Kok Saya Disapa Horas? (Apakah Mejuah-juah Tak Lagi Berarti?)

8
208

Oleh: Abdi Pranata Karo-karo Purba

 

Abdi PranataSelama ini orang Karo yang datang ke daerah mana pun di Indonesia selalu disapa oleh oang lain dengan ucapan HORAS. Padahal, sapaan hangat suku KARO kan MEJUAH-JUAH. Apakah ini tidak diskriminasi namanya?

Pengalaman pribadiku di tahun 2010, saat merantau ke Bekasi. Ketemuan aku dengan seorang bermarga Marbun. Dia berbahasa Batak kepadaku. Karena aku diam saja (karena memang tidak mengerti bahasa Batak) langsung dia bilang: “Orang Batak macam apa nya kau, lae? Ngomong Batak pun gak tau kau.”

KBB 6Seperti itu lah ungkapannya kepadaku. Appakah itu tidak DISKRIMINASI namanya? Saya lancar berbahasa Karo tapi tidak mengerti sama sekali bahasa Batak.

Di Dumai, bertemu aku dengan marga PURBA (seperti nya PURBA dari TOBA). Dia tanya margaku. Kukatakan Karo-karo Purba. Terus dia bilang: “Sejak kapan pulak ada marga PURBA dari KARO?”

Apa itu tidak DISKRIMINASI namanya?




Pertanyaanku pada kam  yang merasa KONTRA dengan pergerakan KBB (Karo Bukan Batak), mau sampai kapan kita sebagai Suku Karo ini didiskriminasi oleh kebudayaan lain? Mau sampai kapan kita sebagai orang Karo punya jati diri sendiri?

Seharusnya kita bangga dengan itu. Kita sebagai orang Karo punya jati diri sendiri, dan seharusnya kita bangga dengan itu.




8 COMMENTS

  1. Keresahan dan harapan ibu Evelyn Silitonga di atas dapat dipahami, namun penamaan dan tag line KBB bukan tanpa alasan, yaitu karena sebagian orang non Sumut (orang Minang, Jawa, Sunda dll), sebagian orang Batak dan sebagian orang Karo telah terlanjur menganggap orang Karo adalah bagian dari Batak dengan penyebutan Batak Karo. Karena itu diperlukan tagline yg tegas agar para pihak yg tersebut diatas mulai sadar. Sebetulnya konten KBB tak lain dan tak bukan berupa mengembalikan marwah dan jatidiri masyarakat Karo yang benar. Kenapa kesannya kok KBB baru akhir2 ini ? Nama KBB barangkali baru terdengar bergaung sekitar 10 tahun terakhir, namun inti gerakan ini (dengan nama dan person yg berbeda2) secara sporadis sebetulnya telah berlangsung puluhan tahun, terutama di luar Sumut, namun tidak segencar dan semassiv sekarang ini. Intinya menyurarakan penolakan dan keresahan orang Karo dikategorikan atau disebut sbg Batak. Pengalaman2 sebagai perantau Karo di luar Sumut terutama di Jawa sangat banyak terhadap hal ini. Saya sendiri sebetulnya maklum akan hal ini mengingat populasi Batak 6 kali lbh besar dari Karo, dan Batak telah lebih lama berkelana di perantauan serta lbh banyak sebagai figur publik shg otomatis lbh dikenal. Barangkali di satu sisi orang Batak dalam hati kecilnya merasa “agak superior” dibanding orang Karo dan yakin kalau orang Karo pasti senang jika orang Karo ikut dipanggil/disebut orang Batak krn “ikut menikmati keterkenalan” orang Batak. Jika ada anggapan itu maka itu adalah anggapan keliru, kecuali mereka yg oportunis ada maunya. Dalam hal ini orang Karo sama sekali tidak bangga “ikut terkenal” karena Batak. Silahkanlah orang Batak nikmati keterkenalannya sendiri, biarlah orang Karo dikenal apa adanya, tak perlu terkenal karena dikerek (didongkrak) org lain. Bahwa sebagai etnis bertetangga “ada hubungan istimewa” ketimbang etnis lain tentu hal itu keniscayaan, tapi bukan berarti hubungan bertetangga itu mengilangkan jatidiri salah satunya. Bahwa tetangga terkenal, kita ikut bangga dan senang, tapi bukan berarti kita senang mendompleng atau senang ikut didomplengkan. Ada pepatah Karo, “ajang nge maka ajang” (hanya milik kitalah milik yg sejati) yang didalamnya tercermin sifat sejati orang Karo yg tidak suka mendompleng, mempermilk hak milik orang lain.

