Sirulo TV: Karo Kembali ke Padi Ladang

0
220

Mery F. SinulinggaMERY F. SINULINGGA. SIMPANG EMPAT. Sekarang ini, baik di Karo Hilir (Karo Jahe) maupun di Dataran Tinggi Karo (Karo gugung), warga Suku Karo mulai berpaling dari padi sawah (page sabah) ke padi ladang (page tuhur). Khusus di Dataran Tinggi Karo, padi ladang biasanya dikombinasikan dengan cabai merah.

Ketika bunga padi mulai berbulir (rumpah), mereka menanam cabai merah di ladang yang sama. Ketika padi sampai pada tahap panen, cabai mulai berbunga. Berbeda dengan padi sawah yang menuntut pemakaian pupuk dan obat-obatan kimia, padi ladang ini bebas dari penggunaan pupuk dan obatan kimia alias organik.

Menurut orang-orang yang menanam padi ladang, ketahanan padi ladang jauh lebih lama daripada padi sawah.

“Memakan nasi dari padi ladang untuk sarapan pagi bisa bertahan hingga Pkl. 13.00 siang, sedangkan padi sawah hanya sampai Pkl. 11.00,”  kata seorang petani padi ladang di Desa Lingga (Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo).

Beberapa warga Karo mengatakan bahwa nasi padi ladang jauh lebih enak dari padi sawah. Selain itu, page tuhur 3alasan lain dari penanaman padi ladang adalah untuk mengembalikan daur hidup (life cycle) pertanian setahun sekali yang berjalan sama dengan daur hidup tahunan dari kampung-kampung tradisional Karo.

Pesta tahunan Karo yang disebut kerja tahun adalah sejenis Tahun Baru di dalam Suku Karo. Hanya saja, relativitas ruang dan waktu berlaku bagi kebudayaan tradisional Karo sehingga sebagian wilayah Karo merayakan Tahun Baru pada saat musim tanam padi ladang (merdang), sebagian lain pada musim panen (rani), dan wilayah di tengah-tengahnya pada saat padi sedang bunting (erbunga benih).

Adapun jenis-jenis padi yang ditanam saat ini adalah varietas lokal; a.l. Bunga Ncole, Si Penuh, Si Lembu-lembu, Si Minak, dan lain-lain.


Dalam sebuah tulisannya, antropolog terkenal dari Amerika Clifford Geertz mengatakan, hingga jaman kolonial, Karo hanya bertani padi ladang secara berpindah-pindah (slash and burn cultivation), kecuali di beberapa dasar lembah yang dialiri sungai dikembangkan sedikit padi sawah. Ini berbeda dengan Suku Batak yang sudah lama sebelumnya mengenal persawahan dengan sistim pengairan teras seperti juga didapati pada Suku Mandailing dan Suku Minangkabau.

Persawahan dengan irigasi modern baru dimulai di Karo (baik Karo Hilir maupun Karo Gunung) oleh Belanda pada tahun 1930 di Batukarang, sebuah desa di kaki Gunungapi Sinabung. Tak lama setelah itu, terjadi gempa bumi terbesar sepanjang sejarah Karo yang dikenal dengan Linur Batukarang atau Nagan Batukarang.

page tuhur 8
Tanaman cabai di sela-sela padi ladang.

Setelah Batukarang, warga Desa Munte mengembangkan persawahan sehingga Munte menjadi lumbung padi terbesar di Dataran Tinggi Karo.

Pencetakan sawah di Batukarang menjadi sebuah tonggak sejarah tidak hanya untuk Karo tapi juga untuk Sumatera Timur. Di sana pulalah awalnya Revolusi Sosial yang dipimpin oleh putra Pahlawan Nasional Sigaramata yang bernama Koda Bangun. Menurut Anthoni Reid, Revolusi Sosial di Batukarang ini menjalar ke bagian-bagian lain Sumatera Timur dimana salah satu korbannya adalah pujangga ternama Amir Hamzah yang merupakan putera mahkota Sultan Langkat.

Kembalinya Suku Karo ke padi ladang apakah tanda-tanda kebosanan mereka terhadap janji-janji jaman modern? Pantesan suku ini sekarang semakin menggebu-gebu dengan jati dirinya sebagai suku bangsa berdiri sendiri.





Leave a Reply