Karo Sejati

1
173

Oleh: Robinson Ginting Munthe (Jakarta)

 

 

robinson muntheKeresahan dan harapan ibu Evelyn Silitonga menanggapi tulisan Abdi Pranata Karo-karo Purba di Sora Sirulo dapat dipahami. Namun, penamaan dan tag line KBB (Karo Bukan Batak) bukan tanpa alasan, yaitu karena sebagian orang non Sumut (orang Minang, Jawa, Sunda, dll), sebagian orang Batak dan sebagian orang Karo sendiri telah terlanjur menganggap orang Karo adalah bagian dari Batak dengan penyebutan Batak Karo.

Karena itu diperlukan tagline yang tegas agar para pihak-pihak tersebut di atas mulai sadar.

Sebetulnya, konten KBB tak lain dan tak bukan berupa mengembalikan marwah dan jatidiri masyarakat Karo yang benar. Kenapa kesannya kok KBB baru akhir-akhir ini ?

tongtong
Penmpilan tari Karo di Tongtong Fair, Den Haag.

Nama KBB barangkali baru terdengar bergaung sekitar 10 tahun terakhir, namun inti gerakan ini (dengan nama dan person yang berbeda-beda) secara sporadis sebetulnya telah berlangsung puluhan tahun, terutama di luar Sumut, namun tidak segencar dan semassif sekarang ini. Intinya, menyurarakan penolakan dan keresahan orang Karo dikategorikan atau disebut sebagai Batak.

Pengalaman-pengalaman sebagai perantau Karo di luar Sumut terutama di Jawa sangat banyak terhadap hal ini. Saya sendiri sebetulnya maklum akan hal ini mengingat populasi Batak 6 kali lebih besar dari Karo, dan Batak telah lebih lama berkelana di perantauan serta lebih banyak sebagai figur publik sehingga otomatis lebih dikenal.




Barangkali di satu sisi orang Batak dalam hati kecilnya merasa “agak superior” dibanding orang Karo dan yakin kalau orang Karo pasti senang jika orang Karo ikut dipanggil/ disebut orang Batak karena “ikut menikmati keterkenalan” orang Batak. Jika ada anggapan itu maka itu adalah anggapan keliru, kecuali mereka yang oportunis ada maunya. Dalam hal ini orang Karo sama sekali tidak bangga “ikut terkenal” karena Batak. Silahkanlah orang Batak menikmati keterkenalannya sendiri, biarlah orang Karo dikenal apa adanya, tak perlu terkenal karena dikerek (didongkrak) orang lain.

Bahwa sebagai etnis bertetangga “ada hubungan istimewa” ketimbang etnis lain tentu hal itu keniscayaan, tapi bukan berarti hubungan bertetangga itu menghilangkan jatidiri salah satunya. Bahwa tetangga terkenal, kita ikut bangga dan senang, tapi bukan berarti kita senang mendompleng atau senang ikut didomplengkan.

Ada pepatah Karo, “ajang nge maka ajang” (hanya milik kitalah milik yang sejati) yang di dalamnya tercermin sifat sejati orang Karo yang tidak suka mendompleng, mempermilik hak milik orang lain.




1 COMMENT

  1. “Silahkanlah orang Batak menikmati keterkenalannya sendiri, biarlah orang Karo dikenal apa adanya, tak perlu terkenal karena dikerek (didongkrak) orang lain.” (RGM)

    ‘Biarlah orang Karo dikenal apa adanya’, mantap!

    Didalam ‘apa adanya’ itu ada segala-galanya! Bahkan banyak sekali yang luar biasa yang tak dimiliki oleh suku lain atau bangsa lain. Dan itu hanya orang Karo yang bisa mengerti dan bisa memperkenalkannya ke seluruh dunia. Dan sudah dimulai oleh orang Karo dalam abad 21.

    Orang Karo tertua di Sumatra, 7400 th penemuan arkeologi fosil DNA Karo dan Gayo di dataran tinggi Gayo (2011).

    Dialektikanya yang sudah tinggi, dialektika pikiran thesis-antitesis-synthesis Karo ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ dan dialektika alam Panta Rei Karo ‘aras jadi namo, namo jadi aras’.

    Karena itu tak mungkin Karo dibatakkan, karena Batak sendiri baru ada di Sumatra sekitar 500-700 tahun lalu, menurut arkeolog yang sama (Ketut Wiradyana dari USU).

    MUG

Leave a Reply