Kolom M.U. Ginting: BAIK, KUAT, BERANI

0
83

M.U. GINTING 3“Revolusi mental itu harus dimulai dari atas, yang atas mentalnya harus benar, para pimpinan harus secara pribadi baik integritasnya punya orientasi untuk mengabdi, jujur, tulus, berbuat untuk masyarakat,” kata Hary Tanoe sebagaimana diberitakan merdeka.com.

Betul memang, pimpinan harus punya pribadi baik, orientasi untuk mengabdi masyarkat, jujur dan tulus. Itulah idealnya pemimpin. Kalau dikatakan dimulai dari atas ya itulah, dari pimpinan atau seorang pemimpin yang bisa jadi panutan ke bawah terus ke masyarakat.

Ada 2 macam sifat/ kharakter pemimpin, dua sifatyang sangat jelas saling bertentangan. Yang satu pemimpin baik, yang lainnya pemimpin yang buruk/jahat. Yang pertama ini umumnya pro kepentingan rakyat/ nasional, sedangkan yang ke dua pro kepentingan asing/neolib. Jadi, 2 aliran pimpinan ini diwakili oleh 2 kepentingan: kepentingan nasional dan kepentingan asing/neolib.

Seluruh dunia sekarang dan di tiap negara/nation pasti ada 2 macam pimpinan ini yang mewakili 2 macam kepentingan pula. 

Di Indonesia, sudah ada 2 macam pimpinan ini sejak Kemerdekaan. Setelah Soekarno dikudeta, berlaku pimpinan buruk neolib di Indonesia. Sekarang 2 macam tipe pemimpin ini pada saling berjuang di Indonesia, di tingkat pusat kelapa 1maupun di tingkat daerah. Walaupun di tingkat pusat selalu terlihat lebih jelas, dan akan lebih banyak menentukan nasib negeri ini.

Hary Tanoe dinilai dari sifat dan nada kritiknya saya menduga dia masuk dalam kriteria pertama, artinya pemimpin yang mewakili kepentingan nasional. Tetapi ini hanya penilaian sepintas lalu, kita akan melihat perubahan dan perkembangannya. Karena tak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri.

Kalau kita lanjutkan soal pemimpin tadi, setelah ciri pertama yaitu baik/nasional kontra buruk/asing/neolib, akan terikut sifat lain yaitu kuat atau lemah. Sifat lainnya yang juga menentukan ialah kalau sipemimpin itu berani atau pengecut. Bicara soal coward ini pendeta terkenal Franklin Graham bilang “God hates cowards. And the cowards that the Lord is referring to are the men and women who know the truth but refuse to speak it.”

Pemimpin yang baik tapi tak ada keberanian (terutama dalam menyatakan yang benar) akan dikalahkan oleh pemimpin yang buruk/ jahat dan berani. Jadi, pemimpin negeri ini memang harus baik, kuat dan berani, supaya bisa mengimbangi pemimpin yang buruk/jahat, kuat dan berani. 




Satu kelebihan lagi yang sangat menguntungkan bagi pemimpin yang baik ini ialah dalam soal pemakaian keterbukaan. Sedangkan pemimpin yang buruk, kuat dan berani tak akan pernah pakai keterbukaan dalam menjalankan kepemimpinannya. Dia selalu pakai kegelapan. Ini satu syarat yang tak menguntungkan bagi pemimpin tipe ini dalam era keterbukaan sekarang. Secara simpel, KETERBUKAAN bisa juga jadi pertanda baik atau buruk, jujur atau curang seorang pemimpin. Yang buruk/jahat akan selalu tak berani terbuka.

Dalam praktek kepemimpinan dunia sekarang, dan dalam tiap nation, yang pertama diwakili oleh pemimpin rakyat sejati, yang ke dua diwakili oleh pemimpin neolib internasional. Salah satu pemimpin ekonomi neolib ini yaitu Stephen Moore berani menuding Paus Fransiskus setelah selesai khotbah Natalnya kemarin. Dia bilang Paus Fransiskus ’anti-Kristus, anti-manusia, dan anti-kemajuan’.

Pemimpin yang baik tidak akan mencaci maki Paus dengan cara itu. Pemimpin ekonomi neolib Srephen Moore adalah tipe pemimpin yang buruk, kuat dan berani. Paus Fransiskus adalah tipe pemimpin yang baik, kuat dan berani. Dia berani menghadirkan keterbukaan di hadapan 10 ribu orang hadirin Misa Natal di Vatican kemarin + 1,2 miliar umat Katolik seluruh dunia. 

Di Indonesia berangsur kita akan mendapatkan pemimpin yang baik, kuat dan berani. Ini bisa dimulai di pusat dan di semua daerah otonomi kultural nation Indonesia. Atau mengapa tidak dimulai di daerah? Dari daerah ke pusat terus ke global!




Leave a Reply