Panen Padi Ladang di Karo

0
148

rikwan sinulinggaRIKWAN SINULINGGA, SIMPANG EMPAT. Bertani padi beberapa tahun terakhir ini di beberapa tempat di Datran Tinggi Karo menjadi langka, terutana di daerah yang dulunya pertanian jeruk sempat berjaya. Petani seakan-akan tidak peduli dengan harga beras yang terus meroket. Beberapa desa yang dulunya mengandalkan komoditi lain, kini secara perlahan mulai kembali meminati menanam padi ladang (juma tuhur).

Setelah jeruk tidak lagi menghasilkan, tinggal tanaman kopilah yang bisa diharapkan. Selain perawatannya mudah, biayanya juga sedikit. Namun, ketika musim panen tiba, pasti tidak seperti berkebun jeruk yang hasilnya bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah per panen. Kalau kopi, yah, paling hamya jutaan rupiah, cukup buat belanja dapur. Untuk itulah beberapa petani di beberapa desa di Kecamatan Simpang Empat (Kabupaten Karo) mulai berpikir untuk kembali menanam padi ladang.

ngangin 2“Meskipun tidak luas, paling tidak bisa bertahan selama 3 sampai 6 bulan untuk makanan sekeluarga. Kelihatannya, panen padi tahun ini lumayan dilihat dari bulir padinya yang cukup padat dan hasilnya lumayan,” jelas nenek Ribu, yang sedang memanen padinya di Desa Nangbelawan (Kecamatan Simpang Empat).




Aktivitas proses pemanenan padi di Taneh Karo sekarang ini juga sudah jauh berbeda dibanding jaman dulu. Dulu, proses pelepasan bulir padi dari tangkainya hanya mempergunakan kaki (ngerik) atau maspas. Sekarang, rata-rata sudah menggunakan jasa traktor dengan menggilingkan ban traktor di atas tumpukan jerami hingga bulir padi terlepas.

Demikian juga untuk pembersihan bulir padi dari dedaunan atau gabah yang kosong. Dulu menggunakan hembusan angin alami, namun sekarang sudang menggunakan jasa mesin air yang dimodifikasi dengan penambahan kipas mobil. Memang, masih ada juga beberapa petani terlihat mengikuti cara lama dalam proses panen padinya yaitu dengan cara mengangin atau ngangin dalm bahasa Karo.




Leave a Reply