Danau (Laut) Bangko: Persaudaraan Suku Kluet dan Sembiring di Karo (Bagian 2)

1
151

Oleh: Salmen Kembaren

 

SALMEN FOTOPeristiwa sejarah dengan kemiripan sejarah versi Karo dapat dibaca dari literasi Pustaka Alim Kembaren yang telah diterjemahkan oleh LIPI. Bisa juga dibaca dari buku Brahma Putro yang berjudul Karo dari Zaman ke Zaman. Sedang versi Kluet didapat melalui wawancara dengan beberapa orang Kluet.

Dalam Pustaka Alim Kembaren (Karo) diriwayatkan bahwa Sang Raja adalah keturunan dari Pagarruyung (Minang). Di Kluet sendiri memang terdapat banyak keturunan Minang Rantau yang disebut dengan Jamee atau Jamu yang dalam bahasa Aceh berarti ‘tamu’ atau pendatang. Namun, mengapa Raja tetap memakai Kluet sebagai identitasnya jika memang ia keturunan Pagaruyung? Ataukah karena perkawinan dengan suku Minang yang matrilineal juga mempengaruhi pemberian kata “anak Pagarruyung”?

Kluet 5
Pemukiman Suku Kluet di Kluet Timur

Terlepas dari itu semua bahwa Sang Raja memakai merga Sumbiring yang tidak ditemukan di suku-suku Minang (merga di Karo sebanding dengan suku di Minang). Sehingga kemungkinan terbesar adalah raja memang keturunan Kluet dan bisa saja melakukan perkawinan dengan keturunan Pagarruyung yang matrilineal sehingga disebut juga anak Pagarruyung (seperti halnya Tifaul Sembiring yang bisa mengaku orang Karo karena ayahnya dari Karo yang menganut garis keturunan bapak, tapi bisa juga mengaku orang Minang karena ibunya dari Minang yang menganut garis keturunn ibu).

Kedua versi sejarah menyebutkan raja merupakan orang yang dihormati karena kekuasaan, kekuatan (Bako-Bangko), dan kekayaannya. Ia telah mampu berlayar ke Makkah (Mekah – Malaka) untuk mendapatkan enam orang gundik. Terakhir ia memiliki istri yang juga keturuan dari Minang yakni Putri Kuala Ayer Batu yang dalam versi Karo dianggap sebagai ahli waris raja yang sah.

Gundik-gundik itu juga memiliki masing-masing anak, sehingga dapat ditarik kesimpulan, setidaknya ia memiliki 7 putra yang menjadi cikal bakal kerusuhan kerajaan. Mengenai agama raja terdapat dua versi. Dalam versi Karo tidak diketahui jelas bahwa saat itu kerajaan sudah memeluk Islam atau masih Hindu. Dari kata “keramat deleng” atau hantu dari gunung yang disebutkan bahwa Raja saat itu memiliki kepercayaan lokal ataupun jika terpaksa dapat dikategorikan sebagai Hindu.

kluet 6Namun, versi Kluet mengatakan bahwa penasehat kerajaan yang hendak mengukuhkan ahli waris Raja disebut dengan Tengku (ahli agama islam). Sampai saat ini, Suku Kluet mengkeramatkan sebuah bukit di sebelah Timur danau sebagai makam dari tengku penasihat kerajaan. Sedangkan versi Karo mengatakan bahwa penasihat tersebut ikut berlayar bersama keturunan raja yang bungsu yakni Putri Kuala Ayer Batu (anak mama Kuala Ayer Batu).

Versi berbeda lainnya itu sebab hancurnya kerajaan yakni versi Karo karena keenam anak raja lainnya tidak sudi mengukuhkan saudara bungsu mereka sebagai ahli waris kerajaan sehingga keributanpun tak terelakkan. Keributan tersebut berujung pada marahnya keramat hutan yang menancapkan tongkat di tengah kampung. Bekas tancapan tongkat tersebut memunculkan air dan banjir besarpun tidak terelakkan.




Versi Kluet sedikit berbeda yakni dari ketujuh turunan raja tersebut tidak satupun yang cocok duduk di kursi kerajaan melainkan hanya seekor anjing yang menaiki kursi tersebut. Karena tidak terima situasi, anak-anak raja akhirnya berebut kursi dan seorang penasihat raja menancapkan tongkat di tanah dan memunculkan semburan air yang berujung pada banjir bandang.

Kedua cerita menyebutkan bahwa banjir tersebut tidak mengakibatkan kematian besar-besaran di Kluet melainkan terjadi persebaran masyarakat. Versi Karo menyebutkan bahwa keenam anak raja dari gundiknya dikatakan diselamatkan oleh banyak hal. Mereka adalah keturunan raja yang hijrah ke daerah pinggiran Danau Toba (Silalahi/Selaki dan keturunannya?). Sedangkan anak bungsu dan rakyatnya dikatakan berlayar melalui sungai Alas dan mendarat di Ketangkuhen (Alas). Dari Alas menyebar ke Langkat dan Karo saat ini.

Bersambung




1 COMMENT

  1. Daeerah Karo dan yang ada ‘karonya’ kelihatan luas, tetapi dari segi jumlahnya yang lebih kecil bikin problem tersendiri pula dibandingkan etnis-etnis lain yang jumlahnya besar.
    Perbanyak jumlah Karo! Ini kepada yang akan bentuk rumah tangga. Ini juga jalan penting ke survival etnis/kultur Karo.
    MUG

Leave a Reply