MENGAPA NEOLIBERALISME?

0
294

Oleh: Daud S. Sitepu (Jayapura)

 

daud sitepuNeoliberalisme jika kita diskusikan sangat menarik dan panjang ulasannya, tergantung kedalaman pemahaman masing-masing. Apakah neolib bermanfaat atau merugikan bagi manusia? Faktanya terjadi di dunia ini dan banyak penganutnya. Atau mereka yang kita katakan neolibs bisa jadi juga merasa tidak seperti itu. Lalu, jika anda pada posisi ini, maukah dikatakan sebagai Neolib?


Neoliberalisme adalah paham ekonomi yang mengutamakan sistem kapitalisme perdagangan bebas, ekspansi pasar, privatisasi penjualan BUMN, deregulasi penghilangan campur tangan pemerintah dan pengurangan peran negara dalam layanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, dll.

Negara kita menganut paham ekonomi kerakyatan sebagaimana tercermin dalam UUD 45 ayat 33: Energi, air dan kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Beda lagi dengan paham ekonomi sosialis yang mana seluruh kepemilikan adalah milik negara 100 persen.

neoliberalisme 7Dari 3 paham ekonomi di atas, terlihat jelas perbedaan yang kontras. Namun, faktanya negara-negara maju banyak menganut paham neoliberalisme. Apakah karena mereka duluan merasakan kemerdekaan? Ataukah karena mereka duluan mengalami kemajuan ekonomi seiring dengan munculnya para pakar ekonomi di negara mereka? Atau karena mereka sudah tahu mana yang lebih menguntungkan dan mereka siap dengan pola itu.

Kita ambil contoh Tiongkok atau China. Dulu, mereka ketat sekali menganut pakam sosialis. Akhir-akhir ini sudah campuran. Semenatara itu, USA dan Eropah tetap di Neoliberalisme atau paham Globalisasi. Tekanan terhadap neolib di banyak negara tidak bisa membendungnya, seperti IMF dan lin-lain yang berjalan terus.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita juga ada di tengah-tengahnya. Jika demikian, bagaimana kita sebagai suatu bangsa bersikap?

Mau tidak mau, suka tidak suka, Indonesia harus bisa bersikap mengambilnya sebagian dan melakukan ekonomi kerakyatan sebagian. Belum bisa murni keseluruhan. Manusia diperhadapkan kepada pilihan masing-masing.




Soal kaya dan miskin, malas dan rajin, catatan sejarah manusia telah terbukti benar kekayaan dikuasai oleh hanya sebagian manusia dan lebih besar kemiskinan dari pada yang kaya. Atau dengan kata lain, lebih sedikit yang kaya daripada yang miskin. Bahkan rasionya 10 berbanding 90 persen.

Mengapa? Bisa jadi karena hukum Tuhan. Hukum yang mana?

Artinya memang dikondisikan manusia itu seperti ini supaya ada kesalingtergantungan dan saling membutuhkan. Adanya hirarki dalam tatanan kehidupan. Misal saja, mengapa tidak semua kita jadi presiden? Mengapa tidak semua orang jadi pengusaha? Sepertinya sulit dijawab. Sama seperti pertanyaan mengapa banyak paham ekonomi di dunia?

Yang menjadi konsen ke depan adalah, bagaimana bisa tetap hidup dengan sejahtera atau survive apapun kondisinya?




Leave a Reply