Kolom Asaaro Lahagu: Polisi Butuh Polisi Hebat Untuk Membongkar Kasus Kematian Mirna

1
156

Asaaro LahaguTerkait kasus kematian Mirna, Polisi sesumbar mengatakan  bahwa telah mempunyai empat alat bukti. Empat bukti? Itu sudah sangat banyak bila polisi memilikinya.  Untuk menetapkan siapa pembunuh Mirna, cukup dua alat bukti saja. Pertanyaannya, mengapa  sampai hari ke-21, pelaku kasus kematian Mirna itu belum terungkap? Jawabannya jelas. Bukti yang dimiliki polisi kurang valid, reliable, meragukan, lemah dan masih ada celah hukumnya. Itulah sebabnya polisi tidak berani menetapkan siapa tersangka dan masih sibuk koordinasi dengan Kejati.

Hal yang amat jelas kepada publik sekarang adalah Kombes Krishna Murti dan Jessica Wong telah menjelma bak selebritis kawakan. Keduanya terus diburu media terkait kasus itu. Setiap kata dan gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh media. Maka tak heran, Kombes Krishna Murti lebih tenar dari Kapolda Metro Jaya dan bahkan Kapolri sekalipun. Hal yang sama dengan Jessica. Kemampuannya dalam menjawab pertanyaan wartawan, lolos dari lie detector dan sikapnya yang tenang, membuatnya semakin tenar menyaingi Agnes Monica.

Mengapa polisi begitu lambat menetapkan tersangka pembunuh Mirna dan terkesan tidak jelas? Padahal tempat kejadian amat jelas, saksi amat terang, penyebab kematian Mirna sangat gamblang. Di sini kita bertanya dan bertanya dan mulai meragukan kemampuan para polisi kita. Dalam mengungkap kasus Mirna, jelas amat dibutuhkan polisi-polisi spesialis yang sangat terlatih, sehingga mampu mengumpulkan bukti kuat yang menegaskan siapa pelakunya.

Selama ini polisi kita terbiasa dengan kasus yang sederhana dan tidak begitu rumit. Dalam beberapa kejadian dalam upaya mereka membongkar kasus, polisi  kita memakai cara-cara siksaan. Calon saksi yang diduga sebagai pelaku disiksa dengan berbagai cara terlebih dahulu agar mengaku. Karena sakit dan tak bisa bisa menahan mirna 3siksaan, maka calon tersangka terpaksa mengaku walaupun kadang dia tidak berbuat seperti yang dituduhkan. Maka tak heran, beberapa kasus kriminal terjadi salah tangkap oleh polisi.

Ketika polisi berhadapan dengan kasus pelik nan rumit dan tidak bisa memakai cara siksaan untuk mendapat pengakuan dari calon tersangka, maka polisi kita terlihat  amatir.  Mereka kesulitan mengungkap kasus misteri kelas tinggi yang membutuhkan inteligensi tinggi dengan kombinasi latihan mencerna. Jelas dalam kasus kematian Mirna, Polisi kesulitan mendapat bukti valid seperti saksi mata langsung, rekaman video, foto atau petunjuk sah seperti sisa racun Sianida yang dikantongi pelaku.

Ketika kasus kematian Mirna terkesan terkatung-katung alias mulai tidak jelas, kita mulai merindukan  polisi-polisi berkemampuan analisa tinggi,  pengamatan tajam, kemampuan penyelidikan brilian, memiliki surveillance dan under cover ediciting yang piawai. Kasus Mirna jelas telah menarik perhatian publik dan berskala nasional. Publik sangat mengharapkan kerja cepat polisi, berkelas  dan ber-IQ tinggi. Jika kemampuan personel polisi kita masih rata-rata apalagi kalau di bawah rata-rata, maka jelaslah sangat sulit mengungkap kasus pembunuhan Mirna itu. Sebab mengungkap kasus pembunuhan memerlukan kecerdasan berpikir, kemampuan analisis tinggi.




