Kolom Darwono Tuan Guru: REPUBLIK ARTIS

1
146





[one_fourth]RESONANSI BERITA HOT[/one_fourth]

Darwono 2“Saya siap jadi jaminan, demi Saipul Jamil bebas,” ujar Dorce usai menjenguk Saipul Jamil, di Polsek Kelapa Gading, Jakarta Utara [Kamis 25/2].

Dorce percaya jika Saipul Jamil tak melakukan pencabulan seperti yang dilaporkan DS.

“Enggak percaya lah. Saya kenal betul kayak apa itu Ipul. Tapi yang penting sabar, ikhlas, karena Allah lagi mencoba melebihi kekuatannya. Kita enggak tahu apa yang akan menimpa kita,” katanya.

Diketahui jika hari itu [Kamis 25/2], pihak Saipul Jamil baru saja mengajukan penangguhan penahanan untuk Saipul Jamil. Kuasa hukum Saipul Jamil, Nazarudin Lubis, mengatakan jika tim kuasa hukum, keluarga serta sahabat akan menjamin kebebasan Saipul.

“Keluarga menjamin, tokoh agama menjamin, teman artis juga menjamin. Kalau kami jamin, saya yakin dikabulkan penangguhan kami,” tutur Nazarudin
(Liputan 6)


[one_fourth]RESONANSI TUAN GURU : Pendidik, dukunglah peserta didik[/one_fourth]

Ketika musim kampanye Pemilu, kita mengenal adanya Partai Artis Nyaleg, ketika seorang artis terlibat dalam tindakan yang terkait dengan pelanggaran hukum, para artis bahu-membahu memberi dukungan, istilah mereka, namun sebenarnya lebih dari itu, mereka mencoba membangun image (Image Development) dan mempengaruhi opini publik (public opinion) bahwa teman artisnya tidak bersalah.

Dari berbagai wawancara pers release, sangat kentara betul bahwa sebenarnya mereka sedang melakukan pembelaan terhadap temannya yang bermasalah. Ujung-DSujungnya opini m beralih, menghakimi mereka yang berhadapan dengan para artis. Ada yang mengecap numpang tenarlah, berusaha memeraslah, hingga carmuk.

Kebetulan kasus yang dihadapi Saipul Jamil berbeda, yang melaporkannya adalah ABG 17 tahun, yang masih di bawah umur dan berstatus sebagai pelajar yang sebentar lagi harus menghadapi ujian sekolah dan ujian nasional.

Tanpa beban masalah saja, peserta didik sudah menanggung beban mental tersendiri untuk menghadapi masa akhir pendidikannya di SMA. Apalagi dengan DS, yang kesehariannya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan demi keberlangsungan sekolahnya dengan menjadi penonton bayaran atau tukang parkir, jelas menanggung beban yang lebih berat.

Maka sangat wajar, jika ketika DS menghadapi realitas 180 derajat yang berbeda dengan yang dibayangkan akan sosok idamannya, DS menjadi syok, trauma dan depresi. Sehingga untuk tampil wajarpun, dia tidak berani. Dari mana kita menilai bahwa DS mencari tenar?




Terkait pernyatan Dorce yang ingin ketemu dengan DS dan ingin menyumpahnya, apakah Dorce tidak punya nurani sehingga ingin menyumpah DS agar dia percaya? Dengan hati nuran, kita bisa beremphati terhadap penderitaan dan kerugian yang dialami DS.

Seperti kasus-kasus sebelumnya yang berhadapan dengan artis, DS kemungkinan akan didiskriditkan oleh mereka atas nama persahabatan sesama artis, dibangun opini umum sehingga masyarakat justru menyudutkan DS yang sudah jatuh tertimpa tangga.

Apakah hanya KPAI yang peduli pada nasib DS karena dia masih di bawah umur (di bawah 18 tahun)? Bukankah DS adalah seorang peserta didik? Di manakah posisi Kemendikbud melihat salah satu peserta didiknya mengalami masalah? Musibah?

Boleh jadi republik ini adalah republik artis, hukum dikendalikan dan dipermainkan oleh para artis, tapi bukankah di negeri ini juga banyak pendidik, guru, ulama, ustadz? Apakah seorang dhaif yang bernama DS tidak seharausnya mendapatkan dukungan ful dari mereka?

Ayo, para pendidik, pedulilah kepada peserta didik yang sedang mengalami musibah. Semoga dukungan para pendidik akan meluruskan hukum sehingga tegak berdiri adil bukan berdiri di atas opini publik yang dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu.




1 COMMENT

Leave a Reply