Kolom W. Wisnu Aji: Fahri Hamzah Mundur,Tradisi Politik Caci Maki ala PKS Akan Sirna

1
138

wijayanto 8Sepekan terakhir ini semakin kencang desakan Fahri Hamzah agar mundur dari jabatannya, terutama hembusan kencang datang dari internal PKS sendiri. Fahri Hamzah memang dianggap publik sebagai tokoh oposisi yang paling keras dan cenderung mencaci maki ketika mengkritisi pemerintah Jokowi. Maka, ketika desakan publik agar Fahri Hamzah mundur terealisi, akan mengurangi beban PKS yang dipersepsikan dengan politik caci maki ala PKS akibat ulah Fahri Hamzah akan sirna.

Fahri Hamzah memang dalam dinamika politik nasional dikenal lantang dan keras dalam menyikapi kebijakan pemerintah atau sistem kenegaraan yang tidak sesuai, bahkan konsistensi Fahri Hamzah dalam mengkritik kebijakan negara sudah muncul sejak era SBY. Fahri Hamzah dianggap sebagai politik keras ala PKS dimana kritik kerasnya tidak dikemas dalam bahasa sopan dan santun seperti jargon PKS.

Fahri Hamzah dalam berdialektika lugas dan tanpa ada yang ditutup-tutupi dalam argumennya sebagai simbolisasi sikap keras PKS pada sistem. Namun, kondisi tersebut tidak direspon secara positif oleh publik. Apalagi setelah Fahri Hamzah jadi Wakil Ketua DPR dianggap terlalu keras terhadap Jokowi, bahkan cenderung menerapkan cara politik caci maki yang membuat persepsi PKS semakin busuk di mata publik. Terlebih-lebih gaya “Politik caci maki” ala Fahri Hamzah telah banyak dikloning secara massif oleh kader PKS yang ada di media sosial.

Persepsi publik semakin memuncak terhadap busuknya kader PKS di media sosial yang sengaja disebar sebagai cyber army PKS dalam propaganda politik. Ujungnya, fahri hamzah 3publik melalui desakan netizen di media sosial meminta agar Fahri Hamzah segera mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR karena telah melakukan pembusukan citra positif DPR kita.

Publik menganggap Fahri hamzah dan Fadli Zon telah melakukan perusakan demokrasi secara sistemik lewat statemen-statemen kontroversialnya yang telah meresahkan publik. Fahri Hamzah dan Fadli Zon telah memanfaatkan simbolisasi pimpinan DPR demi eksistensi kepentingan kelompok KMP yang kadangkala mengebiri anggota DPR lainnya dalam dinamika politik nasional. Maka. tidak heran ketika respon publik terhadap Fahri Hamzah terus menggelinding kencang, akhirnya direspon internal PKS setelah melihat perkembangan pasca mundurnya Setya Novanto dari kursi DPR. Kalau Fahri Hamzah masih dipertahankan dalam kursi Wakil Ketua DPR akan semakin memperburuk citra PKS di mata publik.




Respon yang coba dimainkan melalui peran Dewan Syuro PKS dengan mendesak mundur Fahri Hamzah merupakan strategi PKS pengurus baru dalam membangun citra baru PKS setelah kacaunya image PKS akibat “VIRUS GANAS PKS” ulah korupsi Gatot Pujo Nugroho yang merusak seluruh sistem di Sumatra Utara. Strategi lontaran ke media oleh internal PKS terhadap desakan mundur Fahri Hamzah juga dianggap publik sebagai testing in the water terhadap Fahri Hamzah dan citra baru PKS yang coba dimasukkan melalui persepsi publik lewat propaganda opini media.

Di samping itu, lontaran terhadap desakan Fahri Hamzah mundur juga sebagai strategi lain PKS pimpinan Shohibul Iman dalam bersih-bersih pengaruh citra buruk PKS.




