar ini jugalah (jahat, kuat dan berani) yang telah digunakan neolib untuk menggulingkan Soekarno melapangkan jalan ke SDA Papua.

    Untuk melawan pencoleng atau pejabat/pemimpin yang JAHAT, KUAT, BERANI, perlu pemimpin yang BAIK, KUAT, BERANI. Pemimpin yang BAIK saja tak cukup karena pasti kalah. Pemimpin yang BAIK dan KUAT saja, juga akan kalah kalau tak ada KEBERANIAN untuk mengatakan yang benar. Karena itu hanyalah pemimpin yang BAIK, KUAT dan BERANI yang bisa mengalahkan pemimpin/pejabat yang JAHAT, KUAT dan BERANI. Ini pengalaman setengah abad Indonesia, tak terbantah lagi.
    Disini dua kekuatan bertentangan: baik-kuat-berani kontra jahat-kuat-berani. Kontradiksi ini akan menentukan survival tiap nation, tiap suku bangsa, tiap kultur dan akhirnya pastilah juga nasib dan survial KEMANUSIAAN.

    Salah satu syarat yang menguntungkan pihak pimpinan yang baik, kuat dan berani, ialah adanya sekarang ini era KETERBUKAAN yang memihak, tetapi tidak memihak yang satunya. Keterbukaan telah jadi faktor penting yang memungkinkan semua rakyat ikut ambil bagian dalam semua soal-soal masyarakat dan kekuatan (sinergi kebersamaan) ini tak akan terkalahkan oleh pihak jahat, kuat dan berani.
    Syarat ini tak ada dipihak pemimpin yang jahat, kuat dan berani, karena mereka masih memihak KEGELAPAN yang bertentangan dengan KETERBUKAAN. Syarat dan taktik KEGELAPAN seperti pengalihan isu atau adu-domba yang mereka pakai selama ini dilawan sendiri oleh syarat dan faktor KETERBUKAAN yang semakin tak bisa dikalahkan, semakin mereka lawan semakin menelanjangi kegelapan mereka. Karena itu juga kegelapan pengalihan isu dalam kasus Setnov juga malah bikin keterbukaan, atau bikin tambah banyak orang melek.

    Bisa saja nanti didatangkan martir bandit ISIS bikin macam-macam Fear Factor di Indonesia. Walaupun ini tentu selama duitnya masih bisa mengalir seperti sungai tiap menit dari SDA minyak Syiria dan Irak, dan nakut-nakuti Indonesia dengan bomnya yang terkenal canggih maupun dengan pembunuhan sadisnya. Tetapi dari segi lain kalau ini dibikin, orang malah semakin melek dan semakin tambah melek saja dalam melihat dan memahami tujuannya yang utama yaitu memperpanjang kontrak perampokan di Papua, duit, duit, duit, sumber duit.

    Tak perlu jauh-jauh lagi berpikir dan bikin anlisa mendalam soal ’terrorisme’, yang slama ini sering dikaitkan dengan kesucian agama, ideologi islam, jihadisme, masuk surga dsb dsb. Lihat saja DUITNYA dan SUMBERNYA, itu saja analisanya.
    MUG

Leave a Reply