Modesty Souvenir Galeri Seni Budaya Karo di Berastagi

0
328

SADA ARIH 5SADA ARIH SINULINGGA. BERASTAGI. Awalnya toko souvenir kerajinan seni budaya Karo miik Budiman Sinulingga yang berada di Jl. Veteran No.33, Berastagi, persis dekat Tugu Perjuangan, ini merupakan kelanjutan usaha orangtuanya almarhum J. Sinulingga.

Usaha menjual barang-barang antik bernilai seni dan warisan budaya dari leluhur Karo dilakoni oleh J. Sinulingga sejak tahun 1950an. Barang-barang antik ini dibeli dari warga Karo dan kemudian menjualnya kembali ke para kolektor asing dari berbagai negara yang sedang melancong ke Berastagi.

J. Sinulingga yang juga seorang veteran pejuang Kemerdekaan RI ini tidak saja berjualan barang antik di Berastagi namun, atas ajakan abang kandungnya yang telah duluan punya usaha galeri souvenir barang antik dan seni budaya di Parapat, J. Sinulingga sering bolak balik Berastagi dan Parapat. Paapat pada masa itu sudah ramai dikunjungi turis asing. Tidak berapa lama akhirnya J.Sinulingga justru memilih menetap tinggal di kota wisata Parapat dengan memboyong istrinya dan beberapa anaknya lahir di Parapat, termasuk salah satu anaknya Budiman Sinulingga yang sekarang pengusaha toko souvenir Modesty Berastagi.

modesty
Budiman Sinulingga di toko souvenirnya

Di Parapat, J. Sinulingga tergolong sukses berusaha. Di sana, dia sempat punya toko souvenir dan rumah tempat tinggal, dan punya usaha kapal penyeberangan yang diberi merk’ Sahat. Menurut penuturan Budiman Sinulingga, nama Sahat berasal dari kata Sehat sebagai nama anak J. Sinulingga yang paling tua. Berdasarkan logat dan bahasa setempat maka Sehat disebut orang-orang Batak dengan kata Sahat.

Kenyamanan berusaha di kota Wisata Parapat tidak bisa dipertahankan karena peristiwa politik atas pemberontakan Nainggolan dan Simbolon (PRRI). Saat itu, Djamin Ginting menumpas pemberontakan kedua pemberontak dari Suku Batak ini. Setelah itu, Djamin Ginting akhirnya diangkat menjadi Komandan TT 1 yang kemudian beralihnama menjadi Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan.

Konflik antara Djamin Ginting yang dari Suku Karo dengan Nainggolan dan Simbolon dari Suku Batak terasa di tengah-tengah masyarakat. Sampai sekarang, banyak orang Batak menuduh Jamin Ginting sebagai pengkhianat sedangkan orang-orang Karo menganggapnya justru setia membela bangsa dan negara yang terangkul dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

modesty 3Saat itu, acapkali ada teriakan dan ucapan bunuh orang Karo dari orang-orang Batak padahal J. Sinulingga sudah sangat dekat dengan masyarakat setempat. Bahkan banyak orang mengenalnya sebagai yang bermarga Sihotang di sana, Namun, ini tidak membuat ada rasa kenyamanan sehingga J. Sinulingga memilih pergi ke Berastagi membawa semua keluarganya dan meninggalkan semua hartanya yang telah ada seperti toko, rumah dan usaha Kapal yang telah dirintisnya bertahun-tahun.

Sekitar tahun 1960an J. Sinulingga mengontrak tempat di Berastagi persis di tempat yang sekarang ini. Dahulu disebut dengan cara Ciak Kopi. Dahulu tempat ini disebut alamat rumah ini dan sekaligus dijadikan tempat berjualan Barang Antik Seni Budaya Karo di Jl. Kemakmuran 85, Berastagi, yang sekarang nama jalan telah diganti menjadi Jl. Veteran no.33 Berastagi.

Usaha Seni Budaya Karo yang dirintis oleh J. Sinulingga ayahanda Budiman Sinulingga dilanjutkan olehnya dan memberi nama tokonya dengan nama Modesty Souvenir yang menjual barang-barang seni budaya Karo sebagai hasil karya seni kerajinan suku Karo dengan brbagai bentuk peralatan Suku Karo pada masa lalu.

Penuturan Budiman Sinulingga kepada Sora Sirulo ketika ditemui di tokonya, beberapa tahun terakhir ini akibat kunjungan turis juga semakin berkurang sekali, maka berjualan souvenir kurang memuaskan. Hanya saja, karena menghargai usaha yang telah dirintis oleh orangtuanya J. Sinulingga dan diamanatkan kepadanya, selagi mampu diminta agar meneruskan usaha ini.




“Selain itu, sebagai wujud kecintaan terhadap seni budaya Karo, usaha ini tetap dilanjutkan walaupun ibarat kata pepatah seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau (bagi kurmak sampe rakit, nggeluh erpala-pala mate erbiar-biar),” kata Budiman Sinulingga dengan berbahasa Karo.

Oleh karena itu, diharapkan kiranya ada perhatian dari Pemkab Karo dan semua pihak untuk bisa meningkatkan pariwasata Karo agar kedatangan turis asing dan lokal kian bertambah sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Karo khususnya Berastagi sekitarnya.




Leave a Reply