Maka, melalui tulisan ini, tinggal kita tunggu respon publik secara luas terhadap opini yang dilontarkan internal PKS dalam menyikapi publik. Publik akan menilai kelayakan sudah saatnya Fahri Hamzah mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR agar politik caci maki sirna di Bumi Indonesia tercinta, agar tidak terjadi duplikasi yang dapat merusak jiwa-jiwa rakyat Indonesia melihat ulah perilaku para pemimpinnya yang duduk di elit nasional.

Di samping itu, mundurnya Fahri Hamzah dari Wakil Ketua DPR dan juga Fadli Zon akan menstabilkan dinamisasi demokrasi politik nasional demi bersinergi dengan Jokowi dalam percepatan pembangunan.

#SalamPencerahan )*

Penulis adalah DIREKTUR EKSEKUTIF CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGRESIF MOVEMENT (CS REFORM ) dan pemerhati sosial politik nasional tinggal di Jateng.




1 COMMENT

  1. FH bersama Fadli Zon sangat getol membela Setnov dalam kasus neolibnya ketika dia belum mundur dari ketua DPR. FH tidak jauh berhitung soal perubahan yang begitu cepat, didalam semua partai yang masuk KMP. Setelah hanya tinggal dua partai yang ‘utuh’ (PKS dan Gerindra) pastilah aliran arus ini akan menimpa sisanya juga. FH menghitung semua terlalu statis, Setnov mundur, FH bingung, karena omong gede dan keangkuhan selama ini hanya cocok dan bisa dipertahankan hanya kalau berada dipihak yang menang, dipihak kalah tak ada tempatnya lagi.

    Membela Setnov berarti membela politik atau kepemimpinan neolibnya. Dan politik ini atau leadership neolib ini semakin payah menempatkan dirinya, karena jaman sudah jadi terbuka. Ketika jaman tertutup seperti era Orba dimana berdominasi ialah ‘rahasia dan rekayasa’, politik dan leadership neolib punya hegemoni mutlak.

    Jaman terbuka leadership neolib ini belum menemukan ‘bentuk baru’ untuk survive. Tetapi neolib tak akan diam, karena kalau hanya diam tak akan ada perubahan, berlaku bagi semua, neolib juga. Politik Pengalihan Isu lewat Setnov sudah gagal total, pembelanya seperti FH juga sudah menuju satu kepastian tertentu . . . partainya sudah tak mendukung. Dimana saja berlaku aturan, partai bisa menarik kembali semua wakilnya dilembaga mana saja, karena dia bukan perwakilan perseorangan. Aturan ini mau dilawan pula oleh FH. Memang tak ada jalan lain bagi FH kalau masih mau bertahan. Apa saja harus dilawan untuk bertahan sejauh mungkin. Siapa tahu masih bisa. Menarik juga untuk jadi tontonan sampai dimana dia bisa berhasil melawan arus deras ini. Ha ha namanya saja melawan arus, extern dan intern pula. Tak gampang.

    “Publik akan menilai kelayakan sudah saatnya Fahri Hamzah mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR agar politik caci maki sirna di Bumi Indonesia tercinta, agar tidak terjadi duplikasi yang dapat merusak jiwa-jiwa rakyat Indonesia melihat ulah perilaku para pemimpinnya yang duduk di elit nasional.” kata WWA dalam kolomnya. Terlihat memang sekarang tendensi meluas sikap/prilaku caci maki di nusantara ini, tak terkecuali dikalangan pejabat/pemimpin negeri ini. Salah satu sebabnya seperti disebutkan oleh seorang kolomnis merdeka.com (DS) ialah ’perdebatan tanpa ideologi hanya jadi caci maki’ katanya. Partai-partai kembalilah berideologi, dan ideologi tiap partai selalu bagus dan tiap anggota/petugas partai patutnya menghargainya. Apalagi kalau partai-partai yang berdasarkan keagamaan, tak patutlah maki. Partai-partai hargailah ideologimu dan tindakan dan langkah-langkah politik harus sedapat mungkin berdasarkan ideologi yang diyakini. Kalau ideologi dan politiknya bertentangan, tambah kacau.

    Ideologi neolib ialah duit, duit, duit dan sumber duit serta kekuasaan dpl GREED AND POWER. Ini bikin kacau, jangan ditiru.

    MUG

Leave a Reply