Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe: TAROMBO 1

0
210

 

Ita ApulinaITA APULINA TARIGAN. SURABAYA. Kita baru saja berkenalan dengan seorang sastrawan asal Mandailing yang sekarang tinggal di Pekanbaru. Ada 5 puisinya yang kita terima di dapur redaksi. Sejak hari ini, kita akan menaikkan puisinya ini satu per satu setiap harinya.

Di hari pertama ini, kita perkenalkan penulis, sebagai berikut.

Penulis bernama Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Sekarang bekerja sebagai dosen di Smart Fast Education – Pekanbaru.

Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631.

Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Pos Bali, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Muhammad AsqalaniWaspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa,dll.

Memenangkan sejumlah lomba, di antaranya; Juara 1 Baca Puisi Tingkat SMA se-Sibuhuan dalam rangka memperingati Hardiknas (2006), Juara 1 Menulis Puisi Remaja Tingkat Mahasiswa se-Riau yang ditaja Riau Pos (2010), Juara 2 Menulis Puisi se-Nusantara oleh MMG (2011), Juara 2 Baca Puisi “Tanah Air Mata & Gergaji” oleh PENSI BEM UIR (2011), Juara 2 Menulis Puisi di Bulan Bahasa UIR (2013), Juara 2 Menulis Puisi TeraKota (2015), Juara 2 Menulis Puisi di Gerakan Indonesia Menulis oleh Balai Bahasa Riau (2015).

Terangkum dalam puluhan buku: suhufsuhuf kenangan, dari Sragen Memandang Indonesia, Kutukan Negeri Rantau, Ayat-ayat Selat Sakat, Bendera Putih untuk Tuhan, Sepotong Rindu dalam Sarung, Lentera Sastra II, Festival Bulan Purnama Trowulan Majapahit, Negeri Abal Abal, Negeri Langit, Tifa Nusantara 1 & 2, Munajat Sesayat Doa. Juga termaktub dalam buku dwibahasa (Indonesia – Inggris) seperti: Diverse, Flows Into the Sink Into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continent. Buku Puisi Tunggalnya yaitu; Tangisan Kanal Anak Anak Nakal (2012), Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas (2012), ABUSIA (2013), doksologi (2014) dan Anak Luka Susu (2015).




Manuskrip Buku Puisinya “Doa Orang Telanjang” (2015) Menghadiri Pertemuan Penyair di Sragen (2012), Pertemuan Penyair di Tegal (2014), dan Mengikuti Pertemuan Penyair di Tangerang (27-29 Agustus 2015). Pengagum Jean Nicolas Arthur Rimbaud ini, Belajar dan Mengajar di Community Pena Terbang(COMPETER).

 

Tarombo 1

entah dari arah mana, darah di antara kita menemu peta,
dari ujung mata ayahku ke temu pandang ayahmu,
atau ibumu, kakekmu, buyutmu.
hidup yang sudah sepahit pogu, kadang membuat aku ragu,
benarkah setelah tahu seberapa merah muasal darahmu
dan punca darahku, kita benar-benar menyapa
bahkan di pagi buta dan di hadapan segala rahasia?

mungkin aku yang cacat kaucatat, dan kau yang muslihat aku lipat,
dalam kenangan kita bisa saling menggenang, saling merenang,
atau saling merenung untuk kemudian mengikatkan pelukan, sesimpul
darah bisu.

di Febryan 2016




Leave a Reply