Danau (Laut) Bangko: Persaudaraan Suku Kluet dan Sembiring di Karo

0
461

Oleh: Salmen Kembaren

 

SALMEN FOTOPerlu 3 jam perjalanan menuju danau yang penuh mitos ini dalam kondisi normal. Melintasi rawa sepanjang perjalanan dan sesekali kami harus mengangkat perahu karena kayu melintang di sungai selebar 1 – 2 meter.  Sabetan duri rotan juga menjadi tantangan tersendiri. Karena kondisi perahu yang juga kurang baik maka akhirnya kami tiba di danau saat hari mulai gelap.

Sejak awal saya mendengar namanya maka saya mencoba menganalisa keterkaitan nama danau tersebut dengan Pustaka Alim Kembaren di Suku Karo. Dalam analisa awal, bahwa Bangko yang tersirat di kitab sejarah Sembiring berada di daerah Ranah Minangkabau ternyata memiliki versi lain.

Ketika anda memperhatikan peta Sumatra maka setidaknya ada dua daerah utama yang berkaitan dengan Bangko, pertama Kecamatan Bangko di Rokan Hilir Riau dan Kecamatan Bangko di Merangin, Jambi. Dan ternyata terdapat kata Bangko juga di Aceh Selatan tepatnya di Tanah Kluet.

Kebanyakan antropolog mengklasifikasikan Suku Kluet masuk ke Rumpun Karo, Alas, Gayo dan Pak-Pak/Singkil yang berbeda dengan rumpun Batak. Suku Kluet sendiri memang lebih sering mengkategorikan diri mereka bukan Suku Aceh. Di daerah yang didiami Suku Kluet sendiri atau sering disebut Kluet Raya mereka hampir bukan suku yang mayoritas karena berdampingan dengan suku mayoritas lainnya seperti Suku kluet 2Aceh, Jamee (Minang Rantau) dan Singkel. Suku Kluet hidup di seluruh dataran lembah Kluet sampai pegunungan mengarah ke pegunungan Alas.

Suku Kluet hidup di 4 kecamatan utama di Aceh Selatan; Kluet Utara (Pulo Ie), Kluet Selatan (Kandang), Kluet Tengah (Kota Fajar) dan Kluet Timur (Durian Kawan). Mereka sudah sangat jarang memakai merga, namun ketika ditanya lebih mendalam, mereka dapat menjelaskan merga mereka terutama yang keturunan merga Pinem dan Selian. Selain itu, sebenarnya ada 3 merga lainnya yakni Pelis, Bencawan dan Caniago. Yang terakhir diduga berkaitan dengan keturunan Minang yang telah berasilimilasi.


Salah satu peristiwa sejarah –terlepas dari mitos– yang begitu dikenang masyarakat Kluet adalah sejarah Danau Bangko atau lebih familiar saat ini disebut dengan Danau Laut Bangko. Diketahui bahwa ada sebuah kerajaan besar di Kluet saat itu. Kata “Bako” dalam bahasa Aceh berarti kuat, sangat dimungkinkan sebutan itulah berawal dari Suku Aceh dan Minang yang juga hidup di daerah tersebut.

Namun, ada juga versi lain juga menyebutkan bahwa nama Bangko juga berkaitan dengan salah satu istri raja yang keturuan Minang, yakni Kuala Ayer Batu. Namun secara geografis sebenarnya cukup jauh dengan daerah yang bernama Bangko tersebut baik di Jambi maupun Riau. Tetapi kita harus menafikan jarak karena sejak dahulu kerajaan-kerajaan di Nusantara telah berhubungan satu dengan yang lain.

Cerita sejarah Danau Laut Bangko versi Kluet dan versi Karo memiliki kemiripan. Hanya pada bagian tertentu saja yang berbeda. Dan tampaknya cerita versi Karo lebih lengkap sampai menjelaskan sampai beberapa generasi. Hal ini sangat memungkinkan karena keturunan yang melakukan eksodus adalah pihak keturunan kerajaan (termasuk penasihat kerajaan) sedangkan yang tinggal di Kluet adalah rakyat biasa? (Bersambung)




Leave a Reply