Kolom M.U. Ginting: USUL AMIEN RAIS

2
97

M.U. GINTING 3Usul yang baik dan yang juga mungkn dilaksanakan dari Amien Rais (AR). Banyak memang sudah perubahan dan perubahan akan terus semakin cepat. Tak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. AR sendiri juga banyak berubah, dari menentang jadi mendukung. Bagusnya ialah AR mengikuti arus perubahan itu. Apa yang diusulkan AR ini sudah sangat mungkin dilakukan sekarang ini, dan tak mungkin di abad lalu, apalagi pada era Orba! Ini hanya mungkin di Abad Keterbukaan. 

Bicarakan apa saja yang mendesak untuk mengadakan perubahan, katanya.

Salah satunya ialah soal kepemimpinan nasional itu. Sudah saatnya juga dicerahkan soal ini. Ada 2 macam kepemimpinan yang bertolak belakang sekarang dalam konteks satu nation, yaitu pemimpin yang pro kepentingan rakyat atau kepentingan nasional. Lawannya ialah pemimpin yang memihak kepentingan luar (neolib) dalam pengertian GREED AND POWER.

pemimpinPerjuangan 2 macam pimpinan ini akan menentukan nasib satu nation, nation mana saja di dunia. Begitu juga Indonesia tak terkecuali. Dua pertikaian pimpinan ini terutama bisa sangat menyolok di negeri berkembang yang banyak SDAnya seperti Indonesia, yang malah ada perusahaan neolibnya pula dan yang sudah bercakar dan berakar dalam selama setengah abad di Papua.

AR ingin bicarakan soal pimpinan ini. Tunjukkan sama yang lain, Pak AR; 2 kepentingan yang bertentangan ini, dari 2 macam kepemimpinan yang mewakili 2 macam kepentingan pula. Berani atau tidak Jokowi-JK menanggapi usul AR ini juga jadi ukuran yang sangat menarik bagi perubahan pimpinan nasional kita; lebih kuat atau akan lebih lemah jadi mangsa pimpinan kuat neolib?

Ayo mulailah, Pak Amien! Publik dan seluruh rakyat pasti mendukung. Bikinlah reshuffle yang memperkuat kepentingan nasional, jangan kepentingan neolib.








2 COMMENTS

  1. Diskusi soal leadership ini masih sangat aktual, dan menarik juga. Dalam menilai kepemimpinan AR, “kembali AR tidak menunujukkan kepribadiannya . . . haha opportunis tulen.” kata FP.

    Menarik juga pasti, kepemimpinan ini dilihat dari segi opportunis ini. Dan makin banyak segi-segi peninjauan atas seorang pemimpin pastilah makin bagus. Makin banyak analisa dari banyak segi, hanyalah akan mendatangkan banyak positifnya bagi publik. Sebaliknya tidak akan objektif kalau hanya ditinjau dari satu segi saja. Karena itu makin banyak publik yang bikin analisa dan dari banyak segi, akan selalu jadi analisa yang lebih objektif dan berguna bagi informasi dan pengetahuan publik dan rakyat banyak tentang pemimpinnya. Ini juga adalah salah satu yang penting dalam sistem kontrol masyarakat atas kepemimpinan nasional itu. Jangan diam saja, karena kalau hanya diam tak akan ada perubahan.

    Selain dari segi opportunis, melihat leadership, pemimpin satu nation sangat aktual sekarang juga ialah dari segi ‘kepentingan nasional” atau “kepentingan neoliberal” internasional. Didalam setiap nation dunia sekarang ini terutama dinegeri-negeri kaya SDA perjuangan antara dua kekuatan leadership ini sangat tajam dan menentukan masa depan tiap nation. Hidup matinya satu nation tergantung dari siapa yang kalah dan yang menang dalam perjuangan ini, artinya siapa nantinya yang menguasai nation itu.

    Perjuangan ini memang tak begitu terlihat dinegeri maju seperti Amerika dan Eropah barat, dimana sebabnya saya pikir ialah karena dinegeri maju ini sangat berdominasi leadership neolibaral itu sehingga orang tak melihat segi lain, terutama di USA hampir tak terlihat atau tak pernah kita dengar kepemimpinan nasional yang bukan neoliberal, yang ada ialah yang tunduk kepada atau berada dibawah kekuasaan modal besar neoliberal. Disini pemimpin nasional adalah pemimpin neoliberal itu sendiri tak tergantung dari partai mana. Pengertian lain tak ada, atau belum terlihat. Tetapi di negeri-negeri Eropah Barat sudah mulai terlihat ‘nasionalisme’nya. Ini terlihat dari partai-partai berjiwa ’nationalism’ yang semakin tumbuh besar di negeri-negeri termaju Eropah Barat seperti Inggris dan Skandinavia, Finlandia, Spanyol dll.

