Tumbuhan Obat Karo

0
2839

Oleh: Esra Barus (Medan)




Esra BarusSuku Karo telah menggunakan tumbuhan dalam mengobati berbagai jenis penyakit sejak dahulu kala. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tetap dipertahankan oleh warga Suku Karo di pedesaan maupun di kota. Mereka memanfaatkan tumbuhan obat tradisional yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.

Dari sekian banyak tumbuhan obat tradisional ada beberapa tumbuhan yang telah diuji secara ilmiah dan penggunaannya dapat dipertangggungjawabkan secara medis. Penggunaan tumbuhan obat tidak kalah saing dengan obat-obatan modern karena adanya keyakinan bahwa pengobatan dengan tumbuhan lebih aman dan dapat mengurangi efek samping pada tubuh manusia dibanding obat-obatan sintetis.

surat dibata
Tumbuhan ini bernama Surat Dibaa atau Surat-surat Dibata yang artinya tulisan/ suratan Tuhan.

Tidak hanya Suku Karo yang memanfaatkan obat-obatan tradisional Karo ini. Masyarakat di perkotaan semakin tertarik dengan obat-obatan Karo. Contohnya minak alun atau dikenal dengan minyak Karo atau juga Minak Kem-kem. Menurut mereka, obat Karo cepat mengobati penyakit dan harganya relatif murah. Namun, banyak juga yang enggan menggunakan obat tradisional Karo karena belum terjamin halal dan mereka berkeyakinan dalam pembuatan obat tradisional Karo berkaitan dengan mistis.

Dahulu, manfaat tumbuhan obat dapat diketahui oleh guru penawar (pertawar) yaitu penyembuh dengan menggunakan ramuan tumbuhan obat. Hal ini diyakini sampai sekarang hanya guru (dukun) yang dapat meramu tumbuhan obat. Beberapa orang dapat meramu obat tradisional berdasarkan pengalaman dan belajar kepada peramu tanpa harus melakukan kegiatan mistis seperti mengundang makhluk halus.

Penelitian inventarisasi tumbuhan obat telah dilakukan di berbagai hutan di Taneh Karo karena sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai ramuan berasal dari hutan. Inventarisasi tumbuhan obat telah dilakukan di kawasan Gunung Sibuatan, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan, dan beberapa lokasi lainnya.

obat karo 7
Penjual berbagai ramuan obat tradisional Karo siap pakai di Pekan Pancurbatu (Karo Hilir). Ada yang bebentuk minuman jamu (tawar), param (minak), pupur (kuning), dan meniran (sembur).

Berikut jenis-jenis tumbuahan obat di Karo:
Arbei Obat-mata
Belo-belo-Luka Bengkak
Besi-besi-Untuk penyembahan
Bidara-Obat ambeyen
Bunga Kiung-Obat gatal-gatal
Bunga Kacar-Sebagai penyegar
Bunga Sapa-Obat bisul
Cekala-Obat batuk
Cingkam-Obat maag
Gagatan Harimau-Obat sakit perut
Kambing-kambing-Obat sakit perut
Kayu Manis-Obat mencret
Kelsi Obat-gatal-gatal
Kembang Sepatu-Obat demam
Kemenyan-Obat gatal-gatal
Ketang/Rotan-Obat sakit perut
Kulit Labang-Obat amandel
Kumis Kucing-Obat angin duduk
Lancing-Obat terkilir
Lenga-lenga-Masuk angin, pegalpegal
Meniran-Antibiotik
Pecah Pinggan-Menyegarkan tubuh
Pegaga-Menurunkan gula darah
Pia-pia-Menurunkan tensi
Pinus-Obat sakit gula
Sabi Kabang-Mengeringkan luka sayatan
Salagundi-Obat mata
Sayat-sayat-Obat sakit gigi
Senduduk-Obat amandel
Sibagori-Obat sakit gigi
Sigaramata-Obat sariawan, Panas dalam
Singkut-Obat mata
Surat-surat Dibata-Obat keracunan
Surindan-Obat kanker
Tenggiang-Obat Luka
Terbangun Gara-Sakit mata dan masuk angin
Terbangun Ratah -Obat panas dalam

Data di atas berdasarkan penelitian Riwanda Sembiring di Hutan Pendidikan Universitas Sumatera Utara Tahura Tongkeh (2013). Tumbuhan Obat merupakan bagian dari Hasil Hutan Non Kayu. Oleh karena itu, jika masyarakat lebih sering memanfaatkan tumbuhan obat daripada kayu dari hutan maka hutan tersebut dapat lestari.

Foto Head Cover (Sada Arih Sinulingga): Sebuah kios di Pekan Pancurbatu yang menjual daun ramuan obat dari hutan beserta berbagai bahan lainnya dan rmuan obat yang siap pakai. Kios seperti ini dapat juga kita temukan di pasar-pasar tradisional Karo lainnya di Karo Hilir seperti Delitua, Kuala, dan Marike serta di Dataran Tinggi Karo seperti di Berastagi dn Kabanjahe.



Leave a Reply