Kolom W. Wisnu Aji: Banyak Parpol Galau, Momentum Jokowi Kendalikan Arah Politik

0
107

 

wijayanto 8Dinamika politik nasional semakin menarik untuk kita bedah bersama. Di tengah gerak Jokowi melakukan akselerasi pembangunan nasional fokus penguatan infrastruktur Indonesia sentris, banyak Parpol di negeri ini malah disibukkan dengan urusan pertarungan hegemonik antar kader demi eksistensi kekuasaan. Banyak Parpol galau terhadap internalnya, momentum Jokowi kendalikan arah politik nasional.

Dalam konsep rumusan developmentalisme, menyatakan bahwa negara yang melakukan percepatan pembangunan secara sistemik, maka diperlukan stabilitas demokrasi dan kondusifitas partai politik dalam dinamisasi politik nasional. Jadi, ketika Jokowi mencanangkan 2016 sebagai tahun percepatan pembangunan nasional di segala bidang, maka Jokowi wajib merangkul seluruh stakeholder demokrasi dalam mendukung langkah-langkah kondusif bagi percepatan pembangunan nasional.

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi mesin pendorong demokrasi yang direpresentasikan partai politik yang mengalami kegalauan tingkat tinggi menyikapi kondisi internalnya yang banyak bergejolak bahkan membelah diri alias pecah.

Fenomena kegalauan politik dialami oleh Golkar dan PPP yang internalnya pecah gara-gara gamang menentukan arah tumpuan lokomotif gerakan yang cenderung galau 2eksistensi masing-masing kubu di internal Parpol yang pecah saling hegemonik.

Belum lagi Parpol-parpol lain yang mengalami kegamangan dalam menentukan platform gerak arah partai di tengah dinamika akselerasi eksistensi Jokowi yang begitu menonjolnya. Banyak Parpol galau juga karena arah politik Jokowi lebih menonjolkan pada demokrasi partisipatoris, dimana rakyat sebagai subyek percepatan pembangunan bukan lagi Parpol sentris yang cenderung hanya bagi=bagi proyek pesta poranya para mafia.

Di tengah kegalauan partai politik dalam dinamika politik nasional maka sudah saatnya negara hadir melalui representasi Presiden Jokowi untuk berinteraksi di tengah Parpol-parpol yang ada untuk membantu Parpol-parpol sebagai stimulator dan katalisator perubahan tatananan sistem yang demokartis, bukan lagi memerankan negara melalui injeksi sistemik yang merusak paradigma kepartaian negara kita.




Presiden harus mampu memerankan interaktif sistemik demi kondusifitas Parpol dalam rangka bersama-sama menyukseskan program negara dalam percepatan pembangunan. Tanpa adanya Parpol yang kondusif secara sistem dan perkaderan di internalnya akan berimbas pada stabilitas demokrasi di tingkat nasional. Ujungnya berpengaruh pada kondusifitas keamanan yang mengganggu percepatan pembangunan yang telah dicanangkan negara 2016.

Jokowi tetap berkepentingan menenangkan, merangkul dan mendamaikan banyak Parpol yang galau sehingga gerak akseleratif Jokowi bisa didukung seluruh stakeholder negeri ini. Dalam rumusan sistem negara modern maka dibutuhkan 3 pilar penggerak demokrasi negara melalui rakyat yang partisipatoris, Parpol yang kuat dalam tranformasi sistem serta negara kuat yang memberdayakan.




Untuk itu, selain peran negara dalam interaksi dinamika partai politik, maka kewajiban internal Parpol untuk menjaga kondusifitas internalnya bukan saling hegemoni yang menyebabkan konflik tidak berujung yang berimbas pada stabilitas demokrasi kita.

Mudah-mudahan dengan momentum kegalauan Parpol-parpol yang ada diharapkan Jokowi dapat lebih mengendalikan arah politik nasional, yang awalnya banyak pengamat memandang Jokowi datang dari “jelata politik” menuju ke arah king maker politik. Dia mampu mengendalikan arah politik nasional demi produktifitas pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan secara sistemik.

‪#‎SalamPencerahan‬

Salam hormat kami : CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)




Leave a Reply