Kolom M.U. Ginting: SENSASI TAKUT

0
137

M.U. Ginting 2Berita tentang langkah-langkah yang akan dibikin oleh bandit-bandit pencuri minyak ISIS disiarkan dan dibesarkan oleh polisi, atau ’ahli teroris’ Densus tentu yang kabarnya paling tahu soal ’terrorisme’. Kemarin dulu [Senin 21/12], belum diikutkan Panglima TNI. Kemarin [Selasa 22/12], Panglima TNI diselipkan juga dalam beritanya itu. Kan harus ditanya dulu panglima, kalau mau diikutkan dalam berita ’sensasi yang ’hebat’ ini, ha ha ha.

Bahwa ISIS adalah grombolan bandit kriminal pencuri minyak (SDA) sudah jelas bagi semua. Proyek ISIS dibentuk dalam tujuan mencuri dan menguasai SDA seluruh dunia. Cari duit, pendeknya. Cari duit dengan cara-cara tak jujur dan tak adil, cara biasa dilakukan Neolib/ Neocons internasional.

Yang sudah berhasil dengan sempurna ialah mencuri minyak Syiria dan Irak. Indonesia sudah berhasil SEJAK setengah abad yang lalu. Duit yang mengalir dari sumber minyak ini sekarang digunakan di mana-mana untuk mengacau dan menakut-nakuti (bikin fear factor) seperti di Paris itu, tetapi tujuan akhirnya tak lain adalah SDA (duit, duit, duit). Di Indonesia ada tujuan jelas yaitu SDA Papua oleh neolib Freeport.

Dari berita polisi itu terlihat (entah dari mana pula polisi ini dapat berita ’hebat’ itu) atau polisi hanya ngarang saja? Bagi pemilik proyek ISIS perlu untuk menakut-nakuti publik atau bikin adu domba, supaya tak ada halangan dalam perpanjangan kontrak pencurian SDA Papua. Untuk bikin berita-berita ’sensasi’ ini tentu butuh biaya, apalagi kalau harus pakai badan besar seperti jenderal kepala Polri. Tetapi tak soal dalam biaya selama duit masih mengalir seperti sungai tiap menit dari SDA minyak Syiria dan Irak.

Tetapi, apapun berita pengalihan isunya, tujuan utama tetap saja yaitu duit, duit, duit dan sumber duit. Makin banyak duit makin banyak bisa bikin pengalihan isu, karena pengalihan isu memang harus pakai biaya tinggi selain psikologi tinggi dan analisa tinggi tentang kontradiksi (pertentangan) di masyarakat. Makin banyak duit makin banyak isu pengalihan bisa dibikin walaupun pengalihan isu butuh biaya tinggi tetapi masih banyk duit mengalir dari minyak Syiria dan Irak. Makin banyak pengalihan isu bisa diciptakan, makin lapang pula celah masuk ke SDA.

Di Indonesia, yang sudah jelas terlihat ialah emas Papua dimana neolibnya diwakili oleh Freeport. Pengalihan isu di sini sudah berlangsung setengah abad. Lanjutannya ialah perpanjangan kontrak Freeport sudah segera harus dibicarakan, itulah dia soalnya yang mendesak . . .  dan sudah dimulai dengan pengalihan isu Setnov, ditambah berita ’hebat/ sensasi’ jenderal polisi Badrodin yang disiarkan kemarin dan hari ini. 

Pengalihan isu ini bisa juga akan makan korban banyak di kalangan publik dan bisa juga terjadi di kalangan elit politik. Semuanya tergantung mana yang lebih menguntungkan demi perpanjangan kontrak Freeport. Duit dari minyak Syiria dan Irak masih mengalir seperti sungai ke tangan pemegang proyek. Karena itu masih kuat bikin pengalihan isu di mana-mana.

Terrorism is ’made ini the USA’. The global war on terrorism is a fabrication, a big lie” kata prof Michel Chossudovsky, Global Research,August 14, 2015.

