Bahasa Menyenangkan Tak Tentu Benar (Menjelang Pemilihan Kepala Desa di Deliserdang)

0
156

Catatan: Imanuel Sitepu 





Imanuel SitepuHati-hati dengan orang yang hanya menyuarakan bahasa menyenangkan. Pasalnya, seseorang yang berkata dengan bahasa menyenangkan, pada dasarnya memiliki tujuan dan maksud atau kepentingan. Di sisi lain, saat ini sulit sekali mencari orang yang berani membangun sebuah kebenaran. Meskipun seseorang telah terbukti berbuat kesalahan, namun bila ia mengungkapkan dengan kata menyenangkan, orang tersebut justru malah dibenarkan.

Sementara, apa yang telah ia lakukan, membunuh karakter orang yang berani membangun kebenaran. Ironis memang…

Hal tersebut bisa diamati di lingkungan sekitar kita. Pada kenyataanya, kita akan lebih condong membela dan menuruti niat orang yang jelas-jelas telah berbuat salah karena ucapan yang dikeluarkan menyenangkan kita. Disadari atau tidak disadari, kita malah sering melakukan atau memberikan kesaksian mendukung orang yang hanya melontarkan bahasa menyenangkan. Padahal, perbuatan tersebut adalah salah satu tindakan yang amat kejam.

Soalnya, perbuatan yang hanya mengeluarkan bahasa menyenangkan, telah menutupi kebenaran dan keadilan.

Dari keterangan di atas, dapat kita ambil kesimpulan, kalau pada kenyataannya, kita jarang berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan. Mungkin, salah satu penyebabnya karena memang kita memiliki watak dan sifat yang dibatasi oleh adat istiadat atau juga karena kita dipengaruhi budaya bahasa yang menyenangkan. Oleh karena itu, tanpa kita sadari, dari ucapan bahasa menyenangkan tadi, sering juga menimbulkan penderitaan bagi orang lain.

Mirisnya lagi, orang yang berani membangun fakta kebenaran dan keadilan, justru malah sulit diterima masyarakat awam. Hal itu ditengarai karena masyarakat awam, pada umumnya hanya menyantap bahasa menyenangkan setiap hari. Padahalan, orang yang berani membangun kebenaran dan keadilan, secara langsung atau tidak langsung, akan menguntungkan bagi semua orang. Akan tetapi, hal-hal yang demikian, tidak pernah menjadi perhitungan bagi orang yang telah terbiasa mengkonsumsi bahasa-bahasa yang sebenarnya hanya menyenangkan.

Artinya, orang yang tidak pernah melihat atau memperhatikan suatu kebenaran, namun tetap berpedoman pada bahasa yang menyenangkan, orang tersebut kerab terlihat memutarbalikan fakta bahasa orang yang berani membangun kebenaran. Dengan demikian, kebenaran dan keadilan masih sulit untuk dibangun dan dipertahankan.

Oleh karenanya, masyarakat diminta untuk bijaksana dalam memilih. Pilihlah calon peminpin yang berani membangun kebenaran dan keadilan. Bukan yang hanya pintar mengeluarkan bahasa menyenangkan.




Leave a Reply