Itu Hanya Guyonan Puan, Sih, Jangan Masuk ke Hati

0
168

Daud S. Sitepu (Jayapura)

 

 

daud sitepuPernyataan Puan Maharani agar rakyat miskin diet dan melarang banyak makan sebenarnya adalah guyona saja. Dia kn tetap menyetujui penambahan anggaran untuk Raskin.

Ada memang yang perlu diubah atas pola makan bangsa kita. Jaman Suharto kita disuruh semua anak negeri makan nasi dari beras. Seiring dengan itu pula dari Amerika ditekankan makan gandum untuk orang Indonesia dengan segala alasan. Intinya bisnislah.

Jik kita amati alam kita, boleh dibilang kita sangat kaya dan bersyukur hampir di setiap daerah punya ciri khas makanan dasar untuk hidup. Contoh di Papua, banyak sagu sebagai makanan dasar dan alami turun menurun. Di pegunungan Papua masyarakat makan umbi-umbian dan biji-bijian atau buah-buahan.

Di daerah-daerah lin di Indonesia ada juga yang makanan pokoknya sagu seperti di Puan MaharaniPapua seperti halnya di Kalimantan dan Mentawai sebelum mereka secara perlahan diubah di masa Orde Baru untuk mengkonsumsi beras. Ada juga yang makanan pokoknya jagung seperti dulunya di Jawa Timur.

Suku Karo mengenal sagu, talas, ubi, biji-bijian, dan tentu saja beras sebagai makanan dasar walau mereka juga bisa mengolah talas, ubi, dan biji-bijian sebagai sayuran pengiring makanan pokok.

Jika bisa dikombinasikan dan divariasikan bahan serta pengolahan makanan dasar kita maka kita tidak akan berkekurangan beras. Memang sudah menjadi acuan kita hanya setelah makan nasi dari beras kita baru merasa sudah makan. Karena itu pula kita dipaksa menggenjot produksi dan distribusi beras sebanyak-banyaknya. Sementara lahan untuk bertani padi semakin sempit.




Karena itu pula, pemerintah harus mengimpor beras, membuka lahan baru dan meningktkan pembangunan irigasi yang baik.

Mari kita kembali ke alam menyesuaikan pola makan yang sehat dengan sayur-sayuran, biji-bijian, umbi, jagung, dan lain-lain, dipadukan dengan makanan lainnya. Sesuai dengan alam dimana kita hidup.

Semoga tetap sehat dan tidak kekurangan giji.




Leave a Reply