Kolom M.U. Ginting: MENGENAL NEOLIBERALISME

0
141

M.U. GINTING 3Thema diskusi ini (neoliberalisme) sangat menarik memang, karena juga sangat aktual bagi kita semua, penduduk Indonesia. Tidak hanya penduduk Indonesia, saya kira juga penduduk dunia ini seluruhnya, terutama sekali negeri yang kaya SDA sebagai sumber duit; benda yang telah jadi sumber segala macam malapetaka besar kemanusiaan (perang, terror, berbagai konflik antara berbagai suku/kultur dan nation). Sebabnya adalah sifat dasar manusia yang belum terkendalikan bagi sebagian orang.

Pengantar

KESERAKAHAN atau GREED AND POWER, katanya dalam bahasa internasionalnya. Sampai di sini mungkin kita lebih banyak setujunya. Tetapi, perlu juga saya ingatkan, dalam dialog dan diskusi ini, bukan persetujuan yang mau kita capai, sehingga semua kita mempunyai pendapat yang sama dan satu (sehingga tak ada lagi soal, ’sepengodak sepengole sada arih sada kata’, kata orang Karo.).

neoliberalisme 2Bukan itu yang mau dicapai menurut pendapat saya. Detik ini kita ’sada kata’ dalam satu soal. Tetapi, detik berikutnya kita ragukan lagi, karena perubahan cepat sekali, dan hanya perubahan saja yang tetap, yang lain apapun berubah terus. Itu pulalah yang  bikin menarik. Kita jadi dinamis bukan main dalam mengikuti perubahan cepat itu. Kita senang.

Berbagai penemuan dan ketentuan ilmiah yang masih bersimpang siur selama ini, yang ada diantara kita dan tak pernah disinggung bersama, karena tak ada diskusi dan keterbukaan. Padahal, soalnya menyangkut persoalan kita bersama. Penemuan ilmiah itulah yang mau kita usahakan mencapainya. Pengetahuan atau pendapat yang benar dan ilmiah tak ada gunanya kalau hanya diketahui atau dimiliki oleh satu orang atau beberapa orang. Dalam hal ini, banyak pengalaman kita, apalah artinya si A pandai sendiri atau tahu banyak sendirian saja.

Pengetahuan yang penting itu banyak artinya kalau semakin banyak pula yang menguasainya dan mempraktekkan dalam kenyataan. Saya teringat seorang psikolog Swedia bilang bahwa psikologi adalah ilmu untuk rakyat dan semua bisa memanfaatkan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari. Betul sekali.

Sekarang era dialog dunia, era diskusi dalam keterbukaan yang tak terbatas boleh dikatakan karena dibantu oleh internet yang memungkinkan komunikasi tak terbatas, media besar abad ini, media sosial, media terbuka bagi semua. Orang Karo sangat cocok dengan perubahan jaman ini, karena satu sifat orang Karo yang sangat menonjol ialah kejujuran dan ketulusannya, sehingga keterbukaan tak soal. Mengapa harus takut atau menutupi yang jujur dan ketulusan. Karena itu juga saya yakin bahwa kita bisa menemukan sesuatu yang baru dari dialog ini, yang akan bisa dipakai oleh seluruh publik dunia demi kebahagiaan semua, keadilan bagi semua.




Hanya Melihat Sisi Negatif Neolib

”Teropong analisis yang kita gunakan kabur sebelah. Mengapa saya katakan kabur sebelah, karena hanya melihat sisi negatif dari neolib saja. Apakah kiranya bisa dipaparkan sisi positifnya?” kata Advent Tambun di milis tanahkaro. 

neoliberalisme 3Bagus sekali pembukaan ini, ‘positif dan negatifnya’. Unsur-unsur terpenting dalam menilai apa saja; orang, sikapnya, perangainya, sikap politiknya dsb atau benda apa saja. Itu yang sudah biasa juga kita ingatkan dalam diskusi milis, ’melihat dari semua segi’ terutama dari segi-segi bertentangan. Di situ termasuk positif dan negatifnya.

Terjadi satu kepastian: yang pro melihat banyak positifnya dan sebaliknya bagi yang kontra melihat lebih banyak negatifnya. Itulah yang perlu dikemukakan dengan semua argumentasinya.

