Kolom Bastanta P. Sembiring: PEREMPUAN TANGGUH

0
161




bastantaBarusan beberapa perempuan yang kesemuanya sudah ibu-ibu datang ke tempat kakak saya. Tujuan mereka berfoto dan fotocopy KTP mereka. Wajah-wajah letih tampak jelas terpancar. Namun, canda tawa dan senyuman berusaha menutupi pahit dan getirnya kehidupan ini, walau itu tak sepenuhnya berhasil.

Sayup terdengar olehku mereka berkata-kata.

“Ikh! Buat apa pula disuruh berfoto. Di hutan sananya,” kata ibu-ibu itu.

Sambung yang lain: “Kalau mau melamar PNS bolehlah. Ini mengimasnya.”

“Iya. Sudah tidur tadi aku, di sms mandor pula. Disuruh besok bawa foto 4 x 6 dan fotocopy KTP,” sela yang lain.

Perlahan saya pun mendekat. Karena memang sudah saya kenal, tanpa sungkan saya ikut nimbrung dalam obrolan sembari bantu-bantu kakak.

“Mungkin mau dijadikan karyawan tetap, kak,” kataku.

Wajah lusuh mereka tiba-tiba berseri dan saya pun beroleh senyuman seakan tepuk tangan kepada artis yang baru tampil memukau di panggung.

Perempaun-perempuan ini sebagian besar merupakan tulang punggung di keluarga. Bukan karena mereka janda, nuan. Mereka masih bersuami. Oleh karena fungsi perempuan 4bapak/ suami dalam keluarga yang tidak sebagaimana mestinya, membuat perempuan-perempuan ini harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Mereka memang tangguh. Apapun dilakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Mereka adalah buruh harian di salah satu perusahaan pengolahan kayu menjadi bubur kertas.

Pagi, saat yang lain masih di rumah, mereka sudah dijemput untuk disebar di hutan-hutan tanaman industri sebagai tukang imas (membersihkan). Pekerjaan yang keras dan cukup beresiko karena di hutan tanaman industri juga masih ada binatang buas seperti harimau, beruang, buaya, ular, dll. Itu tak pernah terpikir oleh mereka. Yang penting perut terisi dan anak pun bisa bersekolah. Bahkan, beberapa di antara mereka mungkin anaknya sebentar lagi akan menjadi sarjana.

Luar biasa. Sangat kontras dengan pemandangan yang kita lihat di kota-kota atau di medsos yang sebagian besar perempuan-perempuan sekarang malas menyentuh pekerjaan demikian. Mereka memilih mengejar untuk bisa memiliki kulit putih dan mulus, namun anak-anaknya terlantar. Hingga pekerjaan kotor pun kadang dilakukan (laki-laki pun juga banyak sekarang ini yang demikian).

Saya salut dengan apa yang mereka lakukan. Walau banyak mata yang akan berpaling dari wajah kusam mereka.




Leave a Reply