Mengenalkan Generasiku Kepada Sejarahnya

1
205

Oleh: Romerro Arya Baratha

 

romerroSelasa 12 Januari 2016. Jam digital di dalam mobil menunjukkan 15.33, saat saya memasuki gapura Desa Dokan (Kecamatan Merek, Kabupaten Karo). Beberapa saat lagi saya dan anak anak akan mencapai tempat yg bersejarah bagi keturunan kami.

Ketika memasuki Desa Dokan, dari ketinggian sudah terlihat kegagahan Rumah Siwaluh Jabu yang merupakan rumah adat dan kebanggaan Suku Karo. Hitam dan tinggi menjulang.

Tiba-tiba anak-anak saya berkata: “Pa, itu ada rumah kerajaan. Ayo ke sana aku mau masuk.”

dokanSaya merasa bahwa naluri yang mengalir di anak yang ber umur 5 dan 2 tahun ini sangat kental akan kekaroan. Walau pun mereka bukan lahir dan besar di Karo, apa lagi ibu yang melahirkan mereka juga bukan dari etnis Karo.
Singkat cerita, kami pun mengunjungi salah satu rumah adat Karo yang ada di Dokan.

Rumah Mbelin, rumah ini adalah rumah pengulu/ pendiri kampung Dokan. Kami menaiki anak tangga untuk mencapai turei (pelataran/ platform). Sesampai di atas turei, saya menuju pintu dan mengucapkan salam mejuah-juah kepada orang yang ada di dalam rumah.

Mejuah-juah simada rumah, sentabi.. Banci ka nge kami ku rumah?” kataku mengucapkan salam sambil bertanya apakah kami boleh masuk ke dalam rumah.

Terdengar jawaban dari dalam rumah: “Mejuah-juah, ku rumahken.”

Setelah mendapat izin, kami sekeluarga masuk ke dalam rumah. Tampak beberapa ibu muda sedang memasak makanan di dapur menggunakan kayu bakar.

Salah satu diantara mereka mulai bertanya kepada saya: “Kai ndai ate kena? Ise daramen kena?” (Adakah yang klian hendak kunjungi secara khusus d rumah ini?)

Jawab saya: “Labo kai pe, ngenen-ngenen saja.” (Tidak ada yang khusus, sekedar mau melihat rumah)

Ja nari kin kena, kai ka nge man nehenen bas ingan si bagenda,” katanya lagi menanyakan kami datang dari mana dan mengapa tertarik pad rumah seperti itu.

Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya: “Sentabi, ise nge sipuna rumah enda?” (Siapa gerangan pemilik rumah).

dokan 2Enda rumah Munte Dokan, Munte Rumah Mbelin,” katanya menjelaskan rumah itu milik merga Ginting Munte.

“O… kalau begitu, ini adalah benar rumah kami juga. Tidak salah lagi. Aku pun Munte Rumah Mbelin. Kedua anak say adalah keturunan Munte Rumah Mbelin,”  kataku.

Tiba-tiba dari kejauhan, seorang ibu yang sudah paruh baya angkat bicara:

“Bagian yang manakh kalian, turang?” sambil bergegas mendekat dan menyalami kami (turang adalah panggilan saudara untuk perempuan ke laki-laki atau saudari untuk laki-laki ke perempuan seperti panggilan ito di Suku Batak atau iboto di Suku Simalungun).

“Kami yang di Sukanalu,” kataku (Sukanalu adalah sebuh kampung lain tidak jauh dari Dokan)

Kemudian ibu muda yang pertama kami temui sebelumnya menyambangi pembicaraan:

“Kalau demikian halnya, di bagian kami inilah bagian kalian, turang, mari silahkn duduk di tempat kami,” katanya sambil dia menggelar tikar anyaman dari daun pandan, tikar kehormatan bagi Suku Karo..

Saya pun duduk di tikar itu. Keluarga-keluarga penghuni yang lain pun berdatangan untuk sekedar bersalaman dan mengobrol dengan kami. Sangat kental suasana kekeluargaan yang saya rasakan di dalam rumah ini.




Di sela-sela percakapan, anak saya yang besar bertanya: “Pa, ini rumah siapa? Boleh saya liat-liat dari jendela itu?”

Salah seorang dari penghuni rumah menjawab:

“Boleh, nakku. Ini kan rumah kalian juga. Kalian boleh bermain dan tinggal di rumah ini,” katanya.

Sementara anak-anak saya asyik berlarian di dalam rumah, saya melihat keceriaan dari raut muka mereka. Tidak ada rasa canggung dan takut seperti kalau kami bertamu ke rumah orang lain. Hati saya cuma berkata, itulah naluri, mereka merasa bahwa rumah yang kami kunjungi adalah rumah mereka. Sampai ketika saya mengajak anak-anaj untuk pulang, mereka malah tidak mau pulang dan meminta untuk menginap di rumah itu.

Biarlah suatu saat anak-anak akan merasa tertarik dan banyak bertanya tentang peninggalan leluhurnya ini.




1 COMMENT

Leave a Reply