Kolom Asaaro Lahagu: Ketika Mobil Fortuner Tidak Lagi Fortune (Beruntung) Tetapi Membawa Maut

0
169

Asaaro LahaguKecelakaan mobil Fortuner di Jalan Daan Mogot km 15 Jakarta Barat, Senin (8/2/2016) jam 04.00 pagi itu, sungguh tragis. Selain menewaskan suami isteri pengendara Mio dan dua orang penumpang Fortuner itu sendiri, juga melukai parah para penumpang lainnya. Keadaan mobil Fortuner itu pasca kecelakaan juga sangat rusak parah, menandakan dahsyatnya peristiwa tabrakan itu.

Saya tertarik mengomentari kecelakan itu karena Jl. Daan Mogot, tempat TKP adalah jalan raya yang hampir saya lalui setiap hari. Di Jalan ini sering terjadi kecelakaan  (teman saya pernah kecelakaan dengan tangan patah). Selain kontur jalannya bergelombang karena ada bagian jalan yang telah dicor sementara lainnya belum, adanya U-Turn yang sulit serta banyaknya pengemudi motor yang kurang berhati-hati di jalan ini, turut membuat angka kecelakaan cukup tinggi di jalan ini. Pagi sampai sore hari jalan ini terkenal dengan kemacetannya. Sementara tengah malam, jalan ini sepi menyeramkan.

Penetapan Riki Agung Prasetya (seorang mahasiswa)  sebagai tersangka oleh polisi atas kejadian itu sangatlah tepat dengan beberapa alasan. Pertama, Riki terbukti telah menegak minuman keras sebanyak 10 gelas sebelum kejadian itu. Kedua, dalam keadaan ngantuk karena habis dugem di Kalijodo, Riki masih memberanikan diri mengemudi. Ketiga, kecepatan kendaraan saat Riki mengemudi, mencapai 90-100 km. Keempat, Riki terobsesi kemampuan mobil Fortuner milik orang tuanya sebagai mobil kuat setara dengan Metromini. Poin keempat inilah yang yang menarik perhatian saya untuk diulas lebih lanjut.

Nama ‘Fortuner’ diambil dari kata ‘fortune’ yang artinya untung, nasib baik. Jadi kata ‘Fortuner’ menjadi kata benda milik yang artinya ‘pembawa keberuntungan, orang fortuner 3yang benasib untung, bernasib baik’. Orang yang mempunyai mobil Fortuner (harganya berkisar Rp. 500 juta, sekelas dengan Pajero dan CRV) berarti orang yang beruntung dalam kehidupan ekonominya. Para pemilik Fortuner adalah orang sangat beruntung karena mampu membeli mobil semahal itu (tergolong kelas atas). Maka mengendarai mobil Fortuner mendongkrak gengsi para pemakainya. Ia hanya kalah gengsi dengan para pemilik Toyota Harrier, Lexus, atau Land Cruiser, Mercy, BMW, Lamborgini dan Ferari. Tetapi jika dibandingkan dengan Agya, Ayla, Avanza, Brio, Karimun, apalagi dengan motor sekelas Mio, Fortuner jelas bagaikan gajah vs kancil.

Dengan penampilan garang, kuat dan perkasa, maka para pengemudi Fortuner di jalan raya sangat percaya diri. Mobil Fortuner (tidak semua), kerap memepet kendaraan kecil lainnya, berani beradu dan memotong jalan seenaknya. Dengan gaya mirip koboy, para pengendara Fortuner berlagak bak Metromini kecil di jalan raya Jakarta. Dengan perlindungan maksimal yang ditanam di mobil ini, maka para pengendaranya amat yakin akan keselamatan para penumpangnya. Padahal jelas sekali jika kecepatan mobil di atas 60 km, mobil merk apapun akan hancur jika tabrakan.

Kecepatan Fortuner maut pada speed 90-100 km (menurut investigasi polisi) itu ada kaitannya dengan keyakinan Riki akan kehebatan mobil Fortuner itu sendiri selama ini. Didukung oleh pengaruh Alkohol dan rasa ngantuk, kloplah sudah obesesi Riki di hari Imlek sebagai pengemudi hebat. Jika dikaitkan dengan keberuntungan pemilik Fortuner, maka semakin lengkaplah sudah. Hanya mereka yang mempunyai kemampuan ekonomi baik, yang bisa dugem di tempat-tempat hiburan malam. Orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi yang baiklah yang cenderung mencari tempat-tempat hiburan tambahan seperti di Kalijodo itu.




Kecelakaan yang menimpa Riki itu menjadi pembelajaran bagi siapa saja. Kecelakaan itu yang dominan adalah ‘human eror’ alias kesalahan manusia. Mendapat keberuntungan untuk mengendarai mobil kuat dan garang sekelas Fortuner tidaklah berarti mengabaikan aspek kelayakan bagi seorang pengemudi itu sendiri. Nyatanya Riki mengabaikan aspek keselamatan mengemudi. Di situ ada rasa mabuk, ngantuk dan kecepatan berlebihan dalam mengemudi. Akibatnya mautlah ganjarannya. Mobil yang tadinya sebagai lambang keberuntungan berubah menjadi pembawa maut dalam sekejap, mengambil nyawa orang lain dan membuat suram masa depan seorang balita.

Driver Gojek bernama Zulkahfi Rahman (30) dan isterinya Nur Aini (23) sebagai korban dari Fortuner itu sama sekali tidak menduga bahwa nyawa mereka berakhir tragis akibat kecerobohan pengemudinya. Hidup mereka semakin ditangisi ketika melihat anak semata wayang mereka Mohammad Yasar Karim yang berumur 4 tahun harus menjadi yatim piatu pada umur sangat muda. Kasih dan perhatian orang tuanya tidaklah lagi ia rasakan, karena mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

Peristiwa kecelakaan Fortuner itu tentu saja mungkin dianggap sebagai peristiwa kecelakaan biasa. Namun sebetulnya peristiwa itu murni human eror yang bisa dihindari dengan intervensi beberapa pihak. Jika pemerintah misalnya cukup tegas soal minuman keras, penyalahgunaan narkoba, jam tutup hiburan malam, pemberian SIM pengemudi yang ketat, peristiwa tragis itu mungkin tidak pernah terjadi. Selain itu didikan yang baik dari orang tua, para pemuka agama, sekolah dan lingkungan juga sangat berperan melahirkan generasi yang baik.

Turut berduka cita kepada para korban




Leave a Reply