Kolom W. Wisnu Aji: Mimpi “Negara Hadir” Semakin Nyata di Era Jokowi

1
139

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2015

 

wijayanto 8Jokowi 12015 sudah berakhir hari ini. Banyak dinamika negara yang selalu jadi perhatian publik selama setahun ini. Fenomena wacana “Negara Hadir” dulu hanya sebatas wacana diskusi para aktivis, akademisi bahkan intelektual dalam peran keberpihakan negara terhadap rakyatnya. Tapi, di Era Jokowi inilah wujud mimpi “Negara Hadir” nampak nyata bentuknya.

Jokowi memang sangat fenomenal akhir-akhir ini, Jokowi yang merupakan rakyat biasa, yang bukan keturunan trah darah biru politik nasional, telah jadi episentrum perpolitikan nasional sejak berhasil menduduki Gubernur DKI hingga Presiden RI.

Sosok penampakan Jokowi sebagai presiden rakyat yang sederhana, apa adanya, dan bahkan otentik dalam pandangan rakyat. Karena Jokowi realistis bahwa keterpilihannya jadi presiden bukan dari hasil pelimpahan kekuasaan namun bersumber dari begitu besarnya luapan cinta rakyat dalam menyongsong presiden rakyat yang dipilihnya.

Maka, demi membalas apresiasi publik terhadap dirinya sebagai presiden rakyat, selalu adanya keterlibatan secara massif komunitas publik dalam partisipasi aktif bersama presiden di segala kegiatan yang dilakukan presiden; baik di istana maupun turun langsung blusukan di tengah rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Peran-peran keterlibatan aktif di setiap aktivitas presiden membuat Jokowi tidak berjarak dengan rakyat alias presiden tanpa sekat dengan rakyatnya. Jokowi pun saat blusukan dalam mengakselerasikan pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru tanah Air dipastikan selalu menyempatkan diri bertemu rakyat melalui forum-forum kultural yang mencairkan suasana.

Jokowi 2Dalam dialektika “negara hadir” selalu diterjemahkan sebagai peran-peran negara dalam membantu jadi katalisator permasalahan rakyatnya dan wujud “negara hadir” bukan hanya dalam sisi kebijakan saja yang sampai turun ke rakyat. Akan tapi, melainkan, adalah keinginan presiden sebagai simbol kelembagaan “negara hadir” dapat dirasakan langsung oleh rakyat di tengah-tengah mereka. Jangan sampai simbol presiden hanya jadi menara gading di pusat kekuasaan.

Jokowi mencoba mewujudkannya melalui kerja-kerja kerakyatan tanpa sekat terhadap rakyatnya sebagai representasi simbol presiden rakyat yang selalu berada di tengah rakyat di manapun berada. Blusukan merupakan bahasa “negara hadir”. Dalam setiap momen, presiden ketemu rakyatnya demi menyerap aspirasi kebutuhan rakyat yang paling bawah.




Maka, momentum refleksi Akhir Tahun 2015 dapat dijadikan kekuatan lebih massif lagi dalam menguatkan peran-peran Jokowi dalam mewujudkan “negara hadir” di setiap momen apapun yang dirasakan rakyatnya. “Negara Hadir” harus jadi momen katalisator serta akselerator bagi rakyat untuk melakukan letupan-letupan perubahan menuju Indonesia lebih baik.

Momen “Negara Hadir” diharapkan jadi pemicu dan pelecut rakyat dalam melakukan kemandirian dalam pembangunan; baik ekonomi, sosial maupun kultural yang lebih partisipatoris serta berkelanjutan. Wujud “Negara Hadir” juga bisa jadi pelecut transformasi perubahan dalam berkesadaran demi mendukung program program riil pemerintah.

‪#‎SalamPencerahan‬

Salam Hormat Kami ; CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM )



1 COMMENT

  1. Tabloid SS terlihat telah mengembangkan dirinya sebagai tabloid pencerahan bagi publik yang luas karena banyak penulis-penulisnya yang sudah mengutamakan pencerahan demi pemahamannya dan perluasannya. SS sudah memahami pentingnya pencerahan untuk semua dan dipahami oleh semua. PEMAHAMAN bagi semua ini adalah bentuk nyata revolusi mental dalam abad 21 sehingga pencerahan tingkat akademisi bisa diangkat dan diubah menjadi jpencerahan dan informasi bagi publik yang luas sehingga pencerahan dan info itu bisa berimbas yang lebih besar bagi peningkatan semangat dan pengetahuan bagi semua (publik).
    MUG

Leave a Reply