Kolom Asaaro Lahagu: Kalijodo Tutup, Moment Emas Ahok, Lawan Politik Mati Kutu

0
134

Asaaro LahaguTahun 2016 ini, saya sebut tahunnya Ahok. Saya melihat kekuasaan yang telah dibangun Ahok dengan susah payah sebelumnya, sekarang ia nikmati penuh. Ibarat tanaman, tahun 2012, 2013, 2014 dan tahun 2015 adalah musim penderitaan, perjuangan dan pertarungan bagi Ahok. Sekarang pada tahun 2016 ini, musim panen bagi Ahok. Istilah lainnya moment emas Ahok.

Soal penertiban Kalijodo, saya melihat pekerjaan itu cukup mudah bagi Ahok. Walaupun masih belum digusur dan direlokasi, saya perkirakan, pekerjaan itu bukanlah pekerjaan sulit baginya. Dengan taktik dan strategi cerdas yang dipakainya, Kalijodo akan mudah dia ditaklukkan. Itu berkat koordinasi strategis yang telah dia bangun selama ini dengan TNI-Polri.

Banyak pihak mencibir Ahok karena hanya berkoar-koar di Balai Kota mau menggusur Kalijodo tanpa mau turun langsung. Nah ini yang menarik. Mengapa Ahok tidak mengunjungi daerah tersebut? Publik hanya menduga bahwa barangkali Ahok sudah sangat enggan berdialog dengan warga di sana, hanya buang-buang waktu. Atmosfir Kalijodo mungkin sudah dirasuki aura porno. Jadi jelas Ahok malas ke sana dan bahkan merasa ‘jijik’ ke Kalijodo. Ahok berucap: “Ngapain ke sana, mau nonton kungfu?” Kungfu apa? Kungfu dengan PSK atau preman? Tetapi sebetulnya bukan alasan itu.

Ahok sekarang sudah mulai percaya kepada bawahannya. Hal berbeda jika ia memerintah tiga tahun lalu. Bawahannya lamban bergerak atau bahkan tidak kalijodo 7bergeming mendengar perintah Ahok. Sekarang Ahok yakin bahwa bawahannya mampu melakukan instruksinya dengan cepat, benar dan tepat. Nah inilah sisi keberhasilan manajemen galak yang telah dibangun Ahok selama tiga tahun lalu. Sekarang Ahok cukup mengeluarkan perintah maka bawahannya langsung bergerak. Tak ada pertanyaan atau bantahan. Para bawahannya Ahok manggut-manggut saja, berlomba untuk kerja dan unjuk gigi hehe. Sementara Ahoknya cukup santai di Balai Kota sana. Ia cukup mengeluarkan perintah, membuat pernyataan, dan perang psikologis di media massa.

Itulah hasil kerja keras Ahok kepada bawahannya selama tiga tahun: Lelang jabatan, pecat, rotasi, kasih jabatan lagi, pecat, rotasi, ganti dan seterusnya pecat lagi. Data statisitik mengatakan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun, sudah ada 2.500 orang pejabat di DKI dipecat Ahok. Itu pasti angka yang mencengangkan. Hasilnya sekarang, mental pegawai DKI berubah walaupun tidak sepenuhnya namun mental rajanya sudah berkurang hingga 60 persen. Buktinya?

Menanggapi perintah Ahok terkait penertiban Kalijodo, wali kota Jakarta Utara, Rustam Effendi, kebakaran jenggot, semangat 45, langsung bergerak menerjang Kalijodo. Minggu [14/2], Rustam Effendi bersama ratusan Satpol PP, personel TNI dan  Polres Jakarta Utara, menyerbu Kalijodo dengan senjata lengkap. Ahok Kalijodo 6sendiri tidak ikut. Ia hanya memantau di rumahnya atau di mana saja. Begitu kompaknya walikota dengan TNI, Polri dan Satpol PP. Koordinasi mereka pun berjalan  baik dan berhasil membuat preman Kalijodo tidak berkutik.

Ahok pada tahun sebelumnya, telah membina hubungan mesra dengan TNI-Polri. Ahok memberikan dana cukup besar untuk pengamanan ibu kota. Ahok juga ikut membantu isi dompet TNI-Polri dengan memberikan tunjangan. Selain itu Ahok juga membantu Bareskrim Polri dengan meminjamkan kantor milik Pemprof yang tidak terpakai. Hasilnya sekarang, TNI-Polri dengan gampang mendukung segala kebijakannya. Para komandan TNI-Pori juga tentu mengharapkan sesuatu dari Ahok. Bila Ahok menjadi Presiden kelak, maka para komandan itu bisa diusulkan Ahok menjadi Panglima TNI, Menteri, Kepala Staf, Kapolri dan seterusnya. Jadi TNI-Polri telah membaca potensi besar Ahok itu. Ahok pasti ingat, siapa-siapa komandan TNI-Polri yang bisa bekerja sama dengannya.

