Kolom Bastanta P. Sembiring: Kita Tidak Sama Tapi Saling Mengasihi

1
94

bastantaSiapa bilang kita sama? Saat kita dilahirkan ke dunia ini, kita sudah berbeda. Kelamin, kulit, rambut, mata, hidung, suara, struktur tulang, dlsb. Dalam perkembangannya pun yang lazim kita sebut peradaban yang salah satu produknya adalah budaya, juga berbeda. Itulah keajaiban karya Yang Kuasa. Jika ada yang bilang kita semua sama, itu tidak ada ubahnya upaya menggeneralisasikan, dan tidak usah terbuai dengan teori-teori yang demikian.

Indonesia lebih maju dari bangsa di dunia ini dalam hal mengelola perbedaan. Bukan menyamakan. Bhineka Tunggal Ika dalam semboyan negeri, bermakna berbeda tapi satu tujuan. Bukan menghapus perbedaan agar terlihat satu. Ini sekedar persinget man bandu kerina pemuja dan pakar “semua sama”.

Saya jadi tergelitik saat saya dibilang, “la radat” karena saya katakan adat Karo dan Batak tidak sama. Bahkan, saya dibilang bukan orang Karo karena tidak mengakui Tarombo Si Raja Batak, dan lebih dibilang mehado karena menjelaskan perbedaan antara “Dalihan Na Tolu (Batak: 1. Dongan Sabutuha, 2. Hula-hula, dan 3. Boru)” dengan “Sangkep Nggeluh (Karo: 1. Sembuyak, 2. Anak Beru, 3. Kalimbubu, dan 4. Senina)” yang kebanyakan orang sekarang bilang “Rakut Sitelu (?)”

KBB 4Jadi ingat “trias politica”-nya, Montesque (Perancis).

Lebih radikal lagi kam saya ajak untuk melihat perbedaan itu.

Coba kam yang Muslim, Hindu, Budha, Yahudi, penganut Saksi Jahowa ataupun Adventis, apakah kam percaya Yesus itu Tuhan? Tidak usah kam takut ada tersinggung. Bilang saja, tidak!

Atau, kam yang Nasrani/ Kristen. Apakah kam percaya Muhammad itu Rasulnya Allah dan Nabi yang terakhir? Atau yang lainnya, apakah anda percaya pada ke-Esaan Wisnu atau Sang Budha?

Bilang saja, tidak! Kalau memang tidak.

Sebab, jangan ada dusta diantara kita, tapi dipancarkanlah pesona Ilahi junjungan kita masing-masing. Atau bahasa kerennya, cinta kasih. Itu yang penting.




Tidak usah bangga kali katakan kita sama kalau memang berbeda. Sebab, bukan sama yang disama-samakan itu yang buat indah, tetapi perbedaan yang saling melengkapi itu yang perlu dikembangkan. Jadi, jangan takut dengan perbedaan, karena seperti kata orang Karo, “je maka dat kari nanamna“.

Perpecahan, peperangan karena berbicara perbedaan itu labo kari lit e. Yang ada upaya pembodohan dengan kedok cinta kasih dan sesama. Seri kita, satu darah kita, sesama kita, dll intinya, ingetndu: kesamaan itu hanya berlaku dalam satuan kecil, teman. Adi seri kita nina bas jumpa simbelang enda, ugapa pe lit nge sura-surana.

KBB (Karo Bukan Batak) bukan berarti Karo mau perang/ musuhan dengan Batak, atau mau meruntuhkan GBKP. Itu pemikiran bodoh.

Jadi ingat lagunya “Halo-halo Bandung”, yang katanya, “Halo-halo Bandung, Ibu Kota Periangan…[dst]”. Mejuah-juah.

(Silahkan lanjutkan dengan cinta kasih. Salam BHINEKA TUNGGAL IKA. Mejuah-juah).




1 COMMENT

  1. Wow, agaknya semakin lama semakin mendalam kita menjelajahi perbedaan itu. Perbedaan secara kultur maupun perbedaan didalam satu kultur. Rasanya sudah semakin tenang kita menghadapi berbagai perbedaan itu.
    Sangat menarik soal perbedaan dan diskusi soal pebedaan, dan perbedaan pandangan. Perbedaan pandangan bikin kontradiksi, dan kontradiksi pasti bisa menggali lebih jauh sudut-sudut yang kedua belah pihak belum pernah mendengar atau tak menyangka selama ini. Dari situlah pembaruan.

    MUG

Leave a Reply