Kolom M.U. Ginting: DANA TEROR

0
126

M.U. GINTING 3Bagus sekali informasi dari BIN Sutiyoso dengan kegiatan sendiri dapat info penting soal pendanaan teroris. Soal seperti ini tak akan diberikan oleh inteligen asing seperti Australia walaupun ada kerjasama soal terrorisme dengan Australia. Kalau semua intelijen dunia mengerahkan kepandaiannya mencari sumber dana teroris dan cara pengirimannya ke banyak negeri bisa dilacak seperti BIN bikin, terrorisme bisa hilang cepat.

Sayangnya, tidak semua badan intelijen mau mengumumkan sumber dana dan cara pengirimannya. Tetapi apa yang dijelaskan oleh BIN Sutiyoso menandakan bahwa BIN punya pendirian sendiri dan punya keyakinan sendiri demi RI tanpa ada campur tangan intel luar, yang nyatanya sejak Orba selalu tak memihak rakyat negeri ini. Contohnya, dalam penggulingan Soekarno 1965 peranan intel asing sangat negatif.

Di kalangan intel asing, masih berlaku formula lama dalam era ketertutupan yaitu ’rahasia’ dan ’rekayasa’.  Akan tetapi, era keterbukaan Abad 21 ini sudah sangat banyak ahli maupun akademisi bikin analisa terbuka soal terrorisme sebagai basis ekonomi neoliberal yang disebut dengan nama ’terror based industry’ atau ’war based industry’. Terror sebagai ’fear mongering’ adalah bagian penting dari politik neoliberalism.

“To politicized Fear Mongering is the key to the power’s effectivness,” kata sosiolog Zygmunt Bauman soal politik neoliberal.




Indonesia punya perusahaan asing yang termasuk dalam empire neoliberal itu yaitu:  “The giant US-based corporations like the oil company Caltex, which operates in Riau, and the mining giant Freeport, which operates in Papua”.

BIN Sutiyoso bisa dimasukkan ke dalam intel terbuka dalam soal melacak aliran dana terroris, demi rakyat Indonesia dan karena bisa dapatkan pengetahuan yang jelas soal aliran dana ke terroris di Indonesia. Di sini jelas perubahan yang ada di intel Indonesia (BIN) memanfaatkan tugasnya untuk kepentingan publik. Dengan mengajak semua institusi kerjasama dalam soal ini seperti dengan Polri, tentu pekerjaan lebih ringan dan bisa berhasil dibandingkan selama ini tak pernah sutiyoso 3berhasil. Paling mantap juga ialah kalau tugas ini disertakan juga pihak militer yang belakangan terlihat lebih mantap dalam menghadapi persoalan rakyat. Contohnya membantu pengungsi Sinabung di Siosar (Dataran Tinggi Karo).

“Terroris ini selalu pakai kata sandi,” kata BIN Sutiyoso.

Kata sandinya pasti diubah-ubah juga terus menerus sehingga susah melacaknya. Tetapi itulah kerjaan intel demi keamanan negara dan rakyat, memanfaatkan kelihaian asli Indonesia dalam bidang inteligensi. Intel lain (asing) punya kepentingan lain tak perlu diragukan, karena itu kerjasamapun selalu didasarkan atas kepentingan asing.

Seorang ahli hukum internasional menguraikan pendapatnya soal saling hubungan antara terorisme dan kemajuan industri penjaga keamanan di banyak negeri.

As lawyer Jonathan Turley recently argued in Al-Jazeera English, the US-led war on “terror” has created a vast industry linking American foreign policy together with multinational corporations and a growing government bureaucracy that sustains the US economy by employing millions. Turley notes that: “The core of this expanding complex is an axis of influence of corporations, lobbyists, and agencies that have created a massive, self-sustaining terror-based industry.”

Furthermore, the US has exported its discourse of “terror” so successfully that both allies and foes alike are now embracing the hegemonic framework, ultimately empowering thisneoliberal axis of elites who financially benefit from the world being in a perpetual state of war.

Di Indonesia seperti budget besar untuk badan-badan anti terror seperti bikin Densus 88.

”Maka­nya ada dugaan terorisme ini sengaja dipelihara untuk mem­per­panjang proyek biar angga­rannya jalan terus,” kata Ketum MUI Din Syamsuddin kepada RMOL 16 okt 2012.




Leave a Reply