  2. Mohon maaf sebelumnya mungkin komentar saya tidak berkenan.

    Saya membaca artikelnya sdr Abdi Pranata Karo-karo Purba, saya merasa isinya negatif terhadap org Batak.

    Saya org Batak. Batak dari Toba (menurut cerita nenek saya). Saya lahir dan besar di Jakarta.
    Seumur hidup saya (usia saya saat ini 62th), dan juga sejak sebelum lahir, alm. ibu saya bersahabat dg seseorang gadis yg kemudian menikah dg seorang pria yg bermarga Bangun. Saya hanya tahu bhw oom Bangun ini org BATAK Karo. Tidak pernah dijelaskan baik oleh keluarga saya maupun oleh keluarga Bangun bahwa mereka BUKAN org Batak.

    Baru sejak di pasar malam Purmerend thn 2015 lalu utk pertama kalinya saya dengar ucapan dr sdr. Ginting bahwa org Karo bukanlah org Batak.

    Sekarang saya baca di artikel diatas bahwa kami org Batak diskriminatif, bahkan sdr/sdri Mug menulis di komentarnya bahwa kami memaksakan kehendak kami dalam hal kultur dan tradisi.

    Bisakah di coba untuk diterangkan lbh jauh bagaimana bisa sejak jaman dulu org Karo tidak pernah menjelaskan mengapa mereka bukan org Batak? Saya lahir thn 1953!

    Bukankah berarti selama ini anggapan kami bahwa org Karo adalah suku Batak karena ketidaktahuan kami, yg juga berarti org Karo tidak pernah menjelaskan perbedaan antara suku Karo dan suku Batak sejak jaman dahulu kala?

    Sebaiknya janganlah menulis hal2 negatif spt di artikel diatas sehingga rasa marah tumbuh dalam hati org Karo kalau ada pertanyaan2 dr org Batak seperti contoh2 dlm artikel tsb. Rasa marah akan menjadi besar dan berubah menjadi kebencian. Akibatnya bisa terjadi hal yg kita semua tdk inginkan yaitu perang suku. Jagalah jangan sampai hal itu terjadi.

    Apakah tidak sebaiknya org Karo mulai dg penjelasan secara positif bahwa suku Karo adalah suku tersendiri diluar suku Batak (tanpa singkatan KBB).
    Suku Karo punya kultur, tradisi dan bahasa sendiri, yg berbeda dg kultur, tradisi dan bahasa suku Batak. Tulislah artikel2 tentang sejarah suku Karo, kultur, bahasa dan lain sebagainya. Kalau misalnya sudah ada tulisan ini tolong berikan saya link nya.

    Saya sangat setuju dg komentar sdri Jenny Tarigan yg sangat baik dan positif. Chapeu!

    Indonesia begitu besar dan punya sangat banyak suku. Janganlah kita langsung beranggapan negatif karena ketidaktahuan suku lain. Jelaskan dg baik2. Suku Karo pun belum tentu tahu semua tentang suku2 lain.

    Tetapi sekarang saya tahu bahwa suku Karo bukanlah suku Batak walaupun pertanyaan saya diatas belum terjawab.

    Salam damai sejahtera bagi kita semua.

    • Masalahnya, kalau orang Karo diam saja tidak bilang kalau KARO BUKAN BATAK, biasanya orang Batak akan tetap meneruskan menuliskan bahwa Karo adalah Batak. Saya kasih contoh ya, itu Museum TB Silalhi menurut saya sengaja banget menempatkan Karo adalah Batak di museumnya. Komentar KUG sudah sangat jelas. Jika ingin tidak ada kampanye Karo Bukan Batak, sebaiknya mulai sekarang orang Batak juga hendaknya dengan jelas menyebutkan kalau Batak adalah: Samosir, Humbang, Silindung dan Toba. Sepertinya di orang Batak sendiri ada kesan tidak percaya diri, ketika memaksakan suku lainnya yang bukan Batak menjadi termasuk Batak.