Jelas dalam membongkar berbagai kasus kriminal dengan tingkat kerumitan yang tinggi, kita sekali lagi membutuhkan polisi-polisi cerdas. Polisi-polisi yang berkemampuan tinggi yang dengan mudah dapat mengungkap misteri sebuah kasus pembunuhan. Apakah semua polisi memiliki keahlian mengungkap kasus pembunuhan? Tidak. Saya yakin bahwa tidak semua polisi memiliki kemampuan itu. Hanya polisi-polisi berbakat dan memiliki hobby sebagai seorang penyelidik saja yang dapat melakukannya. Tidak semua polisi dapat mengungkap kasus pembunuhan gelap. Hanya polisi berbakat dan dikaruniai talenta oleh Tuhan saja yang mampu melakukannya. Sebab menyelidiki sebuah kasus pembunuhan harus didasari panggilan nurani dan dilakukan dengan ketulusan. Di sana dibutuhkan daya tahan, kesabaran, kecerdasan extra. Selain itu harus menguasai perundang-undangan dengan baik plus kejujuran, keberanian dan kegesitan. Jika tidak, tidak akan berhasil.

Seorang polisi hebat di bidang reserse, juga harus mempunyai jiwa haus tentang hal-hal yang berbau detektif. Ia harus mampu mengamati secara tajam sebuah objek di hadapannya. Kemampuan pengamatan  dan analisis tinggi terhadap sebuah objek merupakan syarat utama bagi seorang menjadi  penyelidik dan penyidik polisi. Misalnya kepada sang penyelidik itu ditunjukkan sebuah BATU kemudian ditanyakan kepadanya apa pendapatnya tentang batu itu. Seorang polisi jenius akan menjawab sebagai berikut:

mirna 2Kata BATU terdiri dari empat huruf, dua konsonan yakni B, dan A,  dan 2 vocal yakni A dan U. Konsonan B terdapat juga pada huruf awal nama orang seperti Baim, Badu, Blair dan sebagainya. Blair merupakan nama belakang perdana menteri Inggris yakni Tony Blair dari partai Buruh. Nama Buruh mulai sangat terkenal ketika terjadi revolusi Industri di Inggris, Perancis dan Eropa Barat lainnya. Barat identik dengan kemajuan peradaban manusia. Di Baratlah dicetuskan ide demokrasi yang melahirkan partai Demokrat ratusan tahun sesudahnya pimpinan SBY. SBY adalah Presiden Indonesia yang keenam dan memerintah selama sepuluh tahun. Selama pemerintahan SBY, mulai terkenal kata ‘citra’, pencitraan. Kata citra juga dipakai untuk pelembut kulit wanita dengan merk citra sehingga seorang wanita dapat memancarkan citra positif sama dengan polisi. Jika citra polisi baik, maka masyarakat pun percaya kepada polisi.

Bagi seorang polisi  ber-IQ tinggi dengan mudah dirinya dapat menguraikan sebuah objek yang dilihatnya sampai sedetail mungkin. Ia dapat menghubung-hubungan dengan cepat dan merangkainya sedetail mungkin. Jadi, untuk menjadi seorang polisi di bidang reserse mutlak harus cerdas dan jujur juga. Sebab jika hanya cerdas saja tetapi tidak jujur akan sia-sia. Polisi ini dapat disuap penjahat sehingga sebuah kasus tidak akan terungkap. Makanya untuk menjadi seorang polisi reserse harus melalui tes IQ tes kemampuan analisa. Tes kemampuan penggambaran sebuah objek.

Nah, pertanyaanya adalah bukankah polisi-polisi di negeri ini sudah melalui seleksi yang ketat? Hehe tentu, mereka masuk ke reserse melalui seleksi ketat. Tetapi, ada anak teman saya masuk reserse karena membayar. Nah ketahuan, jika demikian maka pantas kasus Mirna itu semakin tidak jelas haha.




1 COMMENT

  1. Bagus analisa kolom AL ini. Tak sembarangan memang menetapkan siapa yang bersalah dalam kematian Mirna.
    Menarik juga dari analisa psikologis dari Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel. Dia bilang: Pembunuhan dengan sianida biasanya bersifat dingin, tak ada emosional di dalam aksinya.

    “Tidak ada kebencian di situ, tidak ada sakit hati di situ, pembunuhan dengan sianida bukan karena amarah atau sakit hati tapi lebih pada isu-isu yang lebih tinggi, entah itu karena persaingan bisnis, apa itu untuk menutupi skandal, untuk menghabisi lawan politik, tapi tidak berkaitan dengan hati dan perasaan,” jelas Reza.

    Contohnya katanya pembunuhan Munir.

    Kalau kasus Mirna dikaitkan ke pandangan ini, bisa jadi persoalnnya lebih besar daripada motif pribadi.
    Mungkinkah? Atau mungkinkah polisi kita bisa melihat lebih jauh dari pada apa yang sudah terlihat?

    MUG

Leave a Reply