Perlu ditambahkan bahwa argumentasi bisa betul bisa tidak, ilmiah atau tidak, berguna atau tidak, dsb. Tetapi harus dikemukakan di depan yang lain yang akan meninjau pula dari segi lain atau bertentangan. Ini akan lebih menarik kalau didasari pula oleh pengalaman masing-masing dalam kehidupan sehari-hari, atau teori. Dari situ argumentasi juga berubah dan berkembang.

 




Artikel Risal Kurnia:

 Dengan judul ’Neoliberalisme Memperparah Ketimpangan Dan Kemiskinan’ ini baik sekali untuk menambah pengetahuan kita bagaimana para penguasa di Indonesia mengabdikan dirinya dalam mempraktekkan ideologi neo-liberalisme, . . .  Juga sangat bermanfaat untuk memperkaya argumentasi dalam menangkal dan mencegah kita terjerembab di kubangan lumpur fanatisme dalam bersikap thd kekuasaan Jokowi-JK.” 

neoliberalismeDi sini terlihat pendapat yang menganggap bahwa penguasa Indonesia Jokowi-JK ‘mempraktekkan ideologi neo-liberalisme’.

“Dan juga pentingnya ‘memperkaya argumentasi’ supaya kita tidak ‘terjerembab di kubangan fanatisme dalam bersikap terhadap kekuasaan Jokowi-JK’,” tulis Christian Ginting dalam diskusi di milis tanahkaro itu.

Terlepas dari pandangan atas kekuasaan Jokowi-JK, Christian Ginting menginginkan kita menghindari ‘fanatisme’ dan pentingnya ‘memperkaya argumentasi’. Ini tentu positif bagi semua pemain diskusi dan dalam dialog apa saja. Artinya, menghindari fanatisme dan memperkaya argumentasi, lebih mendalam, lebih luas dan lebih ilmiah tentunya.  

Satu lagi yang saya ingin masukkan di sini ialah supaya kita tidak mendiskusikan soal yang berlainan, maka perlu kita definisikan apa itu neoliberalisme dalam benak kita masing-masing supaya tidak terjadi yang satu bermaksud mengatakan kucing tetapi yang lain menaggapi harimau. Neoliberalisme asalnya sudah kita ketahui semua, dari liberalisme klasik, dimulai dari The Wealth of Nation Adam Smith. Didasari dengan ’laissez faire’ atau biarkan semua jalan sendiri, tak perlu pemerintah bikin kontrol dalam soal ekonomi.

Ini yang klasik, banyak perubahan dan perkembangan, karena banyak keraguan terhadap kapitalisme yang sudah banyak menghadapi krisis yang sangat payah bagi semua termasuk bagi pengikut laissez faire itu juga. Lantas, setelah krisis 1930 muncul John Maynard Keynes, setengah sosialis/ komunis. Agak lebih cocok bagi orang sosialis, dan setengah dipakai di negeri komunis abad lalu. Ini juga gagal kita semua sudah tahu. Kebangkrutan orang sosialis dan politiknya maupun politik komunis tak terelakkan, begitu sampai sekarang dalam proses. Partai-partai sosialis Eropah drastis menurun terus.

Lantas sekarang ini mau pakai apa, atau teori apa untuk menegakkan ekonomi dunia itu kembali. Mau pakai sistem atau teori apa ngurus ekonomi itu, dasar titik tolaknya tetap saja yaitu privat atau pemerintah. Dari sinilah semua pertikaian itu. Dari sini pula kita bisa memulai.

Adapun istilahneoliberalisme’ agaknya muncul setelah ada era global, syarat yang memungkinkan keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha besar global yang bernama neoliberal, keuntungan yang sangat jauh lebih besar dibandingkan dengan kalau hanya beroperasi dalam satu negeri. Dari sini juga muncul semua komplikasi berbagai fenomena yang tak masuk akal tetapi jalan, seperti GREED AND POWER, ’war based economy’ atau ’terror based industry’.

Ini dulu sementara pendapat saya.

Terimakasih  




Leave a Reply