    Di Eropah Barat dominasi dan hegemoni kepemimpinan neoliberal ini semakin diperketat belakangan ini, terutama dengan taktik ’fear mongering’ atau ’fear factor’ yang terkenal dengan istilah ’terrorism’, dimana bukan hanya publik tetapi juga pemimpin-pemimpinnya merasa sangat ngeri dengan adanya ancaman tiap menit bagi keamanan nasional dan bagi dirinya sendiri juga. Kita melihat juga bagaimana Kansler Jerman Merkel berubah total jadi berkebalikan akhir-akhir ini, dari sikapnya yang lama ’multikulti has failed totally’ menjadi 100% multikulti. Inggris Cameron tidak begitu terlihat perubahannya, malah terlihat keinginannya keluar dari Uni Eropah terdorong oleh keinginan semakin besar dari rakyat Inggris sendiri. Tetapi terlihat semakin jelas bahwa ’fear mongering’ memberi pengaruh kepada semua pemimpin dunia, juga di Eropah.

    Fear Mongering ini diciptakan oleh kepentingan ekonomi neoliberal, keuntungan besar dari industri perang atau terror based industry. Perkembangan terakhir industri ini didalam satu negara maju seperti USA memang pesat dan hebat, tetapi banyak pemimpin atau publik tidak melihat atau tak urusan, hanya cukup waspada menjaga ketakutannya.

    Saling hubungan yang sangat kompleks antara industri senjata dengan perang/terror sudah banyak di analisa oleh ahli-ahli dan yang paling menakjubkan ialah presiden Eisenhower telah juga melihat gelagat ini dan mengingatkan kepada rakyat/pemimpin Amerika. Dalam pidato penutuupan jabatannya 1961 dia mengingatkan kepada rakyat/pemimpin Amerika, bahwa “an immense military establishment and a large arms industry” had emerged as a hidden force in US politics and that Americans “must not fail to comprehend its grave implications”. “The speech may have been Eisenhower’s most courageous and prophetic moment.” kata prof Jonathan Turley George Washington University. Selanjutnya Turley bilang ”The core of this expanding complex is an axis of influence of corporations, lobbyists, and agencies that have created a massive, self-sustaining terror-based industry.” Karena itu juga Prominent academic and author Dr Michel Chossudovsky warned that ‘the so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA , The global war on terrorism is a fabrication, a big lie’, katanya.

    Di negeri berkembang kaya SDA seperti Indonesia sangat terlihat perjuangan hebat antara dua macam kepemimpinan itu yang mewakili dua macam kepentingan pula. Walaupun kepemimpinan neolib ini masih terbungkus dan tersembunyi tetapi sangat terlihat bagaimana kepemimpinan Jokowi yang jernih mau mengutamakan kepentingan nasional, tetapi secara tersembunyi juga ada kekuatan yang mau mengarahkan ke kepentingan neolib. Sebagian sudah terbongkar dan terbuka bagi rakyat dan publik (kepemimpinan ex ketua DPR Setnov). Bayangkan dia itu adalah KETUA DPR RI yang menganggap Jokowi ‘koppig’, ‘keras kepala’ dan harus diwaspadai, terbukti dalam pertemuan persekongkolan jahatnya dengan perusahaan neoliberal Freeport.

    Pemimpin-pemimpin pro kepentingan nasional di daerah-daerah yang benar-benar mengabdi kepentingan rakyat dan seluruh publik, seperti RK Bandung, Ahok Jakarta, Irma Surabaya, sangat bertentangan gaya kepemimpnannya dengan gaya kepemimpinan luar (neolib), karena itu perlu diberikan catatan ‘fear mongering’, seperti ’bom kecil’ yang diledakkan didekat rumah RK Bandung, yang dalam kegunaan praktis menakut-nakuti. Disini mungkin lebih dekat ialah dengan tujuan untuk menjaga kepentingan kaum koruptor yang masih sangat mendominasi sistem birokrasi negeri ini. Ingat bahwa Birokrasi Korup dalam pemerintahan nasional disemua negeri dunia adalah perwakilan yang sangat mantap dan sangat loyal bagi neolib internasional di negeri itu. Duit dari sumber korupsi atau dari SDA bisa dibagi-bagikan diantara orang-orang ini dan otomatis mereka jadi perwakilan loyal neolib.

    Terakhir terlihat juga bagi semua publik bagaimana ketua DPR Setnov tertangkap basah dalam soal ini. Orang-orang atau pemimpin daerah/kota tipe RK, Ahok,Irma, memang perlu dikasih ’fear monger’ tertentu. Rakitan dulu seperti dekat rumah Kamil itu, sebab kalau dibikin bom canggih malah mendatangkan kecurigaan, dari mana uangnya? Uang berlimpah yang tersedia sekarang hanya dari ISIS yang masih mengalir seperti sungai, Freeport Papua seperti diujung tanduk, dan ’peledak canggih’ hanya dari industri canggih pula. Industri canggih siapa pula? Pasti bukan industri canggih bin Ladin atau industri canggih Santoso di Poso.

    MUG

  2. MENANGGAPI USUL AMIN RAIS: usul amin Rain ttg kepemimpinan nasional…menurut saya adalah kadaluwarsa…..thn 1997..dipenghujung turunnya suharto—massa pernah mendukung Amin rais dlm people power ….namun keburu menjadi pengecut …..dan Suahrto beralih didampingi -oleh tokoh Islam Lib dan ketua umum partai BB. dlm masa presiden megawati —- kembali AR tidak menunujukkan kepribadiannya-dlm masa Gus Dur ..malah ikut menjatuhkan Gus Dur unutk beralih .dlm pilpres 2004 —kembali buru2 mendukung SBY…..haha opportunis tulen.

Leave a Reply