Kolom W. Wisnu Aji: AHOK MILIH JALUR INDEPENDEN, ANTARA BERJUDI PELUANG DAN BLUNDER POLITIK

0
166




wijayanto 8Akhirnya, setelah didesak komunitas relawan “TEMAN AHOK ” Koh Ahok memutuskan maju di bursa Pilgub DKI melalui Jalur Independen. Di satu sisi, ini adalah optimisme Ahok dalam berjudi peluang melalui jalur independen. Namun, di sisi lain, langkah tersebut merupakan blunder politik di tengah bertubi-tubinya serangan lawan politik Ahok terhadap langkah politiknya menyongsong Pilkada DKI.

Dalam diskusi kami, ada beberapa analisa yang sangat mempengaruhi berjudinya Ahok dalam dinamika politik jelang Pilkada yang begitu panas dan kencangnya akhir-akhir ini.

Ada 5 catatan penting dalam melihat perspektif langkah Ahok maju Jalur Independen dengan berjudi langkah karena desakan relawan “Teman Ahok” . Pertama, Ahok bersama “Teman Ahok” harus mengumpulkan ulang tandatangan dukungan pasangan calon yang tadi pagi sudah resmi diumumkan bersama Cawagubnya Heru Budi Hartono.

Heru
Heru Budi Hartono.

Andaikan KPUD secara resmi mengumumkan lolosnya calon independen harus didukung 600.000 KTP warga Jakarta, maka Ahok bersama “Teman Ahok” harus mengumpulkan minimal 750.000 KTP atau asumsinya anggap sama jumlahnya yang telah dikumpulkan sekarang mencapai 800.000 KTP dukungan. Maka, “Teman Ahok” harus mengulang dukungan. Kalau verifikasi calon independen bulan Juni berarti dalam 100 hari ke depan, per hari harus mengulang dukungan pasangan Ahok terkumpul 7.500 dukungan warga Jakarta. Berarti, butuh strategi luar biasa dengan menggerakkan relawan, PNS, pendukung Parpol tanpa syarat (Nasdem dan Hanura) serta warga yang rela mengulang dukungan.

Jika tidak tercapai, maka salah satu tahapan awal yang menghabiskan energi besar akan sia-sia dan menutup peluang Ahok jadi Cagub DKI 2017.

Ke dua, andaikan terpenuhinya syarat pasangan Ahok sebagai pasangan calon perseorangan, maka tahapan verifikasi KTP dukungan oleh KPUD DKI akan menjadi tahapan berikutnya yang sangat rawan akan intervensi politik dari manapun; baik itu KPUD nya maupun warga Jakarta yang sengaja membelokkan pengaruh dukungan politiknya ketika verifikasi KPUD dilakukan.

Perlu diingat, bulan April hingga Juni para pasangan Cagub lawan Ahok sudah mendeklarasikan diri dan rata-rata hampir semua ingin menjegal Ahok lolos melalui Jalur Independen. Permainan mereka melakukan propaganda massif di tingkat akar rumput yang ujungnya berpengaruh pada hasil akhir lolos tidaknya pasangan Ahok maju melalui Jalur Independent lewat pengumuman keputusan KPUD.

Ke tiga, ketika semua lawan politik Ahok berbasis partai sudah ditentukan melalui pengumuman resmi KPUD maka pertempuran riil terjadi di tingkat akar rumput yang kebiasaannya kemenangan ditentukan 5 hari jelang coblosan. Para pasangan calon berbasis partai akan mengandalkan mesin politik berbasis serangan udara dan darat teman ahokserta gerilya jelang pencoblosan. Sedangkan “Teman Ahok ” lebih condong hanya mengandalkan serangan udara (lewat media sosial) serta sedikit serangan darat dan gerilya sektor.

Belajar dari pengalaman Jokowi-Ahok sebelumnya, dimana kemenangan hasil kombinasi antara relawan serta mesin propaganda Parpol, maka peluang berjudinya Ahok di Jalur Independen sangat tinggi resikonya.

Ke empat, meskipun relawan “Teman Ahok” adalah peleburan dari relawan Jokowi dulu, menurut data yang kami punya hampir 60% relawan Jokowi belum rela kalau Ahok maju lewat Jalur Independen. Pertimbangannya, butuh energi extra untuk memenangkan pertarungan dan politik. Bukan hanya soal adigang adigung adiguna ketika sudah berada di atas angin, tapi gimana keinginan relawan Jokowi untuk merangkul semua pihak termasuk partai politik dalam memenangkan pertempuran dengan cara yang cerdas dan elegan.

Prinsipnya membangun Jakarta bukan hanya soal idealisme “Teman Ahok” tapi bagaimana merajut kemenangan dengan mensinergikan seluruh potensi Jakarta termasuk merangkul partai politik demi Jakarta maju ke depannya.

teman ahok 2Ke lima, Ahok akan lebih berjudi ketika menentukan PNS sebagai Cawagubnya karena secara internal birokrasi Pemda DKI masih terjadi gejolak ketika yang dipilih Heru. Sedangkan di sisi lain ganjalan akan semakin deras dari internal birokrasi yang dimotori barisan sakit hati, yang kecewa terhadap kebijakan Ahok terkait mutasi, promosi dan punishment terhadap internal birokrasi.

Selain berjudi langkah terhadap pilihan Jalur Independen, dalam analisa kami, Ahok juga melakukan blunder politik secara fatal dimana seolah-olah kacang lupa akan kulitnya dengan melupakan partai pengusung utama yang dulu pernah memenangkan Ahok.

Belajar dari pengalaman Bibit Waluyo saat mencalonkan diri sebagai incumbent periode ke dua Pilgub Jateng, dimana saat itu dukungan deras mengalir dari seluruh penjuru Jateng, bahkan partai politik manapun kepincut untuk meminangnya, tapi ternyata melupakan komunikasi dengan partai pengusung utamanya dulu. Akibatnya, beliau tersungkur dalam pertarungan Pilkada Jateng yang dimenangkan Ganjar Pranowo yang mampu mensinergikan seluruh kekuatan Jateng.

Kembali ke soal Pilkada DKI yang salah satu syaratnya harus meraup 50% plus satu untuk dinyatakan menang, kalau Ahok tidak mampu menjalin komunikasi dengan seluruh stakeholder Jakarta termasuk partai politik maka kekuatan relawan “Teman Ahok” akan mudah dibombardir oleh pihak lawan politik bahkan oleh mesin politik partai politik yang sudah mengakar.

Mumpung belum terlambat, segera rangkul komunikasi dengan semua pihak termasuk partai politik, sebelum tahapan Pilkada DKI dilaksanakan agar blunder politik bagi Ahok tidak berlanjut karena menuruti idealisme “Teman Ahok”.

‪#‎SalamPencerahan‬

Semarang ,08 maret 2017

DIREKTUR CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)




Leave a Reply