Babakbelurkan Remaja 16 Tahun, Tentara Mabuk Dilaporkan ke Denpom

1
207

imanuel sitepu 3IMANUEL SITEPU. BIRU-BIRU. Rivo Kristian Jordan Depari (16) bersama kedua orangtuanya melaporkan Letkol Cpm Hendri Simanjuntak ke Detasemen Polisi Militer 1/5 Bukit Barisan. Dalam laporannya yang tertuang pada Surat Tanda Terima Laporan Pengaduan (STTLP) No 329/XII/2015/1/5, diketahui oleh perwira piket Pelda Rahiman, pelajar yang masih duduk di bangku Kelas 2 SMA ini mengaku dianiaya oleh oknum TNI yang bertugas di Pusdikpom Kodiklat TNI AD Cibubur (Jawa Barat) hingga babak belur alias medate dalam cakap Karo.


Cerita korban Rivo Depari didampingi ibunya Kariana beru Ginting (43) dan ayahnya Josep Depari (50) ketika ditemui oleh Sora Sirulo di kediamanya Dusun 4, Desa Namo Tualang (Kecamatan Biru-biru, Deliserdang) [Selasa 5/1], penganiayaan yang dialami korban terjadi sepekan lalu [Selasa 29/12: sekira 11.30 wib]. Saat sebelum kejadian, pelaku Hendri Simanjuntak bersama ayahnya yang biasa dipanggil Oppung, mendatangi kediaman korban di Dusun 4 Simpang Namo Pinang. Begitu turun dari mobil Avanza warna hitam, Hendri Simanjuntak lalu menghampiri ibu korban, Kariana beru Ginting yang saat itu sedang menyapu halaman rumahnya. Sambil marah-marah dan dipengaruhi alkohol, kepada Kariana, Hendri Simanjuntak kemudian mempertanyakan keberadaan Josep Depari.

medate 2
Rivo Depar

Karena memang suaminya sedang tidak berada di rumah, Kariana lantas menyuruh anak semata wayangnya, Rivo untuk mencari keberadaan ayahnya. Mirisnya, sekira setengah jam melakukan pencarian, Rivo ternyata tidak bisa menemukan ayahnya. Ia pun memilih kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu. Namun, Hendri Simanjuntak tidak terima dan kembali memarahi Kariana. Melihat ibunya terus dimaki oleh Hendri Simanjuntak, Rivo lantas turun dari kereta lalu menghampiri dan memperingatkan kepada Hendri agar jangan berlaku kasar kepada ibunya.

Melihat Rivo mendekat, Hendri Simanjuntak langsung mengarahkan pukulan bertubi-tubi kebagian kepala, dada dan perut anak di bawah umur tersebut. Bukan hanya sampai di situ, pelaku juga mencekik leher bocah malang tersebut. Begitu Rivo terjatuh ke tanah, perut korban lalu dipijak. Meski anaknya dipukuli di depan matanya, Kariana tidak bisa berbuat apa-apa. Kariana hanya bisa berteriak histeris minta tolong. Mendengar teriakan Kariana, ratusan warga langsung mendatangi kediaman korban, lalu melerai. Sebelum meninggalkan kediaman korban, Hendri Simanjuntak juga sempat menabur ancaman akan membakar kediaman korban.




medate
Bukti laporan Rivo Depari ke Denpon

Sementara menurut Josep Depari saat diwawancarai, penganiayaan yang dialami putra tunggalnya tersebut, berawal ketika beberapa tahun lalu, Josep mengaku mengontrak sebidang tanah milik ayah Hendri Simanjuntak yang terletak di Desa Selamat (Kecamatan Biru-biru). Setelah dilakukan transaksi, Josep Depari yang juga ketua Reclasseering Indonesia Komda Deliserdang ini, lalu menanaminya dengan tanaman ubi kayu. Ironisnya, meski kontraknya belum jatuh tempo, ayah Hendri Simanjuntak malah menyuruh Josep Depari menanaminya dengan 500 bibit tanaman mahoni dan sengon.

Pun demikian, Josep Depari menyanggupi meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menanam bibit mahoni dan sengon tersebut. Ironisnya lagi, walau tanaman ubi milik Josep Depari belum panen, ayah Hendri Simanjuntak malah menyuruh Josep keluar dari kebunnya. Jelas saja Josep mengajukan keberatan. Karena permintaannya tidak dituruti, ia kemudian memanggil anaknya Hendri Simanjuntak berencana untuk menghajar Josep. Namun karena tidak ketemu dengan Josep, Hendri kemudian melampiaskan amarahnya kepada Rivo Depari anak Josep Depari.

“Kalau dibilang masalah sewa kontrak tanah, itu tidak benar. Tidak mungkin aku meninggalkan kebun itu karena ubiku belum panen. Soalnya selama ini, uangku sudah habis Rp. 20 jutaan untuk biaya merawat tanaman ubiku dan menanam mahoni serta sengon miliknya,” beber Josep Depari.




1 COMMENT

  1. Orang Karo harus mengawasi tanah ulayatnya jangan sampai pindah tangan ke pendatang (dari Batak). Karo dan tanah ulayatnya adalah satu, Orang Karo jangan sampai mengalami nasib seperti orang Pakpak dan Simalungun yang sudah tak punya daerah kultur yang utuh. Tanpa daerah ulayat sebagai basis kultur satu suku, tak mungkin mempertahankan kultur dan tanpa kultur pasti sukunya juga hilang. Maju terus Karo Deliserdang jangan dikutak-katikkan oleh pendatang!

    MUG

Leave a Reply