Kolom Joni H. Tarigan: HIDUP ADALAH BELAJAR DAN DIAJAR

0
185

joni hendra tariganManusia, entah itu dari keturunan manapaun, akan memiliki 2 persamaan. Persamaan pertama ialah, semua manusia itu terlahir tanpa mengenakan sehelai benangpun. Sehebat-hebat apapun keluarga yang melahirkan seorang bayi tidak ada satupun yang terlahir dengan balutan kain sutra dan juga langsung tertawa. Semua kita terlahir dengan kadangan telanjang dan jeritan tangis. Persamaan ke dua adalah ketika mausia itu menemui ajalnya. Sehebat apapun manusia itu, ketika usianya telah usai, tiada yang bisa memiliki jiwa walaupun raganya tetap ada dengan mummy. Firaun yang dimummi tidak akan pernah kembali seperti manusia lagi.

Pada masa antara kelahiran dan kematianlah yang membuat manusia itu berbeda, terutama diakibatkan oleh cara pandang manusia terhadap perjalanan kehidupan dengan segala suka dukanya.

Keturunan kerajaan yang kaya raya sekalipun jika memiliki cara pandang yang tidak belajar akan tergilas oleh perkembangan zaman dan ahirnya hilang, tinggal kenangan dalam tulisan sejarah. Sama halnya dengan seorang anak yang lahir di keluarga serba kekurangan, jika dididik menjalani kehidupan dengan bijak, akan merubah hidupnya dan peluangnya merubah dunia semakin besar.

sinabung 4
Model: Sefer Nanda Sitepu. Background: Gunung Sinabung yang kering kerontang.

Kehidupan diantara kelahiran dan kematian itu merupakan proses dimana kita manusia ini belajar dan diajar dengan segala pengalaman kita. Belajar dan diajar ini tidak mengenal tempat; harus di sekolah ataupun harus dengan keadaan terentu. Setiap perasaan dan sikap manusia adalah belajar dan diajar seiring dengan detak jantungnya, dan deru hembusan nafasnya juga. Belajar tidak terpaku pada apa yang kita dapatkan di sekolah. Banyak orang tidak bersekolah tetapi mampu merubah dunia ini, para filsuf misalnya.

Pengalaman kita kadang pahit kadang bahagia. Memang seperti lampu yang tidak akan menyala jika hanya ada muatan negatif saja atau muatan positif saja. Bumi ini pun mungkin akan tertutup air lautan jika hanya ada Kutub Utara saja atau Kutub Selatan saja. Suka duka adalah hidup. Ada yang menjadi lebih menikmati hidupnya setelah melewati pahitnya kehidupan, ada juga yang tersungkur dan ahirnya binasa setelah diterpa badai kehidupan.

Pengalaman adalah guru yang terbaik,  akan tetapi  jika kehidupan kita hanya dipenuhi oleh ketersadaran kita oleh kesalahan kita maka kegetiranlah yang selalu menjadi hidup kita. Ini juga mengartikan kita ini tidak belajar. Pengalaman itu guru yang terbaik, artinya kita harus belajar dari apa yang sudah kita lewati dan juga orang lain lakukan, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sering kali kita menyadari bahwa kita keliru dan sadar bahwa ada yang salah yang telah kita lakukan, akan tetapi kita tidak berusaha merubah kesalahan itu. Kita tidak benar-benar belajar dari pengalaman.




Kehidupan ini diselimuti dengan permasalahan agar kita manusia belajar dan kemudian berbagi kebaikan kepapa orang lain.

Kemudian, contohnya saja, kita menyatakan sudah dewasa, lulus dari perguruan tinggi, dan kemudian berkeluarga. Cobaan pun datang bertubi-tubi. Maka, di posisi ini, mungkin masalah itu datang untuk mengajak kita mempraktekkan apa yang kita pelajari. Kita yang sudah dewasa, tentunya bukan hanya usia yang menjadi patokan. Pribadi juga tentunya seharusnya dewasa. Ditambah dengan sudah lulus dari perguruan tinggi, maka sebaiknya kita mencoba untuk menghadapi masalah dengan ilmu yang telah kita peroleh.

Berbagai persoalanlah yang akan menguji kita apakah layak disebut dewasa, sudah berpendidikan, dan juga sudah berani berlayar dengan bahtera rumah tangga.

HIDUP ADALAH BELAJAR DAN DIAJAR, DIAJAR DAN BELAJAR. SELAGI MASIH ADA JIWA DI DALAM RAGA, SELAMA ITU PULA BELAJAR DAN DIAJAR ITU ADALAH BAGIAN YANG SILIH BERGANTI DALAM KEHIDUPAN INI.




Leave a Reply