Soal menarik lainnya ialah soal korupsi. Dengan melapangkan jalan ke kesempatan bikin korupsi bagi pejabat Indonesia atau negeri mana saja, adalah salah satu taktik lihai/licik dalam memuluskan jalan ke SDA atau sumber duit lainnya. Kesempatan sensasi 2korupsi duit dalam jumlah besar memang sangt menggiurkan bagi banyak pejabat tinggi negara. Karena itu banyak diantara pejabat negeri ini yang sangat senang dengan penggantian pimpinan KPK yang baru.

Selain itu, perkara korupsi ini juga bisa memecah belah pejabat/ penguasa RI, bikin sengketa politik sangat serius, yang dengan sendirinya bisa berfungsi sebagai pengalihan isu total sehingga perpanjangan kontrak Freeport bisa berjalan lancar, seperti pengalihan isu 1965. Bukan hanya memecah kalangan pejabat/penguasa, tetapi juga bisa bikin adu-domba dikalangan rakyat, terutama setelah KPK berhasil dikuasai oleh orang-orang pro korupsi, karena KPK-2 ini adalah buatan DPR dan termasuk Polisi yang keduanya adalah lembaga terkorup di Indonesia. DPR tentu tidak membentuk satu badan (KPK) yang bikin mereka tidak nyaman karena korupsi. DPR sudah merasakan KPK-lama yang menangkap dan bahkan memenjarakan anggota DPR.

Lembaga terkorup di mana saja seluruh dunia adalah lembaga yang dipakai oleh Neolib internasional untuk melapangkan jalan ke SDA tadi. Nanti kita bisa coba lihat atau saksikan berita hebat polisi itu sampai di mana akibat dan kelanjutannya. Artinya, kelanjutan taktik dan usaha berikutnya dari penguasa proyek ISIS Indonesia ini setelah siaran ‘hebat’ polisi itu. Mari kita saksikan lanjutan berita ‘hebat’ polisi kita itu.

Ketua MUI DS pernah bilang juga kalau soal terroris ini sepertinya semacam proyek yang dibutuhkan untuk cari kerja dengan adanya budget spesial dari negara. Bisa dilihat misalnya dari budget densus. Selebihnya dan yang lebih penting tentunya tujuan utama neolib itu: duit, duit, duit, dan sumber duit. Di Indonesia seperti kita sudah ketahui, yang sangat mendesak bagi neolib ialah perpanjangan kontrak Freeport, dan terutama jangan sampai kontrak putus. Ini akan diusahakan dengan jalan apa saja.




Percobaan pertama (kasus Setnov) sudah gagal total. Dalam rangka langkah selanjutnya mencapai tujuan utama ini memang bisa terjadi macam-macam seperti yang diberitakan polisi itu, bisa mendatangkan perpecahan, adu-domba dan sengketa atau fear factor berdarah dalam waktu dekat sehubungan dengan sudah mendekatnya masa pembaruan atau/ perpanjangan kontrak Freeport.

Dan kegiatan ’terroris’ ini bisa berjalan lancar karena tak kurang biaya, terutama karena aliran uang berlimpah dari pencurian minyak di Syiria dan Irak masih bisa dinamfaatkan demi mencaplok SDA negeri lain seperti SDA Papua. Tetapi, dari segi positifnya, apapun yang dilakukan oleh Neolib menyerakahi SDA, belakangan ini semakin kelihatan karena era keterbukaan sudah di sini seperti kata Jokowi: “Sangat sulit menutupi hal-hal yang misalnya tidak baik, ya, tidak bisa.”

“Eranya sudah era keterbukaan seperti ini,” katanya di Istana Negara [Selasa 15/ 12].

Sulit menutupi yang tidak baik, kata presiden Jokowi. Betul memang, karena era KETERBUKAAN itu. Tetapi ada saja yang selalu mencoba ’yang tidak baik’ walaupun eranya sudah lain, ERA KETERBUKAAN.




Leave a Reply