Kolom M.U. Ginting: TERRORISME DAN ARAH DUNIA

0
136

M.U. GINTING 3Dalam soal terrorisme kepala BIN Sutiyoso bilang: “Penanganan masalah ini bukan urusan pemerintah saja tetapi tanggungjawab seluruh masyarakat. Serangan terorisme di tempat kita dan banyak negara, sangat mengerikan, dia tidak mengenal ruang dan waktu, di mana dan kapan di lakukan sulit dideteksi dan siapa sasarannya tidak jelas.”

’Sangat mengerikan’ dan ’siapa sasarannya tidak jelas’, katanya.

Betul sekali kepala BIN ini. Memang, sepertinya tidak jelas sasarannya. Karena itu juga, semua orang jadi takut. Itulah sebenarnya sasaran/ tujuannya yaitu bikin semua orang takut (fear factor) atau ’fearmongering’ pakai istilah seorang ahli terrorisme Peter Koening. Dia bilang: “The eternal profit-making war on terrorKilling is not the issue. Fear is. And fear is the ‘soft’ weapon these elitist powers use to subjugate the people into their willing servants”.

Dengan dipenuhi rasa ketakutan, orang-orang pun jadi tak pernah bertanya siapa sebenarnya di belakang pencipta momok ketakutan ini. Juga tak pernah bertanya apa tujuan sebenarnya dari fearmongering dan killing ini. Orang-orang hanya berubah jadi ’willing servants’. Orang ketakutan gampang dikendalikan, disuruh kemana saja. Itulah psikologi tinggi itu. Walaupun killing bukan the issue tetapi killing ini butuh banyak biaya, karena itu jadi proyek biaya tinggi.




Dari mana uangnya? Kepala BIN Sutiyoso bilang: ”Di Timur Tengah dengan motif memperebutkan minyak.” Salah satu sumber uangnya sekarang ini di Timur Tengah, ya, memang betul ialah SDA (minyak) Syiria dan Irak yang telah dicuri dan diambil alih. Uangnya mengalir seperti sungai tiap menit, uang berlimpah.

SUTIYOSO
Sutiyoso

Apa yang tak bisa dibikin dengan uang banyak begitu? Semua jadi gampang, killing, perampokan SDA lain, suap pejabat tinggi negara, atau adu-domba siapa saja untuk bikin taktik PENGALIHAN ISU seperti kasus Setnov demi perpanjangan usaha Neolib Freeport. Perusahaan ini sudah setengah abad keruk emas Papua. SDA ini tak akan dilepaskan walau dengan bayaran apapun, killing, terror, macam-macam kasus Setnov, pakai mafia minyak, pakai taktik suap pejabat, atau apa saja asalkan SDA Papua itu tidak lepas.

Killing, killing, walaupun killing is not the issue, tetapi di negeri-negeri kaya ’rare minerals’ penduduk sering diusir atau dibantai oleh pengeruk tambang. Seperti Peter Koenig bilang:They were and still are being slaughtered in never ending, western armed civil wars for the sake of exploiting their rich lands for rare minerals such as Coltan, being used for electronics such as cell phones, but foremost by the high precision war industry; precisely these murder weapons that allow the west to dominate and kill for greed and power. They kill for the raw materials they need to kill. A never ending cycle of murderous profit making. The epitome of neoliberal doctrine.”

Itulah sirkulasi pembunuhan yang tak pernah berhenti demi profit tinggi yang bisa diperoleh dari SDA yang sangat berharga sekarang ini, yang dipakai dalam HP dan industri senjata canggih yang memungkinkan dominasi Neoliberal demi GREED AND POWER.

Duit dan power dalam sirkulasi abadi. Duit dipakai untuk mencapai power lebih besar dan power untuk mencapai duit yang lebih besar lagi. Proses sirkulasi abadi duit-power-duit ini dilaksanakan dan dicapai dengan PENGALIHAN ISU biaya tinggi, seperti ’fearmongering’ atau fear factor, killing, false flagging, suap pejabat tinggi negara, menggerakkan dan memudahkan korupsi besar-besaran dikalangan pejabat tinggi, konkretnya sekarang dengan mengebiri KPK sehingga mandul, terrorisme 2sehingga melapangkan jalan bagi pejabat korup untuk korupsi besar-besaran dan otomatis jadi target Neoliberal untuk jadi elit ‘willing servants’. Mereka ini bukan servants biasa tetapi sevants elit di kalangan pribumi.

Sirkulasi abadi lainnya ialah “cycle of murderous profit making”. Untuk melancarkan sirkulasi pertama ‘duit-power-duit’ digunakan berbagai cara apa saja tak pandang bulu, terutama pembunuhan atas orang-orang yang dianggap menghalangi tercapainya profit yang diharapkan dan sudah direncanakan. Contohnya kudeta Soekarno 1965 dengan pembunuhan massal tak ada bandingannya dalam sejarah Indonesia demi pintu masuk ke emas Papua.

“Penanganan masalah ini bukan urusan pemerintah saja tetapi tanggungjawab seluruh masyarakat,” kata Sutiyoso.

Di sinilah memang kuncinya, dengan mengikutkan publik, semua anggota masyarakat dimulai di tiap daerah otonom kultural, dengan mengaktifkan kearifan lokal dalam mewaspadai dan menangani dua sirkulasi Neoliberal yang mematikan itu yaitu the cycle of ‘duit-power-duit’ dan ‘the cycle of murderous profit making’.




Kedua sirkulasi mematikan ini tentu pertama berlaku bagi pusat kekuasaan RI, jangan sampai Presiden RI karena pengaruh duit bisa jatuh ke tangan Neoliberal internasional, dan jangan sampai ada pembunuhan atau penyingkiran penguasa tertinggi negeri ini sehingga seluruh nation jadi ’the willing servants’.

Secara daerah tentu berlaku atau paling bagus dan paling meyakinkan ialah menggalakkan KEARIFAN LOKAL sehingga tiap kepala/ individu di satu daerah otonom ikut ambil bagian dalam penanganan dua sirkulasi Neoliberal yang mematikan itu. Menggiatkan partisipasi seluruh publik dalam satu daerah otonom sudah sangat memungkinkan sekarang ini dalam era internet dan era keterbukaan. Dialog seluruh warga dan informasi ke seluruh warga. Dengan begitu apa saja yang tidak baik sangat cepat seluruh publik satu daerah otonom bisa mengetahuinya, terutama kalau menyangkut hal-hal yang tidak baik.

Kata Jokowi: “Sangat sulit menutupi hal-hal yang misalnya tidak baik, ya, tidak bisa. Eranya sudah era keterbukaan seperti ini.”

Kedua sirkulasi mematikan itu adalah hal-hal yang tidak baik, dan dengan adanya dialog terbuka diantara semua warga/ publik, bisa dipastikan dua sirkulasi itu akan susah berkembang sampai ke tingkat yang bisa mematikan penduduk lokal. Sinergi kekuatan bersama warga lokal dalam kearifan lokal tidak akan terlawan oleh kekuatan apapun. Sinergi itu sudah mungkin karena ada keterbukaan.




Leave a Reply