    • Menurut situs resmi DPRD Sumatera Utara, Suku Bangsa BATAK terdiri dari 4 sub-suku bangsa, yaitu: SILINDUNG, SAMOSIR, HUMBANG, TOBA.

      Lihat sendiri di situs mereka kolom paling bawah http://dprd-sumutprov.go.id/index.php/tentang-sumut

      DPRD yang kebanyakan anggotanya orang Batak itu menuliskan begitu dan mengapa orang-orang Batak langsung marah kalau orang-orang Karo tidak mau dikatakan Batak?

      Yang menulis negatif selama ini apakah orang-orang Karo yang menegaskan dirinya bukan Batak atau orang-orang Batak yang selalu mengatakan Karo adalah Batak? Anda berada di pihak yang mana? (Tanyakan diri anda sendiri untuk mencek apakah anda tipe pencinta keadilan atau pencinta kekuasaan).

  3. Semoga kita suku karo lebih banyak berkarya kedepan. Tunjukkan kreativitas berbudaya, berseni, memakai kain uis nipes /beka buluh di setiap acara. Tidak malu mengatakan ‘aku kalak karo’ yg punya adat budaya yg baik dan berbeda tradisi dari suku batak yg lain. Meskipun ada yg kurang paham yg menyatakan ‘memang ada purba karo2’, mari kita beritahu mereka bahwa kita memang ada dan berbeda. Tetapi kita tunjukkan dengan karya nyata yg baik dan benar… Tetap berkarya anak2 suku Karo… maju terus pantang mundur…

  4. Sikap yang diceritakan diatas betul diskriminatif memang, karena memaksakan kulturnya ke kultur suku lain. Seharusnya saling mengakui, saling menghormati, dan saling menghargai sesama suku. Jangan memaksakan kehendak sendiri dalam soal kultur dan tradisi berbagai suku Indonesia. Sikap diskriminatif ini sangat berbahaya. Tiap suku bangsa berbeda dan punya kultur, tradisi dan way of thinking yang berlainan.

    Perbedaan adalah mutlak, dan objektif artinya adalah kenyataan dan tak tergantung kehendak pribadi siapapun. Dan sangat jelas terlihat dan sangat menyolok juga ialah perbedaan dalam kulturnya. Perbedaan ini jugalah yang telah membikin banyak perang etnis seluruh dunia dan telah makan banyak korban dan dibeberapa tempat masih juga perang sampai sekarang, seiring dengan pergolakan ethnic-revival atau cultural-revival rakyat-rakyat seluruh dunia.

    Di Indonesia sangat terlihat di Sumut ialah dikalangan orang/kultur Karo yang berbeda terutama dengan kultur Batak, dan di Aceh ialah dikalangan kultur Gayo dan Alas yang jelas berbeda dengan kultur etnis Aceh. Karena itu juga suku-suku ini mau bikin propinsi sendiri bernama ALA. Suku-suku lainnya di Aceh juga mau bikin propinsi sendiri dalalm ABAS.

    Di Sumut orang Batak mau bikin propinsi sendiri bernama Protap, dan orang Mandailing mau bikin Sumtra dan orang Melayu mau bikin ASLAB. Karo tentu propinsi Karo. Inilah semua pencerminan kultur dan revival kultur yang ketika di era Orba dianggap ‘satu kultur’ dan dikumpulkan dalam ‘satu karung’ yang dinamai sendiri menurut kehendak masing-masing siapa kuat dan besar lehernya seperti “Sejak kapan pulak ada marga PURBA dari KARO?”.

    Gubernur Aceh yang lama pernah juga ngomong soal budaya dan kultur Aceh yang sama semua, artinya dia terus terang tak mengakui adanya perbedaan, adanya kultur lain seperti Gayo, Alas, Tamiang, Simeulu dsb.

    Sekarang kita sudah sampai ke kenyataan dunia dalam soal berbagai kultur berbeda, Akuilah dan Hormatilah perbedaan berbagai kultur itu!
    Itulah bakal dasar kedamaian sesama suku bangsa negeri multi etnis Indonesia.

    MUG

Leave a Reply