Kolom Darwono Tuan Guru: Pilkada DKI dan Isu Abah

0
154




Darwono 2Pilkada terutama Pilkada DKI semakin dekat, bursa Cagub/ Ccawagub terus bergema. Silih datang berganti, patah tumbuh hilang berganti pasangan Cagub Cawagubnya. Banyak momen yang digunakan sebagai ajang launching (tepatnya mencoba launching) dari pasangan-pasangan yang muncul tadi. Di samping mencoba mengenalkan melalui anak media, juga disampaikan kesepakatan-kesepakatan, seperti yang terjadi pada bakal calon Gubernur DKI Jakarta Yusril Ihza Mahendra dan Ahmad Dhani sepakat untuk saling mendukung saat maju dalam pentas Pilgub DKI tahun 2017 mendatang.

Begitu banyak perdebatan Pilkada DKI 2017 yang terjadi di media massa dan sosial media, namun ada hal yang sama dalam kampanye-kampanye prematur itu dengan segala kontroversinya, yakni ada main stream bahwa nampak jelas adanya Strategy ABAH, Strategy Asal Bukan Ahok.

Dalam pandangan penulis,  hal ini merupakan bentuk ketakutan berlebihan, sebegitu hebatkah Ahok di mata mereka sehingga perlu mengeroyok ? Atau sebaliknya, sebegitu kerdilkah mereka sehingga tidak berani melawan dengan dirinya? Tidak yakin kah mereka dengan kekuatan mereka? Bagi mereka yang mengusung Cagub/ Cawagub Islam, dapat dipertanyakan, apakah mereka tidak yakin kepada ayat al Qur’an “kam min fiatin qolilqti holabat fiatin katsirotin” berapa banyak kelompok kecil dapat mengalah kelompok besar?

Keyakin kaum muslimin selama ini adalah yang maha besar, maha kuat hanyalah Allah. Allahu akbar, selain dari Allah adalah kecil. Hanya Allah yang tidak bisa Ahok 12dikalahkan. Namun sayang keyakinan itu kelihatannyannya tidak mewujud dalam langkah perjuangan. Sebagai kaum beriman hal ini tentu sangat disayangkan. Strategy Asal Bukan Ahok bisa menghancur leburkan idealisme dan tujuan mulia.

Penulis melihat, banyak hal yang dapat dilakukan untuk bisa memenangkan Pilkada DKI 2017 melawan calon incumbent. Kajian kritis kepemimpinan Ahok yang obyektif, melalui hal nyata yang ada di DKI, sangat potensial untuk sesuatu yang jauh lebih bagus dengan apa yang dilakukan Ahok. Jauhkan melibatkan emosional apalagi sentimental SARA dalam mengkritisi apa yang telah dilakukan Ahok selama ini.

Sudah barang tentu, untuk mengalahkan sebuah pertarungan, tidak dapat sekedar membangkitkan sentimen keagamaan, yang justru bisa jatuh pada isue SARA yang bisa dipukul balik dengan telak. Asal Bukan Ahok karena Ahok Cina kafir hanya akan memperkuat soliditas dan perlawanan dari mereka yang anti SARA.  Gunakan strategy yang cerdas, permainan yang cantik dan tampilan mempesona (maaf tidak penulis sampaikan contohnya di sini).




Pengeroyokan akan mengokohkan  posisi lawan sebagai pihak yang kuat dan tak terkalahkan! Memposisikana lawan sebagai pihak yang terkalahkan akan menyerap energi dan spirit perlawanan. Di samping itu, juga menjadi kampanye gratis bagi pihak Ahok dengan diposisikan seperti itu.

Sekali lagi, bergeraklah dengan strategis, banyak cara elegan untuk sebuah pertarungan. Menyerang, memojokan apa lagi mendzalimi tak akan pernah membawa hasil. Jika Strategy itu yang digunakan, maka berarti memang mereka  TIDAK LAYAK menjadi pemimpin di negeri ini, sebab tidak memahami psiko-sosiologis masyarakat kita, yakni “MASYARAKAT ANTI KUYA KUYA”, justru mereka yang dikuya-kuya mereka yang akan jaya. Banyak contoh, mereka yang dikuya-kuya justru memenangkan karena mendapat simphati pemilih. Bahkan  strategi sebagai pihak yang “didzalimi” sering digunakan sebagai strategy dalam pertarungan pemilihan.

Kita bisa melihat, betapapun tingginya ilmu, betapapun panjangnya gelar, tanpa memahami “denyut nadi” masyarakat maka dipastikan akan gagal menjadi pemimpin dari masyarakat tersebut. Dan untuk memahami denyut jantung rakyat, tidak bisa kita diam pada zona nyaman di kursi empuk menara gading. Ada di tengah tengah masyarakat berbagai latar belakang adalah kunci memahami beragamnya denyut jantung kehidupan masarakat.




Leave a Reply