Kolom M.U. Ginting: SANDIWARA PERANG DAN TEROR

0
276

M.U. GINTING 3AS diam-diam mendukung Presiden Suriah agar tetap berkuasa. ”Pemerintah AS kini dikecam karena cenderung tetap menerima Assad sebagai penguasa Suriah,” ditulis di merdeka.com. Pernyataan ini terlihat dari sikap Menlu John Kerry dalam menghadapi perundingan perang Suriah  dan peranan ’penting’ Assad dalam perang itu.

Kelihatan memang bahwa John Kerry ’diam-diam mendukung presiden Suriah’ Assad. Kerry sangat licik dalam usahanya memelihara keseimbangan harga saham fabrik senjata, bikin stabil ’war-based economy’ dan telah meningkatkan laba besar semua perusahaan ’terror-based industry’.

Assad sudah banyak berjasa dalam meningkatkan harga saham industri perang atau war-based industry selama perang Suriah. Dengan memelihara Assad secara diam-diam seperti yang dilakukan oleh John Kerry berarti perang/ teror tak perlu berhenti. Dengan aliran laba yang tinggi dan stabil perusahaan-perusahaan itu tetap jalan dan sangat diuntungkan. Kelihatannya John Kerry sudah kena lobi dari pengusaha besar ’terror-based industry’ atau ’war-based economy’, atau bisa juga Kerry sendiri punya saham di perusahaan-perusahaan itu seperti presiden Bush dulu. 

Lihat juga catatan kenaikan saham Weapons Companies’ Stocks After Paris Attacks di SINIAtau dengan sedikit komentar di miliskaro.

perang 2Semakin kelihatan jelas memang kalau semua pertunjukan itu sandiwara saja, demi peningkatan war­-based economy milik segelintir neolib. Tetapi kalau kita tak mengerti thema sandiwaranya, pasti jadi bingung. Untungnya, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah mengerti thema sandiwaranya dan tak bingung lagi menghadapi perang Suriah, teror ISIS atau tema terorisme pada umumnya, bom paku atau bom canggih, bom Thamrin, Freeport, kasus Setnov, pergantian pimpinan Freeport Papua, dsb.

Publik Indonesia sudah banyak sekali yang paham hakekat persoalannya, atau tema sandiwaranya.

Sekiranya Putin atau Korut juga mengerti, atau satu waktu di masa depan mengerti sandiwara ini (dengan catatan kalau Putin tak cari untung dari fabrik senjatanya) . . . Atau kalau satu waktu ada presiden negara besar yang mengerti soal ini dan berani memaparkan di atas meja di hadapan publik dunia . . . putaran dunia pasti berubah!

Walaupun begitu, sambil menanti presiden yang diidamkan itu, bagi sebagian diantara kita tetap saja menjadi pertanyaan besar yang aktual:

Apakah peningkatan ekonomi bagi sebagian kecil elit itu harus dilakukan dengan mengorbankan sebagian lain yang mati konyol atau saling bunuh sesamanya pakai senjata yang dibeli dari perusahaan elit itu atau pakai bom canggih dari situ sehingga aliran duit ke elit itu tetap terjaga tinggi? 

Atau inikah jalan ke kemajuan dunia demi kesejahteraan kemanusiaan, peningkatan ekonomi dengan menciptakan permusuhan dan perang, dan yang bikin laba besar bagi sebagian kecil?

Saya masih belum bisa mempercayai jalan ini. Biar bagaimanapun, peningkatan kesejahteraan tidak harus dengan pembunuhan atau kematian bagian lain penduduk dunia. Ini kalau ditinjau dari logika yang masuk akal dari segi kejujuran dan ketulusan, sifat orang Indonesia pada umumnya.




Memang, dengan teori penduduk Malthus betul sekali, tak mungkin ada pertambahan kesejahteraan penduduk satu negeri (sekarang seluruh dunia), selama pertambahan penduduk itu tidak seimbang dengan produksi ekonomi. Karena itu, tak sepenuhnya juga salah cara perang (ekonomi) elit neolib itu, dari segi salah satu faktor yang bisa mengurangi penduduk, mengurangi efek buruk dan mematikan dari pertambahan penduduk yang tak terkendali itu, walaupun pertimbangan untung-rugi cara ini masih sangat perlu selalu jadi thema diskusi dan debat.

Pernah ada juga yang mengusulkan dengan bom hidrogen sebagai cara bagus dalam mengurangi penduduk karena bom itu tak begitu merusak bangunan yang sudah ada, hanya memusnahkan sebagian besar manusia. Artinya yang survive dari bom itu nantinya tak punya soal perumahan. Usul ini terlalu extreem tetapi maksudnya mengandung tujuan baik demi perkembangan kesejahteraan manusia dunia yang survive.

Tetapi, persoalan selanjutnya ialah pertambahan penduduk lagi, teori Malthus lagi, dan bom H lagi . . . Dari situ jelaslah juga bahwa bom H ini juga bukan penyelesaian berjangka panjang.

Karena itu juga cara war/ terror-based economy itu masih akan tetap jalan seperti yang telah dipikirkan matang oleh John Kerry. Cara lain atau terobosan lain masih dinanti . . . sebelum itu . . . war atau terrorism masih tetap, sebagai jalan yang paling baik bagi sebagian kecil masyarakat elit dunia. Ini tentu juga bagus, tetapi hanya dalam perbandingan: dari pada tak ada seorangpun di dunia ini yang meningkat ekonominya . . . karena pertambahan penduduk yang tak terkendali dan yang jelas dan sudah pasti mematikan bagi semua penduduk dunia.

 








Leave a Reply