Surat Terbuka Untuk Teroris

1
132

Oleh: Sukadi Supriyanti 

 

sukadi supriyantiMaaf tak mengucap salam, karena aku tidak tahu apa agamamu dan apa yang kau percayai. Kitab apa yag kau baca hingga kau merasa paling benar, kitab mana yang mengajarkan membunuh orang di luar peperangan?

Pemimpin mana yang kau ikuti hingga langkah yang kau ambil melampaui ajaran para nabi? Ibu mana yang melahirkanmu hingga mati rasa belas kasihmu? Ayah mana yang membimbingmu sehingga rasa ketakutan yang kau cipta dalam aksimu?

Makanan apa yang mengalir kentubuhmu sehingga kau merasa terpilih sebagai mesin pencabut nyawa? Pakaian apa yang kaupakai hingga kau merasa gagah, tak tersentuh neraka?

Kalau kau pikir tindakanmu akan mencapai mimpimu, kupastikan jauh dari itu… tumpuan kebencian terarah pada kelompokmu…




Bagaimana mimpimu membangun peradaban tanpa ada simpati dari manusia? Alih-alih menegakan kebenaran… yang lahir justru antipati.. ketakutan.. makin lama generasi ini makin jauh dari agama.. takut dengan agama… Saat itu tiba, kau ikut bertanggungjawab mengatheiskan dunia ini.

Pasti kau bukan representasi Islam, pasti juga bukan representasi Nasrani, Hindu, Budha…

Agama yang kutahu mengajarkan cinta kasih sesama manusia, kelembutan, kesabaran, Sembah pada Tuhan seharusnya menghindarkan perbuatan keji dan munkar.

(broadcast sebanyak2nya ke semua group, berharap benih teroris berkurang)

‪#‎copas‬




1 COMMENT

  1. Satu soal yang dari dulu saya tidak percaya ialah bahwa didunia ini pasti selalu ada manusia yang kita sebut ‘kriminal’ atau orang jahat. Dulu saya berpikir (mungkin sebagai orang Karo) kalau orang selalu jujur dan orang tak jujurpun bisa juga jadi jujur atau dasarnya memang orang jujur. Ternyata pikiran itu salah atau naif. Sekarang saya menerima kenyataan ini bahwa manusia ada yang jahat dan mengertinya cuma jahat, tak engerti yang lain apalagi yang baik. Bagi orang-orang ini kejahatan adalah kebaikan, setidaknya bagi dirinya. Bagi orang normal tentu orang jahat ini tidak normal.

    Karena itu tak ada jalan lain sekarang selain menerima kenyataan bahwa orang-orang kriminal ini menganggap dirinya normal, yang lain harus dibunuh, ditembaki atau dibom. Tak perlu lagi kita berpikiran ‘tujuan politis’ atau ‘tujuan agama’ dari orang-orang kriminal ini. Orang-orang ini sekarang pada menunjukkan diri ditengah masyarakat dan manusia normal harus menghadapi, dan soalnya jadinya ialah bagaimana menghadapi.

    Orang-orang ini tak bedanya dengan tukang begal mukuli atau mbunuh orang dan ambil motornya. Bedanya begal tak punya senjata canggih atau bom canggih. Kalau begal punya senjata canggih dan peledak canggih, maka tak ada bedanya.

    Karena itu seperti presiden Jokowi bilang, tak usah takut sama begal-begal kriminal atau terroris kriminal ini. Jangan pula begal-begal dan kriminal dibiarkan jadi penguasa negeri ini dan berbuat seenaknya disini dan orang baik bertekuk lutut turut perintah dari mereka pula. Sangat tidak patut.

    Manusia normal dan baik jauh lebih banyak dan mayoritas. Orang-orang baik dan jujurlah yang patut menguasai negeri ini, bukan begal atau kriminal. Begal dan kriminal atau orang jahat sudah selalu exis di bumi ini sejak dari permulaan manusia sampai sekarang, karena itu tak perlu mikir lain, selain kriminal ini selalu ada. Karena itu penting supaya orang-orang kriminal ini dihadapi sebagaimana mestinya. Tukang begal atau tukang teroris tak bisa dibiarkan jadi menguasai negeri kita dan berbuat sesuka hatinya, mbunuhin, nembakin dan mbomin orang.

    MUG

Leave a Reply