Kolom M.U. Ginting: MEMBANDING ETNIS

0
129

M.U. GINTING 3Abdi Pranata Karo-karo Purba menulis: ”KBB telah berhasil mengajak saya untuk lebih mencintai kebudayaan Karo, lebih turut aktif melestarikan budaya Karo. Mungkin dari pernyataan saya ini sudah bisa merubah pola pikir kita mengenai KBB.”

Ini adalah satu pernyataan dan pengakuan yang sangat original dan memuaskan juga atau juga menggembirakan bagi pencinta kultur Karo.

Ini berarti KBB telah berhasil merubah pola pikir dalam mencintai kebudayaan Karo dalam rangka mengenal identitas Karo dan membedakan dengan suku lain dengan indentitas lain pula. KBB relatif telah berhasil MENCERAHKAN.

Dalam mengikuti perjalanan proses identity suku bangsa ini, telah banyak sekali akademisi dunia turun tangan. Apa yang bikin mereka turun tangan? Tak lain ialah KBB 8PERANG ETNIS dalam era ethnic revival dan cultural revival rakyat-rakyat dunia; perang yang sudah bikin banyak korban.

Perang memang mengubah segala-galanya, termasuk kesedaran dan pemikiran akademisi itu, sehingga mereka merasa terpaksa turun tangan melihat dan bikin analisa dalam pergolakan baru dunia. Kita bisa melihat juga perubahan pikiran di kalangan akademisi pada permulaan penulisannya di tahun-tahun terakhir abad lalu, dan kemudian dibandingkan dengan penulisan dalam Abad 21 sampai sekarang.

Saya ambil contoh penulisan Anthony D K dalam memulai pencerahannya, bagaimana dia menggambarkan atau membedakan berbagai kultur dan identity suku/ bangsa, dalam bukunya 1991 Culture, Globalization and the World System. Dia  bilang:

To be English is to know yourself in relation to the French, and the hot-blooded Mediterraneans, and the passionate, traumatized Russian soul”.




Jelas memang kalau mau tahu kita sendiri siapa sebenarnya, harus juga mengetahui perbandingannya dengan orang lain atau suku lain. Selanjutnya dia bilang, ini masih seperti ’manichean set’ jaman dulu, kalau mau tahu siapa orang Inggris, mengapa bilang ’enjoy your meal’ itu karena makanan orang Inggris tak pernah ada yang enak. Atau kalau orang Skotland kalau mau mengunjungi satu pesta bawa semua anak-anaknya. Membandingkan dan mengenal suku lain dari segi negatifnya.

Kemudian kita memasuki Abad 21 dan tulisan-tulisan akademisi itupun menjadi lebih jelas bisa dipahamai oleh semakin banyak orang. Lihatlah apa yang ditulis oleh Erik Lane soal suku dan kulturnya:

“The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

 Atau seperti juga dikatakan oleh professor sejarah J.Z.Muller:

“Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century.” (Jerry Z. Muller is Professor of History at the Catholic University of America).

KBB 9Dari pendapat 2 penulis ini sudah tak ada keraguan bagi kita semua, bahwa memang kita harus kembali ke kultur dan identitas kita dalam menghadapi persoalan dan pergolakan dunia dalam era globalisasi dan Abad 21.

Tetapi, dari kacamata sempit ’manichean set’ itu, kalau kita mau tahu siapa orang Batak yang orang Karo bilang orang yang ’tak berperasaan’, atau ’kai pe belasina’ dsb sedangkan kita orang Karo tak begitu. Atau mau tahu siapa orang Karo yang kalau orang Batak bilang orang Karo ’pendendam’ atau ’terlalu berperasaan’ dsb sedangkan orang Batak tak begitu. Atau kalau mau tahu siapa orang Inggris atau orang Skotland seperti saya katakan di atas, benarkah atau salahkah pendapat-pendapat itu?

Pada abad lalu, tak ada yang meneruskan untuk melengkapi pendapat-pendapat yang manichean itu. Tetapi sekarang sangat janggal rasanya kalau kita membiarkan tak selesai siapa orang-orang ini. Apalagi sekarang kita sudah pada era keterbukaan, tak ada persoalan manusia atau saling hubungan antara manusia yang harus ditutupi, karena semua bisa ditaruh di atas meja dan semua bisa kasih pendapat, dan bagi semua bermanfaat.




Pengetahuan juga sudah cukup tersebar dalam soal apa saja, termasuk dalam soal kultur dan suku bangsa di mana saja di dunia ini. Dulu kita belum jelas mengapa orang Karo itu begitu dan orang Batak itu begitu seperti dilukiskan di atas. Sebabnya yang utama ialah karena dua watak berlainan antara kedua suku itu, dimana orang Karo adalah introvert (stimulasi intern) dan orang Batak extrovert (stimulasi extern), yang bikin 2 pencerminan berlainan seperti siang dan malam dalam menghadapi kenyataan.

Soal suku bangsa memang sudah banyak yang meninjau dari berbagai disiplin ilmu, dan sudah ditulis oleh banyak akademisi dunia. Kita sangat berterimakasih.  

 




Leave a Reply