Seminar Adat Karo di Sumbul

1
150

B. KurniaB. KURNIA PARGAULAN P. KABANJAHE. Ratusan tokoh masyarakat dan adat Karo berkumpul kemarin [Sabtu 16/1] untuk sebuah seminar sehari di Aula Halilintar 2 Jl. Jamin Ginting, Sumbul (Kabanjahe). Seminar mengenai budaya/ adat Karo ini dilaksanakan oleh Sanggar Seni Karo Persada (Kabanjahe) dipimpin oleh Malem Ukur Ginting bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Thema “Mempersatukan Persepsi Tokoh Budaya Adat Karo Ditinjau dari Makna Filosopi Tiap Tahapan Pelaksanaan Adat”.

Ketua Panitia Malem Ukur Ginting didampingi Robert Perangin-angin dan Jesaya Sinulingga serta Rukki Hati br Bangun (Bendahara) usai acara seminar mengatakan terimakasih atas perhatian Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud serta Pemkab Karo yang mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan seminar ini.

TOKOH ADAT KARO (1)“Pentingnya seminar ini sudah sangat dirasakan dan telah dinantikan sejak lama oleh para tokoh budaya/ adat Karo. Akhir-akhir ini para tokoh budaya/ adat Karo sudah mulai khawatir atas keberadaan budaya/ adat Karo,” ujar Malem Ukur Ginting yang juga dikenal sebagai bagian tokoh budaya/ adat Karo.


Pihaknya juga sangat merespon dengan semangat para peserta dari perwakilan tokoh masyarat, tokoh budaya dan adat Karo di 17 kecamatan Kabupaten Karo sebagai kampung halaman etnis Karo, yang benar-benar rindu untuk satu persepsi dalam pelaksanaan budaya adat Karo dimanapun berada.

“Hasil seminar ini dibukukan sebagai bahan baku bagi seluruh etnis Karo dalam melaksanakan budaya adat Karo yang sesuai dengan makna-makna filosopi dari tiap-tiap tahapan adat tersebut di kekerabatan masyarakat Karo,” ujar Malem Ukur diamini Sekretaris Jesaya Sinulingga.

Para peserta Seminar Budaya dan Adat Karo berpoto bersama usai acara seminar sehari di Aula Halilintar 2 Sumbul Kabanjahe.



1 COMMENT

  1. Satu acara yang bagus demi perkembangan dan pertahanan adat istiadat Karo demi dan selanjutnya demi survival semua kultur tradisi negeri ini. Indonesia berkembang bagus kalau semua kultur terpelihara dan berkembang maju. Itulah dasar perubahan dan perkembangan yang betul bagi semua kultur dunia. Tidak ada kultur/budaya yang harus terdesak dan lenyap, termasuk juga bahasanya.
    Kultur Karo dan sivilsasi Karo sudah lebih dari 7400 th dan tertua di Sumatra.

    Demikian juga dialektika Karo yang sudah berumur ribuan tahun. Tesis-antitesis-syntesis Karo ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ sudah jauh lebih tua dari tesis-antitesis-syntesis Hegel yang baru berumur 200 th sedangkan dielaektika Kao seh sura-sura tangkel sinanggel sudah 7000 th lebih. Begitu juga Panta Rei Karo ‘aras jadi namo, namo jadi aras’ jauh lebih tua dari PantaRei Heraklitos yang diperkirakan muncul 500 BC. Karena itu Dialektika Karo adalah yang tertua didunia, bukan Heraklitos atau Tao.

    Jika yang hadir dalam seminar ini dari 17 kecamatan, sangat baik juga kalau dihadirkan dari kecamatan-kecamatan lain dari kab Dairi, kab Langkat dan Aceh Tenggara serta yang paling terkenal Deliserdang. Disana juga merupakan tempat-tempat dan tanah ulayat orang Karo dan masih memakai tradisi Karo tak ubahnya seperti 17 kecamatan di kab Karo.

    Maju terus orang Karo, pertahankan dan kembangkan kultur Karo. Hanya dengan perkembangan yang wajar kultur Karo kita bisa hidup bersama secara wajar hidup bersama kultur-kultur lain di negeri ini. Karena itu juga kita akan selalu berharap supaya semua kultur lain juga bisa berkembang dan maju, maju dan berkembang bersama, tidak saling mendesak tetap saling menghargai dan menghormati dengan prinsip ‘dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’.

    Daerah dan tanah ulayat Karo harus bisa dikembangkan dan maju atas kerja keras orang-orang Karo sendiri, bukan oleh pendatang yang mau mendominasi tanah-tanah ulayat Karo. Pelajaran sejarah pendatang di Kalteng, Kalbar, Poso, Maluku, telah banyak yang bisa memahami, diantara pendatang maupun penduduk asli pemilik tanah ulayat.

    MUG

Leave a Reply