Kolom M.U. Ginting: Korelasi Neoliberal dengan Terrorisme

0
109

M.U. GINTING 3Terror sebagai Fear Mongering sudah semakin jelas hubungannya dan semakin  banyak yang memahami berkat usaha-usaha ilmiah dari banyak akademisi dunia menjelaskan dari banyak segi; terutama dari segi ekonomi, ’war based economy’ atau ’terror based industry’. Inilah tingkat terakhir kapitalisme atau yang disebut juga neoliberalisme, tetapi bukan neoliberalisme Tahun 1970-an, dimana terrorisme masih politis, bertujuan memerangi ketidakadilan. Akan tetapi, tingkat terakhir neoliberalisme ini masih sangat banyak yang tidak memahaminya, karena masih mengingat definisi neoliberalisme sebelum maju ke tingkat ’fear mongering’ atau ’terrorisme’.

Kalau diantara orang Indonesia masih banyak yang hanya mengerti neoliberalisme definisi abad lalu (artinya, belum ke tingkat ’war based economy’ atau lebih tak dipahami lagi ialah ’terror based industry’), masih bisalah dimaklumi atas ketinggalan negeri kita. Tetapi, saya pikir, perkembangan internet dan perkembangan KETERBUKAAN maupun demokrasinya di negeri kita adalah nomor satu. Pastilah semakin banyak yang memahami tingkat terakhir neoliberalisme ini, yang sudah jelas tak bisa dipisahkan dari ’fear mongering’ atau ’terror based industry’ atau ’war based economy’.

nekolim”Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memastikan aksi teror yang dilakukan kelompok pimpinan Bahrun Naim ini tidak ada kaitannya dengan hilangnya bahan peledak.” Bisalah dipastikan kalau Kapolri sudah melihat kenyataan bahwa tak ada kaitannya dengan mesiu/ bahan peledak yang hilang di Riau. Tetapi kehilangan di Riau itu juga bisa dipahami supaya beli lagi mesiu canggih dari industri canggih neolib di Eropah atau USA. Mereka ini tak kurang mesiu atau senjata canggih apa saja, yang penting ada tempat penjualannya. Itulah terror based industry dan terror based economy dalam kenyataan.

Dari segi perkembangan terakhir neoliberalisme ini, agak tak masuk akal juga kalau Jokowi dianggap atau dituduh sebagai neoliberal, apalagi kalau dikaitkan dengan politik neoliberal ’fear mongering’. Jokowi belum terpikir atau saya yakin tidak akan pernah terpikir bikin ’fear mongering’ untuk ikut-ikutan bikin laku senjata canggih atau bahan peledak canggih kaum neoliberal modern di Eropah atau USA. Tetapi bahwa masih banyak kejadian ekonomi neoliberal di negeri ini, betul sekali memang, apalagi kalau dilihat dari sejarah 30 tahun lebih kekuasaan neoliberal di negeri ini, di bawah presiden neoloiberal Soeharto. Imbasnya masih belum semua hilang, walaupun sudah ada presiden yang ingin dan berusaha menghilangkannya.




Pekerjaan Jokowi atau Ahok di Jakarta sudah banyak positifnya, tetapi tak kurang juga negatifnya, tak terhindarkan. Tetapi ada usaha dan usahanya tak bikin Fear Mongering atau bikin industri berbasis terror atau atau ekonomi berbasis war. Ini pasti atau setidaknya dalam tingkat sekarang.

Banyak akademisi yang sudah menulis soal ini, a l Jonathan Turley dalam tulisannya ’big money behind war: the military-inddustrial complex’. Bahkan dia menyebutkan bahwa presiden Eisenhower juga telah melihat gejala ini (military-industrial complex) mengingatkan soal ini dalam pidato perpisahannya 1961, sudah lebih dari setengah abad lalu, tetapi baru sekarang terlihat semakin jelas bagi kita semua. lih di SINI.




Leave a Reply