Maka ketika Ahok mau menggusur Kalijodo dengan alasan wilayah itu jalur hijau, tanah negara, ia panen dukungan dari mana-mana. Dukungan itu mulai dari DPRD DKI Jakarta, para pemuka agama, Menko Luhut, FPI, para penggiat anti prostitusi sampai masyarakat DKI. Praktis tidak ada ormas yang membela keberadaan prostitusi Kalijodo. Dan kalaupun ada pembela, itu sudah tidak waras. Siapa pula yang membela prostitusi, pembela orang yang menduduki tanah negara? Ahmad Dhani coba-coba blusukan ke sana, dan yang ia dapatkan hanyalah cibiran. Abraham Lunggana? Mukanya tidak kelihatan sama sekali. Daeng Aziz pun kecewa dengan Lulung.

Jadi, tahun 2016 adalah tahunnya Ahok. Terkait penertiban Kalijodo, moment emas Kalijodo 5Ahok sedang datang. Penertiban Kalijodo jelas membuat citranya semakin mentereng. Kaum agamis, anti prostitusi akan setuju dengan Ahok yang memberantas prostitusi di Jakarta. Jelas Kalijodo punya nilai politik. Ahok sebelumnya mungkin sedang menunggu moment yang tepat untuk menggusur Kalijodo. Moment itu datang ketika ada pemuda yang kecelakaan mobil, dan beralasan akibat mabuk dari Kalijodo. Ahok pun langsung bertindak dengan taktik yang cerdas. Ahok gunakan Kalijodo untuk membuat dirinya semakin tenar. Para lawan politiknya pun tak berkutik alis mati kutu. Mereka tidak berani membela warga Kalijodo. Karena jika berani membela, hal itu sama saja bunuh diri.

Saya tertarik taktik Ahok dalam menakhlukkan Kalijodo. Pertama, ia menggertak lewat media. Katanya dia akan kerahkan TNI, Polisi disertai tank. Ini perang sebetulnya sebuah psy war. Para preman digertak dan diruntuhkan moralnya lebih dulu. Jelas preman akan ketakutan jika berhadapan dengan TNI, Polisi yang memakai tank. Kedua, Ahok meminta PLN, PAM (kalau ada sambungan) untuk memutuskan sambungan listrik dan air. Jika tidak ada lampu, kebayang nggak situasi cafe di sana?  Para pelanggan Kalijodo yang melalukan wisata lendir di sana akan kesulitan memilih sasarannya jika hanya memakai lampu senter atau lampu teplok misalnya.

Taktik yang ke tiga adalah, Ahok meminta TNI-Polri menutup akses ke Kalijodo. Para tamu yang tidak ber-KTP Kalijodo tidak diperbolehkan ke sana. Nah ini pukulan mematikan. Jelas cafe akan sunyi sepi dan PSK-nya merana karena tak ada tamu yang datang. Ke empat, TNI-Polisi kabarnya akan melakukan razia di Kalijodo sebagai langkah awal penggusuran. TNI-Polisi akan merazia minuman keras tak berijin, lalu merazia senjata tajam. Ke lima, ini tindakan mematikan, razia KTP. Siapa orang yang tidak punya KTP Kalijodo, akan diusir dan diinterogasi. Nah ini membuat PSK, preman, dan siapapun yang tidak punya KTP lari tunggang langgang.




Langkah terakhir sebagai langkah yang ke enam, Ahok akan mengerahkan bulldozer, TNI-Polri dan Satpol PP, untuk meratakan Kalijodo dengan tanah. Ahok bilang, tidak boleh ada bangunan apapun yang berdiri di sana. Tentu saja langkah keenam ini sudah sangat mudah karena telah didahului langkah 1-5. Perlawanan yang ditemui pun sudah berkurang hingga 50 persen. Jelas pekerjaan untuk menggusur Kalijodo lebih mudah dibandingkan penggusuran Kampung Pulo, Season City atau tempat-tempat lain.

Kemarin [Selasa 16/2], aparat gabungan TNI dan Polri telah menutup akses menuju Kalijodo. Para pelanggan sudah tidak bisa masuk lagi ke sana. Kalijodo tinggal menunggu hari. Para pengelola cafe, PSK, mami, preman, mafia dan bos Kalijodo semakin terjepit pelan-pelan. Manufer Daeng Aziz yang mengadu ke sana kemari, sudah tidak lagi berguna. Ia jelas sudah kalah dengan Ahok. Munculnya pengacara warga Kalijodo, Razman Arif Nasution juga tidak ngaruh sama sekali. Baru sehari pun Razman menjadi pengacara, ia sudah berteriak ketakutan agar TNI dan Polri tidak ikut campur.

Nah, sudahlah Daeng Aziz biarkan Kalijodo ditutup, biarkan orang berhenti berbuat dosa di sana, biarkan pertanyaan Ahmad Dhani terbang entah kemana: “Jika Kalijodo ditutup, ke mana orang akan membuang dosa?” Kita pun balik bertanya kepada Ahmad Dhani, jika orang sudah masuk ke lumpur dosa, ke mana ia berteriak meminta pertolongan?







Leave a Reply