KONSERVASIONIS ALAY

0
171

Oleh: Esra Barus (Medan)

 

Esra BarusTulisan ini berkaitan dengan tulisan saya terdahulu di bulan Mei mengenai ekowisata Karo. Di tulisan itu, saya menunjukkan peningkatan kunjungan wisata ke daerah objek wisata alam yang dimulai dengan munculnya berbagai acara bertemakan petualangan di alam bebas di berbagai stasiun televisi. Sebelum munculnya trend itu, ada kebanggan tersendiri bagi mahasiswa atau siswa yang bergabung di organisasi pecinta alam jika mereka berpetualang dan memakai pakaian atau kaos bertema petualangan alam bebas.

Pada saat itu, organisasi pecinta alam hanya ada di sekolah, kampus dan organisasi kepemudaan. Mereka memiliki stuktur organisasi dan kegiatan yang terstruktur dan kegiatan tersebut memiliki dampak baik terhadap lingkungan mereka.

Namun, sejak adanya tayangan kegiatan alam bebas di televisi, muncul berbagai komunitas pecinta wisata alam di berbagai daerah. Kegiatan mereka hanya berwisata ke alam bebas, berfoto selfie, meninggalkan sampah, vandalisme, dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Bukan tayangan tersebut yang salah namun karena adanya sifat mencari jati diri dan tak ingin kalah dari teman sebaya membuat anak muda mengikuti trend tersebut.

Oleh karena itu, kita tidak boleh heran dengan banyaknya ekowisata yang rusak. Contohnya adalah kebun bunga di Yogyakarta,  pendaki yang hilang, dan pendaki yang tewas. Di era tren seperti ini kita pun hutan 9menganggap hal tersebut sebagai hal biasa terjadi. Pencinta alam dadakan sama sekali tidak mengerti teknik-teknik pendakian ataupun petualangan alam bebas. Mereka biasanya hanya membawa kamera atau gadget sebagai bawaan utama dan indomie “jika lapar”.

 

Konservasi Alay

Alay adalah sekelompok manusia dengan pakaian berwarna mencolok dan memadu padankan berbagai warna dalam satu stelan. Jelas jelas tidak berguna dan tidak sedap dipandang mata. Demikian juga dengan konservasionis alay, mereka berdalih kegiatan mereka membawa perubahan yang baik terhadap alam karena dekat dan seolah-olah mencintai alam. Namun, sebenarnya mereka merusak, meninggalkan sampah di mana-mana dan merasa sudah mendaki seven summit.

Sifat alay tersebut tidak hanya terjadi pada anak muda namun juga pada orang dewasa di pemerintahan dan organisasi kepemudaan. Kegiatan yang biasanya dilakukan oleh mereka adalah penanaman bibit pohon. Namun  motif sesungguhnya di balik kegiatan tersebut adalah uang. Mereka berpikir bagaimana uang dapat mengalir ke kantong masing-masing.

Kegiatan penanaman hanya seremonial sehari., bibit ditanam oleh petinggi pemerintahan atau organisasi. Tanam satu mati seribu. Mungkin itu istilah yang pas. Demi mendapatkan satu sudut foto yang pas, berapa tanaman yang dipijak? Berapa bibit yang dibiarkan terbengkalai? Berapa ton sampah makan siang yang berserakan? Berapa biaya yang dikeluarkan?




Kebanyakan kegiatan penanaman kurang efektif bagi perubahan lingkungan. Kegiatan itu dapat dialihkan ke pemeliharaan pohon atau kebersihan lingkungan.

Daerah Penatapen sampai Tongkeh adalah gerbang menuju  daerah wisata Dataran Tinggi Karo. Tapi, coba kam lihat betapa banyaknya sampah berserakan di jalan, iklan pestisida disalib di pepohonan, ucapan selamat hari raya digantung di pepohonan. Apakan tindakan tersebut menambah daya tarik wisata? Sama sekali tidak.

Ketika kebakaran di Riau puluhan ribu mahasiswa demo untuk menghentikan kebakaran, pasti lebih efektif jika mereka terjun langsung ke lapangan untuk ikut pemadaman. Jelas sekali mahasiswa itu hanya bermental Rp. 50 ribu dan mental nasi bungkus. Pada akhir pekn, ribuan pemuda Medan mendaki Gunung Sibayak sehingga gunung api ini terlihat seperti pasar kaget. Jangan kaget jika Indomart akan hadir di puncak Sibayak.

Kaos-kaos tema wisata alam bebas sudah dipakai dimana-mana. Seharusnya mereka juga ikut dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Jika dulu wisata ke alam bebas terlihat keren, sekarang terlihat alay. Jika kam menemukan wisata alam bagus tidak usah di-share ke media sosial, nanti dirusak anak alay,

Salam lestari, mejuah juah!




Leave a Reply