Kolom M.U. Ginting: PELAKU TEROR ADALAH JUGA KORBAN

0
123

M.U. GINTING 3Patut diberi apresiasi kepada Pak Sutopo, orangtua dari Dian (pelaku teror Thamrin) yang berani hadir dan minta maaf kepada keluarga korban akibat teror Thamrin. Sutopo tak hentinya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya keluarga korban bom Thamrin terhadap apa yang dilakukan oleh Dian alias Afif anaknya sendiri.

Anak Pak Sutopo (Dian) sebenarnya juga adalah salah satu ’korban’ dari jaman ’terror-based industry’ yang dilancarkan di seluruh dunia oleh pemilik industri itu (bankir besar/neolib global). Pada umumnya orang-orang yang direkrut oleh ’teror-based industry’ ini adalah orang-orang naif, penganggur, atau kriminal. Dari segi keluarga Dian, Pak Sutopo kelihatannya hanya seperti orangtua-orangtua baik saja karena juga berani minta maaf kepada rakyat Indonesia.

Kejadian seperti ini sangat jarang dan mungkin yang pertama. Ini tentu akan memberikan imbas positif bagi orangtua-orangtua lainnya dalam mengurangi orang-orang naif anak-anak mereka untuk ikut-ikutan dalam mensukseskan penjualan senjata/ bom canggih dari ’terror-based industry’ atau ’war-based economy’ yang berpusat di Barat. 

 ‘Teror-based industry’ atau ’War-based economy’ sangat tidak sesuai dengan way of thinking rakyat negeri Indonesia . Tidak ada satupun kultur dari sekian banyak kultur-kultur  daerah di Indonesia yang setuju atau simpati pada ‘terror-based industry’ atau ‘war-based economy’ yang selalu mengutamakan duit, duit, dan sumber duit, SDA atau pajak rakyat. Kultur-kultur daerah-daerah Indonesia semuanya berdasarkan orang-orangan 2kejujuran dan ketulusan. Itu sudah terbukti dan dipraktekkan dalam melawan penjajahan menuju kemerdekaan negeri ini. Sampai sekarangpun juga masih begitu sifat dan sikap mayoritas rakyat/ kultur Indonesia.

Karena itu, ikut-ikutan membunuhi orang, menembaki orang atau membomi orang sebanyak mungkin untuk melancarkan penjualan produksi satu industri tertentu (senjata canggkih dan bom canggih) dan memperkaya segelintir orang-orang tertentu (motif GREED AND POWER), adalah sangat tidak sesuai dengan filsafat hidup kultur-kultur dari rakyat Negeri Indonesia. Karena itu juga Indonesia terlihat semakin mempertinggi kewaspadaannya dan terutama mempertinggi pengetahuannya untuk tidak tergelincir ke dalam arus penipuan dari ’terror-based industry’ seperti yang terjadi pada diri Dian anak pak Sutopo itu.

Siapakah yang menikmati kematian Dian? Atau, siapakah yang dapat keuntungan dari kematian Dian?

Kalau dilihat dari segi agama (Islam) Wakil Presiden JK sudah bilang kalau terorisme sekarang tak ada sangkut pautnya dengan agama Islam. Betul memang, tak ada lagi yang percaya kalau terorisme tipe Thamrin itu adalah untuk kepentingan agama Islam, apalagi membela Islam. Islam mana pula yang menganjurkan tembak sebanyak mungkin dan bunuh sebanyak mungkin atau bom sebanyak mungkin supaya orang mati sebanyak mungkin. Terorisme tahun 1970-an dari pihak anak-anak muda jaman itu terjadi karena mau memperjuangkan keadilan dah hak-hak rakyat, dan melawan ketidakadilan dari pihak penguasa pada jamannya. Tetapi terorisme sekarang tak ada bau-baunya lagi seperti  terorisme tahun 1970-an itu yang semat-mata melawan kekuasaan yang dianggap sumber ketidakadilan. Terorisme sekarang tugasnya cuma membunuhi orang sebanyak mungkin.




Bahwa akan masih banyak orang yang suka rela dan senang melakukan hal itu (membunuhi orang) adalah masuk akal, karena makin banyak juga orang-orang kriminal di dunia ini (pengaruh narkoba dsb), begitu juga orang-orang naif yang gampang tertipu atau yang brain wash masuk surga kalau bunuh diri. Di kalangan orang-orang kriminal memang sangat senang menerima tugas begitu, dapat kekuasaan hebat karena dikasih senjata canggih, dikasih duit atau dijanjikan duit banyak dan yang paling sangat istimewa ialah bebas bunuh orang, cukup dengan tuduhan atau alasan ’kafir’. Siapa pula orang kriminal yang tak menerima kesempatan begitu. Hanya orang yang setengah kriminal yang ragu menerima tugas hebat begitu, karena itu juga industri ini (’terror-based industry’) hanya memakai orang-orang yang 100% kriminal dan 100% naif yang percaya langsung masuk surga begitu selesai bunuh diri.  

Sangatlah masuk akal sepenuhnya kalau Presiden Jokowi bilang tak perlu takut sama teroris-teroris ini. Betul sekali, mengapa harus takut pula sama orang-orang kriminal dan orang-orang naif yang begitu gampang tertipu. Semuanya ditugaskan hanya membunuhi orang sebanyak mungkin.

Betul, tak usah takut, memang. Buktinya, juga aparat kita bisa menumpas habis orang-orang teroris Thamrin ini hanya dalam waktu menit-menitan saja, dalam waktu 21 menit sudah habis semua.








Leave a Reply