Kolom M.U. Ginting: Lovers vs Haters

0
156

M.U. GINTING 3Artikel Didik Supriyanto di merdeka.com sangatlah menarik dalam mengikuti perkembangan dan diskusi dunia soal definisi perubahan sejarah perkembangan nation dan manusianya. Sebuah artikel dengan jiwa yang sama ditulis oleh Eliane Glaser di The Guardian (Friday 21 March 2014) dengan judul “Bring back ideology: Fukuyama ’s end of history” (lihat di SINI).

Hampir setengah abad sebelumnya, telah ditulis juga tema ‘the end of ideology’ oleh Daniel Bell. Kedua orang ini (Bell dan Fukuyama ) adalah neocons atau neolib, tetapi kemudian keduanya juga mengelak sebagai neocons, terutama Fukuyama setelah kegagalan politik neolib/ neocons Bush/Reagan di Afganistan dan Irak.

Kalau diteliti dengan serius maka sesungguhnya ‘the end of ideology’ maupun ‘the end of history’ mempunyai ideologi yang teguh dan konsekwen pada ideologi neolib, sehingga pernyataan ‘the end’ (ideologi atau history) itu jelas adalah bagian dari hatersmanover baru PENGALIHAN ISU. Istilah ini sudah ramai kita lihat dan bicarakan sekarang di Indonesia dan juga tak lepas dari keberadaan politik/ ideologi neolib itu sendiri di negeri kita, karena adanya perusahaan neolib Freeport .

Dalam menyinggung pengalihan isu ini, juga Eliane Glaser tulis sangat tepat: “They conceal and naturalise the dominance of the right, and erase the rationale for debate”. Debat terbuka dan di atas meja selalu dihindarkan oleh neolib, walaupun usaha ini sudah lebih susah sekarang karena era keterbukaan dalam internet yang terbuka. Contoh aktual ialah kasus Setnov yang mau ditutupi tetapi malah terbuka lebar.

Dari segi pemikiran Didik Supriyanto di Indonesia dengan ‘penghapusan ideologi’ itu telah berakibat bahwa: ”Politik bukan hanya tidak terarah, tetapi juga merusak.”




Betul sekali, memang. Dengan begitu, arah sesungguhnya adalah juga ‘erase the rationale for debate’. Debatnya bukan menambah pemikiran yang lebih berkualitas tetapi hanya jadi ‘lovers’ kontra ‘haters’. ‘Jadi penyalur hasrat kebencian sehingga kita akan menjadi bangsa kerdil: Memusuhi saudara sendiri semata luapan emosi yang tiada henti’, terhadap figur tertentu atau ide tertentu  yang berkaitan dengan diskusi atau debat itu.

Dengan kata lain, kalau hanya penyalur hasrat kebencian, maka diskusi tak bermanfaat untuk menambah atau meningkatkan kesedaran publik. Itulah pula yang sesungguhnya yang diinginkan atau mau dicapai oleh Bell maupun Fukuyama sebagai perwakilan neocons/ neolib tulen. Publik atau masyarakat yang rendah kwalitas pemikirannya atau ’kerdil’ (pakai istilah Supriyanto) selalu lebih gampang dikendalikan, apalagi kalau ditambah lagi dengan ’fear factor’ berupa bom canggih terroris atau ancaman serangan terroris. Kekerdilan pikiran dan bom canggih terroris, keduanya telah terbukti membikin Pengalihan Isu jadi sempurna.

Mari kembali ke penjernihan ideologi yang berguna bagi bangsa Indonesia.




Leave a Reply