JERUK KARO BUKAN LAGI PRIMADONA

0
232

Oleh: Ir. Usaha B. Barus (Kabanjahe)

 

usaha 9Pada tahun 90-an sampai tahun 2010, tanaman jeruk Karo merupakan tanaman primadona di Kabupaten Karo. Ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998 seakan tidak berpengaruh di daerah “Bumi Turang” ini karena peran komoditas tanaman jeruk membuat geliat perekonomian tetap berjalan dengan baiknya. Namun, sejak tahun 2011 dengan mengganasnya serangan hama lalat buah (Bactrocera sp.) pada tanaman jeruk di daerah ini membuat petani jeruk banyak yang bangkrut sehingga sangat mempengaruhi jalannya perekonomian masyarakat secara keseluruhan.


Pada tahun 2010 luas tanaman jeruk yang berproduksi di Kabupaten Karo seluas 10.000 Ha, dengan produktifitas 30.000 kg/Ha/Thn, harga jual rata-rata Rp. 5.000/kg sementara biaya produksi hanya sebesar Rp. 2.000/kg. Semenjak mengganasnya serangan hama lalat buah setiap tahunnya luasan tanaman jeruk yang dipelihara semakin berkurang sampai tahun 2016 ini yang bertahan hanya sekitar 20% saja dan yang masih bertahan dengan produksi 10.000 s/d 15.000 kg/Ha/ Thn dan harga jual rata-rata masih seputaran Rp. 5.000/kg. Itupun dengan biaya produksi yang sangat tinggi (Rp. 4.000/ kg) untuk mengatasi serangan hama tersebut.

Dari data tersebut di atas, maka perputaran uang di tingkat petani jeruk hilang sekitar lalat buahRp. 1,15 T setiap tahunnya. Itu membuat perekonomian di daerah ini secara keseluruhan menjadi lesu.

Tanaman Jeruk Karo saat ini bukan lagi menjadi primadona, bahkan sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagaikan Harimau yang menerkam tuannya sendiri. Kini, sebahagian besar petani jeruk sudah mulai beralih menanam tanaman kopi Arabica di sela-sela tanaman jeruk mereka yang sudah meranggas. Namun, kejayaan tanaman jeruk belum bisa ditandingi oleh tanaman kopi ini.

Merajalelanya serangan hama lalat buah pada tanaman jeruk ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

– Tidak adanya keseriusan Pemkab Karo untuk mengantisipasi penanggulangan hama lalat buah ini.

– Tidak adanya kedisiplinan petani secara serentak pengumpulan buah-buah yang terinfeksi serta membumihanguskannya secara teratur seminggu sekali.

– Tidak mendukungnya iklim untuk memutuskan siklus hidup hama ini dimana curah hujan yang merata di sepanjang tahun akan membuat perkembangbiakan hama lalat buah terus bertambah tanpa terkendalikan lagi bila tidak ada pengendalian.




Beberapa saran saya untuk menanggulangi hama lalat buah ini adalah sebagai berikut:

– Pemkab Karo harus membuat anggaran biaya khusus untuk penanggulangan hama lalat buah serta membuat kebijakan yang tegas terhadap petani jeruk.
– Bentuk Tim Pokja Penanggulangan Hama Lalat buah jeruk dengan melibatkan setiap “Stakeholder”.
– Bagi petani jeruk yang tidak memelihara jeruknya harus ditebang habis agar tidak menjadi sarang hama lalat buah.

Demikianlah tanggapan saya sebagai pemerhati petani jeruk terhadap serangan hama lalat buah di Kabupaten Karo ini, semoga jerit tangis para petani jeruk bisa kita ubah menjadi seyuman yang manis. Bujur ras mejuah-juah.








Leave a Reply