Kolom M.U. Ginting: UNGKAP NEOLIBERALISME (1)

0
134

M.U. GINTING 3Saya merasakan kalau diskusi neolib di milis ini sudah berjalan bagus sekali. Terus terang dan jujur. Tak ada sikap menyembunyikan pikiran apapun selain mengatakan apa yang ada dalam hati dan yang sudah diketahui secara ’ilmiah’. Artinya, dari segi pengalaman maupun dari segi kesimpulan berbagai teori yang sudah teruji dalam pengalaman masyarakat.

Selain ’kopi darat’ yang sudah disetujui antara Advent TAmbun dan Kristian Ginting, tak ada salahnya juga saya pikir kalau diskusi dan percakapan neoliberalisme ini kita ’pelihara’ juga di milis ini. Tak akan ada ruginya, sebaliknya akan menambah terus wawasan dan pengetahuan semakin tergali. Begitu juga pengalaman semakin tambah saja karena saling melengkapi sesama kita.

”Neoliberalisme jika Kita diskusikan sangat menarik dan panjang ulasannya. Dan tergantung kedalaman pemahaman masing-masing. Apakah neolib bermanfaat atau merugikan bagi manusia? Faktanya terjadi di dunia ini dan banyak penganutnya. Atau mereka yang kita katakan neolibs bisa jadi juga merasa tidak seperti itu. Lalu, jika anda pada posisi ini, maukah dikatakan Neolib?” tulis Daud S. Sitepu dari Jayapura di milis itu (lihat juga di SINI).

neoliberalisme 9
Sumber: https://www.etsy.com/listing/65661241/banksy-street-art-graffiti-photography

Jika didiskusikan neoliberalisme ini bisa sangat menarik kata Daud S. Sitepu. Betul sekali, memang. Mari lihat. misalnya, kalau saya katakan bahwa neoliberalisme sangat negatif atau buruk, atau seperti perumusan jernih yang diungkapkan Kristian Ginting: ”Sama sekali tidak ada kebaikan dalam paham neoliberal. Ya, sama sekali tidak ada sehingga tidak mungkin saya menyebutkannya,”

Ungkapan Kristian Ginting tak meragukan, di samping melihat fakta sebaliknya juga jelas, dimana ’di dunia ini banyak penganutnya’ kata Daud S. Sitepu.

Sesuatu yang jelek yang sama sekali tak punya kebaikan, tetapi banyak penganutnya. . . .  Itulah yang bikin kita tergugah sehingga neoliberalisme itu masih tetap perlu dipelajari lagi, lebih mendalami seluk beluknya yang sebenarnya. Artinya, peninjauan dari banyak segi lainnya, terutama dari segi-segi yang selama ini belum pernah kita dengar. Segi-segi yang belum pernah kita dengar inilah yang akan membuka pikiran baru. Inilah yang menambah pengetahuan dan membuka kemungkinan baru yang bikin perubahan dalam pikiran, dan bisa juga dalam kenyataan.

Dengan munculnya neoliberalisme, kolonialisme sekarang malah menjajah juga ke bagian Utara dunia, bukan hanya bagian selatan seperti selama ini terjadi.

“It becomes obvious that neoliberalism marks not the end of colonialism but, to the contrary, the colonization of the North,” tulis Prof. Claudia von Werlhof, University of Innsbruck, Austria.

Jadi, Neoliberal sudah menjajah seluruh dunia. Iini tak perlu lagi kita ragukan. Karena itu, apa yang terjadi sekarang (Utara maupun Selatan) bukan lagi kapitalisme klasik dimana demokrasi bisa hidup berdampingan, tetapi dalam dominasi neoliberalisme suasana kapitalisme dan demokrasi itu sudah menjadi mitos saja.

 

Dalam hal itu Prof C von W bilang:




The notion that capitalism and democracy are one is proven a myth by neoliberalism and its “monetary totalitarianism”. “The primacy of politics over economy has been lost. Politicians of all parties have abandoned it. It is the corporations that dictate politics. Where corporate interests are concerned, there is no place for democratic convention or community control. Public space disappears. The “res publica” turns into a “res privata”, or – as we could say today – a “res privata transnationale” (in its original Latin meaning, “privare” means “to deprive”). Only those in power still have rights. They give themselves the licenses they need, from the “license to plunder” to the “license to kill” (Mies/Werlhof 2003, Mies 2005). Those who get in their way or challenge their “rights” are vilified, criminalized and to an increasing degree defined as “terrorists”, or, in the case of defiant governments, as “rogue states” – a label that usually implies threatened or actual military attack, as we can see in the cases of Yugoslavia, Afghanistan and Iraq, and maybe Syria and Iran in the near future.

Prof Claudia tulis artikel ini 2008, dan dan 3 tahun kemudian Syiria mulai diserang 2011, mulainya civil war. Lengkapnya lihat di SINI

BERSAMBUNG

 




Leave a Reply