Pemuda Sinabung Jualan Nenas Demi Orangtua Yang Sakit

0
117

Jhon RockyJHON ROCKY. KABANJAHE. Sosok yang satu ini betul-betul tidak mengenal kata lelah. Dengan penuh optimis, dia berjalan sambil menyorong gerobaknya menjual nenas dari gang ke gang di seputaran Kota Kabanjahe. Teriknya sinar mentari tidak menyurutkan semangatnya untuk dapat bertahan hidup di pengungsian.

Namanya Anadi Batunanggar (34 tahun). Laki-laki ini sekilas tampak pendiam tapi sebenarnya dia humoris dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Warga Desa Berastepu yang terletak di kaki Gunungapi Sinabung ini ternyata sangat ramah.

Ketika ditemui Sora Sirulo sedang berjualan di parkiran RSU Kabanjahe [Rabu 20/1], laki laki 4 bersaudara ini dengan terharu menceritakan kisah hidupnya di nenas 1pengungsian pasca meletusnya Gunung Sinabung. Sia terpaksa berjualan nenas keliling Kota Kabanjahe untuk dapat membantu orangtuanya yang telah lanjut usia.

“Sekedar beli beras, bang,” katanya kepada Sora Sirulo sambil mengusap keringat.

Lelaki yang masih lajang ini juga mengaku tidak malu dengan profesinya yang sekarang.

“Kalau memang gara-gara pekerjaanku ini makanya wanita nggak mau aku dekati, aku pasrah saja, bang. Aku ini bekerja kan untuk nembantu orangtuaku yang lagi sakit-sakitan. Aku akan melakukan pekerjaan apa saja asal jangan mencuri atau melanggar hukum,” tandasnya.




Memang hidup di pengungsian sangat susah dan menyakitkan tidak sama dengan waktu masih di kampung halaman (Berastepu, Red.). Tapi Anadi mengaku tidak bisa menyerah.

“Aku akan terus berjuang demi mendapatkan sesuap nasi untuk adik-adikku dan orangtuaku,” katanya penuh harap.

Ketika ditanya oleh Sora Sirulo berapa rata-rata penghasilannya setiap hari, Anadi anak Sitepu Batunanggar mergana ini mengatakan, kalau dagangannya laku semua, dia bisa dapat Rp. 35 ribu dalam sehari. Kadang, kalau jualannya tidak habis, dia hanya bisa membawa uang sebesar Rp. 15 ribu ke rumah.

“Itulah hidup, bang, semuanya butuh perjuangan,” katanya mengakhiri.



Leave a Reply